SOLO, RIWARA.id – Suasana Kota Solo berlangsung semarak saat Pakubuwono Street Parade Festival 2026 digelar pada Sabtu, 2 September 2026. Festival marching band dan drum band tersebut diselenggarakan Karaton Surakarta Hadiningrat bersama Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Kota Surakarta.
Rangkaian parade dimulai dari kawasan Ngarsopuro, kemudian bergerak menuju Alun-Alun Utara Karaton Surakarta dan berakhir di Pagelaran Karaton Surakarta Hadiningrat. Ribuan peserta, pendamping, dan masyarakat turut menyaksikan penampilan para peserta yang datang tidak hanya dari Kota Solo, tetapi juga sejumlah daerah di sekitar Solo Raya.
Festival tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, kedisiplinan, serta kekompakan melalui seni marching band dan drum band.
Perwakilan Karaton Surakarta sekaligus cucu Pakubuwono XII (PB XII), BRAY. Salindri Kusumo Dyah Ayuningrum, mengatakan kehadiran dan dukungan SISKS Pakubuwono XIV menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda.
“Dukungan Pakubuwono XIV di acara Pakubuwono Street Parade Festival 2026 yang terselenggara di Pagelaran Karaton Surakarta Hadiningrat. Sinuwun ke-14 atau PB XIV yang sebelumnya bernama KGPH Hangabehi turut hadir dan memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan festival ini,” kata Salindri kepada awak media, Sabtu (12/9/2026).
Menurutnya, dukungan tersebut menunjukkan komitmen Karaton Surakarta dalam memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkarya sekaligus mendorong generasi muda agar terus mengembangkan potensi yang mereka miliki.
“Ini merupakan bentuk apresiasi terhadap semangat warga Kota Solo dalam berkarya dan mengembangkan kreativitas melalui seni dan pertunjukan. Pagi ini ada marching band dan drum band yang diikuti beberapa sekolah, mulai tingkat SD, SMP hingga SMA,” ujarnya.
Peserta festival, lanjut Salindri, tidak hanya berasal dari Kota Solo. Sejumlah kontingen juga datang dari daerah sekitar, antara lain Wonogiri, Karanganyar dan wilayah lainnya.
Bagi Karaton Surakarta, keterlibatan anak-anak dan pelajar dalam festival semacam ini memiliki arti penting. Seni pertunjukan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana pembentukan karakter, kedisiplinan, keberanian dan kerja sama.
“Pakubuwono XIV memberikan ruang kepada para generasi penerus ini untuk tetap berkarya dan berkreativitas mengembangkan bakat-bakat mereka. Para generasi muda ini merupakan bagian penting untuk menjaga kelestarian budaya kita,” jelas Salindri.
Ia berharap para seniman, komunitas, pelajar dan generasi muda Kota Solo terus memiliki ruang untuk berekspresi dan berkolaborasi.
“Melalui festival ini diharapkan para seniman dan komunitas Kota Solo serta para generasi muda terus mengembangkan diri, tetap berekspresi dan berkolaborasi untuk memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat luas,” katanya.
Salindri menambahkan, Pakubuwono Street Parade Festival 2026 diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya, sekaligus membangun semangat kebersamaan masyarakat.
“Harapannya semoga Pakubuwono Street Parade Festival 2026 dapat menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan terhadap budaya, mendorong kreativitas anak muda dan membangun semangat kebersamaan masyarakat Kota Solo untuk kemajuan budaya dan bangsa kita,” pungkasnya.
SD Warga Bawa Pulang Sejumlah Penghargaan
Semarak Pakubuwono Street Parade Festival 2026 juga menjadi panggung prestasi bagi SD Warga. Kontingen sekolah tersebut berhasil menorehkan sejumlah prestasi dalam kategori Junior Non-Brass Group.
Kepala Sekolah SD Warga, Conchita Conie Silimalar, S.Pd., mengatakan pihaknya mengirimkan 52 siswa untuk mengikuti festival tersebut. Kontingen itu juga diperkuat lima maskot dan dua orang tua yang turut membantu pelaksanaan.
Kehadiran maskot menjadi bagian penting karena dalam kategori tersebut juga terdapat penilaian khusus untuk perlombaan maskot.
