RIWARA.id – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menggelar Jogja Financial Festival 2026 (JFF 2026) di Jogja Expo Centre pada Sabtu (23/5/2026). Festival ini menjadi ruang strategis untuk mengedukasi generasi muda agar mampu menepis derasnya arus informasi palsu atau hoaks yang marak beredar di ranah publik.
Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun, yang hadir dalam acara tersebut menegaskan pentingnya literasi keuangan bagi anak muda. Menurutnya, perkembangan teknologi saat ini membuat penyebaran informasi yang bias menjadi makin tidak terkendali.
Agenda yang digagas oleh LPS ini dinilai menjadi sarana tepercaya untuk mengantisipasi disinformasi di media sosial. Terlebih lagi, saat ini penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) jamak disalahgunakan untuk memproduksi konten-konten menyesatkan.
Misbakhun meminta generasi muda tidak menelan mentah-mentah setiap narasi yang muncul di gawai mereka. Anak muda zaman sekarang dituntut untuk selalu berpikir cerdas, kritis, dan memiliki kemampuan memilah kebenaran informasi.
Dalam kesempatan itu, politikus tersebut juga meluruskan sentimen negatif terkait melemahnya nilai tukar rupiah yang kini menyentuh angka Rp17.800 per dolar AS. Ia mengakui angka tersebut memang cukup tinggi, tetapi publik harus melihatnya secara faktual berdasarkan sejarah ekonomi.
Ia membandingkan kondisi riil saat ini dengan situasi krisis moneter pada tahun 1998 silam. Kala itu, rupiah anjlok drastis dari posisi awal Rp2.400 hingga menembus angka Rp17.000 lebih dalam waktu singkat, yang memicu kelumpuhan sistem perbankan nasional.
Sementara pada awal tahun 2026, rupiah bergerak dari angka Rp17.000 hingga kini berada di level Rp17.800. Pergerakan tersebut menunjukkan adanya perubahan mendasar yang terjadi seiring berjalannya waktu, bukan cerminan dari keruntuhan ekonomi.
Meski situasi global dan domestik sedang menghadapi tekanan berat, Misbakhun memastikan kondisi perbankan di tanah air masih sangat aman. Hingga saat ini, belum ada satu pun laporan mengenai bank yang mengalami gagal bayar di Indonesia.
Ketahanan ini membuktikan bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada dalam posisi yang kuat. Bahkan, Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara anggota G20 yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.
Saat sesi tanya jawab, seorang siswi SMK sempat mengutarakan kekhawatirannya mengenai maraknya narasi di media sosial yang memicu kecemasan masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Misbakhun menekankan pentingnya peningkatan kualitas pribadi agar anak muda tidak mudah terprovokasi.
Edukasi publik lewat program JFF 2026 menjadi bagian krusial untuk meyakinkan masyarakat bahwa ekonomi Indonesia tidak sedang di ambang kehancuran. Sebanyak 3.000 anak muda yang memadati lokasi acara diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan optimisme.
Misbakhun memastikan bahwa isu-isu liar mengenai anggaran negara yang habis sama sekali tidak berdasar pada data riil. "Negara ini terlalu kaya untuk dapat dikatakan sebagai negara berpotensi bangkrut. Segala informasi yang mengatakan APBN kita habis, itu hoaks," tegasnya. (*)
Ketua Komisi XI DPR RI Misbakhun tegaskan fundamental ekonomi Indonesia kuat di JFF 2026, tepis hoaks isu APBN habis.