Klaim Vape Tidak Bikin Diabetes, Komnas PT Sebut Industri Rokok Sesatkan Publik

Jumat, 16 Oktober 2026 | 13:06 WIB
Ilustrasi dibuat dengan bantuan Gemini AI
Ilustrasi dibuat dengan bantuan Gemini AI

RIWARA.id – Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) memperingatkan masyarakat atas maraknya klaim yang menyebut penggunaan vape atau rokok elektronik tidak terbukti menyebabkan diabetes. Klaim yang disebarkan melalui siaran pers asosiasi industri tersebut dinilai menyajikan hasil penelitian secara tidak utuh sehingga berpotensi menyesatkan publik dan memengaruhi kebijakan kesehatan nasional.

Sorotan tersebut mengemuka usai munculnya pemberitaan di sejumlah media nasional pada 9 Oktober 2026. Pemberitaan yang bersumber dari siaran pers Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) tersebut mengutip meta-analisis internasional karya Adebisi dan kawan-kawan berjudul “Association between electronic cigarette use and prediabetes, diabetes, and insulin resistance: a systematic review and meta-analysis” di jurnal Internal and Emergency Medicine edisi Juni 2026.

Namun, Komnas PT menegaskan bahwa isi jurnal ilmiah tersebut justru menunjukkan fakta sebaliknya. Hasil kajian menemukan bahwa pengguna vape eksklusif memiliki peluang 34 persen lebih tinggi mengalami prediabetes serta 37 persen lebih tinggi mengalami resistensi insulin jika dibandingkan dengan orang yang tidak pernah mengisap vape.

Dua kondisi medis tersebut merupakan bentuk gangguan pengaturan gula darah yang menjadi alarm awal peningkatan risiko diabetes tipe 2. Pengurus Komnas PT, Risky Kusuma Hartono, PhD, menjelaskan bahwa resistensi insulin kerap berkembang secara bertahap tanpa memicu gejala langsung yang disadari oleh penderitanya.

Selain pada pengguna tunggal, penelitian itu turut mengungkap bahwa orang yang mengisap vape sekaligus tetap merokok konvensional memiliki peluang 23 persen lebih tinggi untuk menderita diabetes. Fenomena penggunaan ganda ini dinilai sangat krusial mengingat angka perokok aktif yang juga mengonsumsi vape di Indonesia masih amat tinggi.

"Secara akademis, belum terbuktinya vape menyebabkan diabetes bukan berarti vape aman. Jika media hanya menyoroti kesimpulan bahwa vape tidak terbukti menyebabkan diabetes, sementara temuan penting lainnya tidak disampaikan, masyarakat bisa mendapatkan pemahaman yang keliru," tegas Risky usai mengkaji publikasi riset tersebut.

Di samping persoalan tafsir data medis, Komnas PT turut menyoroti rekam jejak dan independensi para peneliti yang terlibat. Salah satu peneliti, Prof. Riccardo Polosa dari University of Catania, Italia, dikenal aktif dalam kampanye Tobacco Harm Reduction (THR) serta memiliki riwayat keterkaitan pendanaan dengan industri tembakau.

Dalam ekosistem riset THR, terdapat organisasi Global Action to End Smoking (GAES)—sebelumnya bernama Foundation for a Smoke-Free World (FSFW)—yang didirikan melalui pendanaan dari produsen tembakau multinasional Philip Morris International (PMI). Keterikatan ini dinilai krusial untuk dicermati guna menilai potensi bias pada riset yang dipakai untuk memengaruhi kebijakan publik.

Mengenai angka relatif 1,04 pada pengguna vape murni yang sering dijadikan tameng oleh industri, Komnas PT menyebut angka tersebut tidak bisa diartikan "aman". Angka di atas 1 tetap mengindikasikan kecenderungan risiko yang lebih tinggi, bahkan perhitungannya masih membuka peluang kenaikan risiko diabetes hingga 16 persen secara statistik.

"Ketika penelitian hanya dikutip sebagian dan disebarluaskan berulang kali, publik dapat digiring untuk percaya bahwa vape tidak berisiko. Lebih berbahaya lagi jika narasi tersebut mengecoh pengambil kebijakan hingga kepentingan bisnis industri lebih diutamakan daripada keselamatan masyarakat," ujar Sekretaris Jenderal Komnas PT, Tulus Abadi.

Risiko kesehatan ini beririsan dengan temuan pengujian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang disampaikan pada 29 September 2026. Ketua BRIN Arif Satria mengungkapkan indikator yang dikaitkan dengan diabetes ditemukan pada 100 persen sampel yang diuji, sementara dampak kerusakan paru-paru terdeteksi pada 92 persen sampel.

Guna memperkuat bukti ilmiah dalam negeri, Komnas PT mendorong BRIN untuk segera mempublikasikan metode serta data penelitiannya secara terbuka kepada publik. Di sisi lain, Komnas PT menyatakan dukungan penuh terhadap rencana Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk melarang peredaran rokok elektronik, terutama karena perangkat vape kini marak disalahgunakan sebagai media penyebaran cairan narkotika terlarang.(*)

Komnas PT menilai klaim vape tidak bikin diabetes menyesatkan publik. Hasil riset justru tunjukkan risiko prediabetes naik 34 persen.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories