RIWARA.id – Wali Kota Surakarta Respati Ardi melarang keras adanya praktik penampungan dan jual beli darah hewan kurban pada perayaan Iduladha mendatang. Langkah tegas ini diambil demi menjaga kesehatan masyarakat serta memastikan seluruh proses ibadah kurban di Kota Solo berjalan sesuai dengan syariat Islam yang sah.
Pernyataan tersebut disampaikan Respati saat menghadiri acara "Sangu Njagal 2" yang digelar di Masjid Agung Keraton Surakarta, Minggu (24/5/2026). Agenda yang diinisiasi oleh Juru Sembelih Halal (Juleha) se-Kota Solo ini bertujuan membekali para jagal agar lebih profesional saat bertugas.
Dalam kesempatan itu, Respati meminta seluruh anggota Juleha yang telah tersertifikasi untuk turun langsung mengedukasi masyarakat. Edukasi tersebut mencakup tata cara penyembelihan yang benar agar pelaksanaan kurban tidak membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar.
Salah satu fokus utama yang disoroti adalah penanganan limbah cair dan darah hewan. Respati mengingatkan agar panitia kurban di setiap masjid tidak ceroboh dan melarang siapapun menampung darah hewan untuk diperjualbelikan secara ilegal di luar tempat pemotongan.
Larangan keras ini bukan tanpa alasan. Respati mengaku telah menerima laporan dari pengurus Juleha dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Surakarta mengenai adanya oknum yang nekat menampung darah di rumah penyembelihan hewan, yang langsung ia tindak tegas.
Guna mengantisipasi pencemaran, Wali Kota Solo menyarankan panitia menggunakan alas terpal atau semen di area pemotongan agar limbah tidak meresap ke tanah. Darah kurban sebaiknya ditimbun di dalam lubang tanah khusus yang dicampur kapur atau kompos agar bisa menyuburkan tanah.
Selain penanganan limbah, Respati juga mendorong penerapan kurban ramah lingkungan (green qurban) di Kota Bengawan. Ia mengimbau panitia kurban dan masyarakat untuk menghentikan penggunaan kantong plastik sekali pakai dalam proses distribusi daging kurban ke penerima.
Sebagai alternatif, Pemkot Surakarta menyarankan penggunaan wadah tradisional seperti besek bambu yang jauh lebih aman dan dapat dipakai ulang. Langkah ini dinilai efektif untuk menunjukkan kepada publik bahwa Kota Solo mampu menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan saat hari raya.
Manajemen waktu dan pembatasan kuota pemotongan di tiap titik juga menjadi poin penting yang disampaikan. Pengaturan jadwal penyembelihan hewan dinilai sangat krusial agar tidak memicu penumpukan limbah padat maupun cair yang dapat menimbulkan bau tak sedap.
Pemerintah Kota Surakarta menegaskan komitmennya untuk terus mengawal standardisasi sertifikasi halal, termasuk bagi para penjagal lokal. Ke depan, peran Juleha diharapkan tidak hanya musiman saat Iduladha, melainkan berperan aktif mendukung ekosistem kuliner halal di Solo.
Wali Kota Solo Respati Ardi larang keras jual beli darah kurban dan instruksikan warga pakai besek bambu demi kurban syar'i dan higienis.