RIWARA.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi kondisi perairan Selat Sunda berada dalam keadaan normal dan tidak menunjukkan anomali tsunami usai erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026) malam.
Namun di tengah perairan yang relatif tenang tersebut, kabar duka menyelimuti dunia pers setelah satu unit speedboat yang membawa lima orang jurnalis dilaporkan hilang kontak sejak Senin (7/9/2026).
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menegaskan bahwa pemantauan melalui 20 tide gauge dan radar maritim di sekitar Selat Sunda tidak mendeteksi tanda-tanda gelombang tsunami. BMKG meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu atau hoaks yang beredar liar di media sosial.
Di saat ancaman tsunami nihil, fokus keselamatan di Selat Sunda mendadak beralih ke operasi pencarian dan pertolongan (SAR). Rombongan lima jurnalis yang menumpangi speedboat mendadak terputus komunikasi saat melakukan peliputan di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan data Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), kelima jurnalis tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Banten pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Kontak terakhir tercatat pada pukul 14.42 WIB ketika salah satu jurnalis mengirimkan titik koordinat lokasi di antara Carita dan Gunung Anak Krakatau kepada rekannya.
Setelah pengiriman titik lokasi tersebut, speedboat tak lagi merespons hingga akhirnya dinyatakan hilang kontak sepenuhnya pada pukul 18.13 WIB. Rombongan yang hilang terdiri atas M. Bagus Khoirunnas (pewarta foto ANTARA), Arie Basuki (pewarta foto merdeka.com), Yudistiro Pranoto (pewarta foto iNews.id), Firman Daus (jurnalis Anadolu Agency), dan Donal Husni (jurnalis freelance).
Menanggapi insiden tersebut, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat bersama PFI Jakarta dan PFI Tangerang bergerak cepat memperkuat koordinasi dengan Tim SAR gabungan serta Ditpolairud Polda Banten untuk memaksimalkan proses pencarian.
Ketua Umum PFI Pusat, Dwi Pambudo, menyatakan bahwa keselamatan para jurnalis beserta kru kapal merupakan prioritas tertinggi. PFI terus memantau pergerakan tim SAR di lapangan agar proses evakuasi berjalan terpadu dan efektif.
Tantangan operasi pencarian di lapangan terbilang lumayan berat akibat paparan abu vulkanik serta dinamika cuaca. BMKG mencatat bahwa abu vulkanik erupsi Anak Krakatau membumbung hingga ketinggian 50 ribu kaki (15 kilometer) dan membentuk dua kluster sebaran di atmosfer.
Kluster pertama abu bergerak ke arah timur hingga tenggara yang berdampak pada wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Sementara kluster kedua bergerak ke barat menuju Samudera Hindia dan berdampak pada sebagian wilayah Lampung hingga Bengkulu.
Kondisi sebaran abu yang dinamis ini turut memengaruhi operasional sejumlah bandara udara. BMKG terus melakukan observasi berkala setiap 30 menit di area bandara serta menyiagakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) jika potensi awan memenuhi syarat penyemaian.
PFI Pusat mengingatkan seluruh insan pers yang berada di lokasi bencana agar tidak menembus radius bahaya yang ditetapkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Keselamatan jiwa harus tetap berada di atas tuntutan peliputan.
Hingga berita ini diturunkan, Tim SAR gabungan terus menyisir perairan Selat Sunda untuk menemukan keberadaan speedboat dan lima jurnalis tersebut. Keluarga serta rekan sejawat berharap seluruh korban dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat. (*)
Selat Sunda dipastikan bebas anomali tsunami, namun lima jurnalis hilang kontak saat liputan erupsi Anak Krakatau. Tim SAR siaga penuh.