Rumah Prof Sardjito Dijual, UGM dan KAGAMA Berupaya Jaga Warisan Sejarah, Mengapa Rumah Ini Dianggap Penting?

Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:41 WIB
Rumah Prof Sardjito Dijual, UGM dan KAGAMA Berupaya Jaga Warisan Sejarah
Rumah Prof Sardjito Dijual, UGM dan KAGAMA Berupaya Jaga Warisan Sejarah (Foto: Instagram.com/@infokagama)

RIWARA.id - Rumah bersejarah milik Prof. Sardjito yang ada di Yogyakarta, kini menjadi perhatian publik setelah dikabarkan dijual oleh pihak keluarga.

Rumah kuno tersebut bukanlah bangunan biasa. Rumah itu memiliki nilai historis yang melekat pada perjalanan bangsa dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Rumah peninggalan Prof. Sardjito memiliki konsep Indis yang merupakan perpaduan antara arsitektur Kolonial Belanda dan lokal, dengan mengusung Gaya Rumah Jengki.

Bangunan yang terletak di Jalan Cik Di Tiro, Yogyakarta ini memiliki keunikan beratap segitiga besar, halaman luas, ubin merah, serta bubungan tipe kampung.

Siapakah Prof. Sardjito?

Prof. Sardjito merupakan salah satu tokoh utama lahirnya UGM. Ia turut mendirikan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang menjadi cikal bakal UGM.

Ia menjadi rektor pertama UGM pada tahun 1949 hingga 1961, dan berperan membangun konsep perguruan tinggi yang berpihak kepada rakyat dan bangsa.

Prof. Sardjito dikenal sebagai ilmuwan pejuang dan pejuang ilmuwan. Ia meyakini bahwa perguruan tinggi harus melayani masyarakat dan membangun karakter bangsa, sehingga tidak sekadar mencetak ijazah.

Dalam pidatonya di Dies Natalis UGM tahun 1956, Prof. Sardjito menekankan pentingnya peran alumni dalam pengembangan universitas dan kemajuan bangsa.

Ia juga mendorong agar hubungan antara kampus dan alumni terus dirawat melalui pertemuan dan silaturahmi. Gagasan tersebut kemudian menjadi fondasi lahirnya organisasi persatuan alumni UGM.

Saat Musyawarah Nasional (Munas) pertama alumni UGM di Yogyakarta, 18 Desember 1958, lahirlah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama).

 

Pahlawan Nasional

Prof. Sardjito merupakan lulusan STOVIA dan dokter pejuang kemerdekaan yang mengabdikan dirinya di bidang kesehatan sejak masa pergerakan nasional.

Ia adalah dokter yang berperan memproduksi vaksin dan obat-obatan bagi rakyat, serta mendirikan pos kesehatan di Yogyakarta.

Selain itu, ia juga mendukung perjuangan kemerdekaan dan menjadi perintis Palang Merah Indonesia dalam penyediaan obat dan vitamin bagi para pejuang kemerdekaan.

Atas dedikasinya di bidang kesehatan, pendidikan dan kemanusiaan, pada tahun 2019 pemerintah menetapkan Prof. Sardjito sebagai Pahlawan Nasional.

Gelar tersebut menjadi penghormatan atas jasa dan pengabdiannya dalam perjuangan kemerdekaan, pembangunan pendidikan tinggi, serta penguatan layanan kesehatan bagi rakyat Indonesia.

Rumah Bersejarah

Rumah Prof. Sardjito dianggap sebagai rumah bersejarah bukan sekadar karena pernah ditempati Pahlawan Nasional, tetapi pernah menjadi sejarah perjuangan kemerdekaan, pendidikan, dan lahirnya gagasan besar bagi bangsa.

Jejak pengabdian Prof. Sardjito menjadikan rumah tersebut memiliki nilai historis yang melekat pada perjalanan bangsa dan UGM.

Munculnya kabar penjualan rumah Prof Sardjito tersebut, membuat Rektor UGM Prof. Ova Emilia angkat bicara. 

"UGM tengah berupaya memanfaatkan rumah itu untuk kegiatan akademik dan sosial agar nilai sejarahnya tetap terjaga. Upaya tersebut dilakukan dengan menggandeng KAGAMA," tuturnya yang dikutip Riwara.id dari akun Instagram @infokagama, Sabtu 30 Mei 2026.

Menjaga rumah sejarah bukan hanya tentang mempertahankan bangunan, tetapi juga merawat ingatan, nilai, serta pengabdian yang pernah lahir di dalamnya.

Rumah bersejarah milik Prof. Sardjito di Yogyakarta tengah menjadi perhatian publik karena dikabarkan dijual oleh pihak keluarga.

Foto Editor
Ayu Abriyani -

Jurnalis dari Kota Solo yang fokus pada isu pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.

 Stories