RIWARA.id – Kebutuhan tidur memiliki peran yang sangat krusial bagi pertumbuhan fisik, perkembangan fungsi otak, hingga stabilitas kesehatan bayi secara menyeluruh.
Kendati demikian, orang tua sering kali merasa khawatir saat mendapati buah hati mereka berulang kali terbangun pada malam hari.
Kondisi bayi yang hanya mampu terlelap kembali setelah digendong atau disusui kerap menjadi tantangan tersendiri dalam pengasuhan harian.
Fenomena sering terbangun di tengah malam sebenarnya merupakan fase fisiologis yang normal dalam perkembangan pola tidur bayi.
Struktur dan durasi siklus tidur anak-anak memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan pola tidur orang dewasa.
Sebagaimana dikutip dari kemkes.go.id, siklus tidur bayi tergolong lebih pendek sehingga memicu fase terbangun singkat (brief awakening) di antara pergantian siklus.
Sistem saraf serta ritme sirkadian tubuh bayi yang masih berkembang membuat mereka menghabiskan waktu lebih banyak pada fase tidur ringan (Rapid Eye Movement).
Faktor lain seperti rasa lapar, dorongan tumbuh gigi, hingga kecemasan berpisah (separation anxiety) turut memicu bayi terbangun dan mencari kehadiran orang tua.
Kesiapan bayi untuk mulai melatih keterampilan tidur mandiri secara bertahap umumnya mulai dapat dikenalkan saat menginjak usia 6 hingga 9 bulan.
Orang tua dapat menstimulasi ritme biologi anak dengan mengenalkan perbedaan suasana siang dan malam secara konsisten di rumah.
Penerapan rutinitas sebelum tidur (bedtime routine) yang teratur, seperti memandikan air hangat hingga meredupkan lampu, efektif menjadi sinyal waktu beristirahat.
Proses latihan ini bukan berarti membiarkan anak menangis tanpa pendampingan, melainkan mengurangi bantuan fisik secara perlahan sembari menjaga lingkungan tidur yang aman dan kokoh. (*)
Pola tidur bayi berbeda dari orang dewasa. Simak panduan medis melatih anak tidur mandiri secara aman dan efektif di sini.