Hasilnya, SD Warga berhasil meraih Juara 1 Street Parade, Juara 1 Color Guard, Juara 3 Mayor, serta Juara Favorit.
Prestasi tersebut menjadi bukti tingginya antusiasme siswa SD Warga dalam mengikuti kegiatan drum band yang menjadi salah satu ekstrakurikuler di sekolah.
Menurut Conchita, kegiatan drum band tidak sekadar mengajarkan siswa memainkan alat musik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengembangkan minat dan bakat anak di bidang musik dan seni sekaligus membentuk karakter.
Instrumen yang dimainkan para siswa pun beragam, mulai dari drum, biola hingga simbal. Latihan secara rutin menjadi bagian penting untuk membangun kekompakan dan kerja sama antarpeserta.
“Dalam pembimbingan ekstrakurikuler ini, kami ingin mengajarkan kekompakan. Anak-anak belajar bahwa penampilan yang baik tidak hanya ditentukan kemampuan individu, tetapi juga kerja sama seluruh tim,” ujarnya.
Selain kemampuan bermusik, keterlibatan dalam festival juga melatih keberanian siswa tampil di hadapan publik. Kostum, koreografi dan tuntutan untuk memberikan penampilan terbaik menjadi pengalaman tersendiri dalam membangun rasa percaya diri.
Pihak SD Warga menilai kompetisi seperti Pakubuwono Street Parade Festival 2026 memberikan pengalaman berharga bagi peserta didik.
Anak-anak tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk tampil, tetapi juga belajar mengelola mental, memperluas wawasan, mengenal peserta lain serta memperoleh inspirasi dari berbagai penampilan.
Pelaksanaan festival yang berlangsung rapi dan suportif juga menjadi pengalaman positif bagi peserta. Di sisi lain, kompetisi tersebut menjadi tantangan bagi siswa untuk menguji kemampuan sekaligus mempertahankan kekompakan tim.
“Kami berharap perlombaan seperti ini terus diselenggarakan secara rutin setiap tahun, dengan skala yang semakin luas dan kemasan acara yang semakin menarik,” kata Conchita.
Menurutnya, kegiatan tersebut jauh lebih besar daripada sekadar perebutan juara.
“Bagi kami, drum band bukan hanya tentang memenangkan perlombaan, tetapi juga tentang membangun karakter, kerja sama, kepercayaan diri dan semangat untuk memberikan yang terbaik,” ungkapnya.
Karaton Surakarta Jadi Ruang Pertemuan Budaya dan Generasi Muda
Pakubuwono Street Parade Festival 2026 sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang Karaton Surakarta dapat menjadi tempat bertemunya tradisi, seni pertunjukan dan kreativitas generasi muda.
Selain dukungan SISKS Pakubuwono XIV, acara tersebut turut dihadiri Pengageng Sasana Wilapa Karaton Surakarta Hadiningrat sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari, yang akrab disapa Gusti Moeng.
Hadir pula para sentono dalem dari berbagai trah, termasuk perwakilan keluarga dan keturunan dari lingkungan Karaton Surakarta, di antaranya cucu Pakubuwono XI dan cucu Pakubuwono XII.
Kehadiran para tokoh dan keluarga Karaton Surakarta tersebut semakin memperkuat pesan bahwa pelestarian budaya bukan hanya dilakukan melalui upacara adat dan tradisi, tetapi juga dengan memberikan ruang kepada generasi muda untuk berkarya.
Dari Ngarsopuro hingga Pagelaran Karaton Surakarta, Pakubuwono Street Parade Festival 2026 menjadi lebih dari sekadar parade marching band dan drum band. Festival ini menjadi pertemuan antara energi anak muda, seni pertunjukan, semangat kompetisi dan lingkungan budaya Karaton Surakarta.
Di tengah derasnya perkembangan zaman, ruang-ruang kreativitas seperti inilah yang diharapkan mampu menjaga hubungan generasi muda dengan seni, budaya dan identitas Kota Solo.
Pakubuwono Street Parade Festival 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi salah satu ruang penting untuk melahirkan generasi muda yang kreatif, percaya diri, kompak dan memiliki kepedulian terhadap kebudayaan.*
Pakubuwono Street Parade Festival 2026 digelar Karaton Surakarta dan PDBI Solo, diikuti pelajar dan mendapat dukungan PB XIV.