RIWARA.id – Maestro tari Indonesia Mugiyono Kasido kembali mengukir prestasi di kancah internasional lewat penampilan memukau dalam safari budayanya di Denmark. Pembawaan cerita Topeng Panji yang dipentaskan seniman asal Solo ini berhasil menyihir publik Eropa melalui pendekatan seni visual yang menyegarkan.
Pementasan yang memboyong karakter Topeng Panji ini menandai babak baru penjelajahan artistik Mugi—sapaan akrab Mugiyono Kasido—di pentas dunia. Seniman yang telah melanglang buana ke 27 negara tersebut menghadirkan pertunjukan kontemporer tanpa kehilangan roh kebudayaan Jawa.
Berbeda dari pertunjukan tradisional yang umumnya menggunakan busana batik, Mugi mengeksekusi karakter Panji dalam balutan overall berwarna merah cerah. Sentuhan gaya busana modern ini berhasil memberikan kesan kekinian sekaligus relevan bagi audiens mancanegara.
Selama berada di Kota Aarhus, Mugi tampil sebanyak dua kali di Gedung Turkis yang merupakan pusat kegiatan kesenian setempat. Dalam pementasan tersebut, ia berkolaborasi dengan seniman musik asal Denmark, Jonas Stampe.
Penonton dibuat terpesona oleh aksi panggung Mugi yang penuh kejutan serta teknik ilusi gerak yang matang. Peralihan karakter saat pengenaan topeng dilakukan sangat cepat hingga memancing decak kagum penonton yang memenuhi aula pertunjukan.
"Penonton kaget ketika saya menari dan kemudian wajah saya tengokkan ke belakang sebentar dan ketika kembali menghadap penonton, saya sudah bertopeng," ujar ayah tiga anak tersebut, Senin (12/10/2026).
Dalam penampilan di Gedung Turkis, Mugi membawakan Topeng Panji yang mencerminkan karakter halus dan filosofis. Tidak hanya tampil tunggal, ia juga terlibat dalam kolaborasi lintas negara bersama seniman asal Zimbabwe, Jepang, Turki, hingga Denmark.
Eksplorasi seni Mugi berlanjut saat tampil di Gedung Sound Artlab. Di lokasi ini, Mugi menyajikan pertunjukan unik dengan iringan tata suara (soundscape) hasil instalasi Jonas Stampe yang menangkap bunyi lingkungan luar gedung secara langsung menggunakan perangkat khusus.
Penggunaan respons suara lingkungan tersebut menghadirkan tantangan tersendiri selama pertunjukan berlangsung. Iringan musik tarian berubah secara dinamis menyesuaikan kondisi cuaca dan lalu lintas di luar gedung pada saat pementasan.
"Jadi antara latihan dan pentas, bunyi iringannya bisa berbeda karena tergantung situasi cuaca sekitar yang ditangkap, ini pengalaman baru bagi saya," tutur penari yang pernah menorehkan rekor menari 36 jam nonstop ini.
Rangkaian pentas Mugi di Denmark ini merupakan bagian dari lawatan budayanya yang dimulai sejak awal September 2026. Selain pementasan tari topeng, Mugi juga membawa seni wayang kulit untuk mengenalkan kekayaan tradisi Nusantara kepada masyarakat Eropa.
Melalui pendekatan yang inklusif dan kolaboratif, Mugi menegaskan bahwa Topeng Panji bukan sekadar warisan sejarah masa lalu. Karya ini berhasil dibuktikan sebagai identitas seni dinamis yang mampu beradaptasi dan diterima secara luas di ranah global. (*)
Catatan hasil pentas Topeng Panji di Denmark Mugiyono Kasido. Sang maestro berhasil memukau publik Eropa dengan balutan seni kontemporer.