Dua Gajah Sumatra Mati Beruntun di Aceh: Aktivis Lingkungan Desak Evaluasi Total BKSDA

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 10:31 WIB
Gajah Sumatra yang ditemukan mati
Gajah Sumatra yang ditemukan mati (Foto: Info Publik)

RIWARA.id – Kematian dua individu gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) dalam kurun waktu berdekatan memicu desakan evaluasi total terhadap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) dan Jaringan Gajah Nusantara (JAGANUSA) menuntut BKSDA Aceh merombak sistem perlindungan, biosekuriti, serta penanganan kesehatan satwa lindung tersebut secara menyeluruh.

Kasus pertama menimpa seekor gajah jantan liar yang ditemukan membusuk di areal perkebunan kelapa sawit PT MPLI, Gampong Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, pada Minggu (9/8/2026), sebagaimana dilansir Info Publik.

Kepala Departemen Advokasi FJL, Hidayatullah, mengungkapkan bangkai satwa dilindungi itu ditemukan tergeletak di jalur perkebunan tanpa luka luar, sementara kedua gadingnya masih utuh.

Pemeriksaan awal menduga gajah tersebut mati akibat racun sekitar tiga hari sebelum ditemukan oleh warga dan pekerja kebun.

Selang dua hari, tragedi kembali terjadi di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Kabupaten Aceh Besar, pada Selasa (11/8/2026).

Anak gajah jinak bernama Yuna yang baru berusia tiga tahun mati mendadak setelah mengalami perburukan kondisi kesehatan secara drastis dalam waktu beberapa jam.

Pawang gajah (mahout) menemukan Yuna dalam kondisi lemas dengan mata serta wajah membengkak dan lidah pucat kebiruan, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir pada pukul 20.48 WIB.

Tim medis menduga kuat Yuna terinfeksi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV), jenis virus mematikan yang menyerang pembuluh darah anak gajah secara agresif.

Hidayatullah menegaskan kematian beruntun ini kian mengancam populasi gajah sumatra di Aceh yang kini hanya tersisa sekitar 500 individu.

Catatan FJL menunjukkan sedikitnya 23 kasus kematian gajah terjadi di seluruh wilayah Aceh dalam empat tahun terakhir akibat perburuan liar hingga konflik lahan.

Sementara itu, Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Publikasi JAGANUSA, Yulham, mendesak BKSDA Aceh membuktikan dugaan infeksi virus EEHV secara ilmiah melalui uji laboratorium independen serta membuka riwayat medis satwa secara transparan kepada publik. (*)

 

Dua gajah sumatra mati beruntun di Aceh Tamiang dan PLG Saree. FJL dan JAGANUSA mendesak evaluasi total sistem perlindungan BKSDA.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories