Kenali Jabatan dan Gelar di Lingkungan Keraton Surakarta, Warisan Birokrasi Jawa Kuno

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:17 WIB
Para punggawa Keraton Surakarta
Para punggawa Keraton Surakarta (Foto: Ari Kristyono)

RIWARA.id – Keraton Surakarta Hadiningrat memiliki tatanan birokrasi kuno dan silsilah gelar kebangsawanan yang sangat terstruktur untuk mengatur jalannya roda pemerintahan adat. Setiap posisi, mulai dari trah darah dalem hingga lingkaran pembantu raja, memiliki nomenklatur dan tanggung jawab spesifik yang diatur ketat oleh hukum adat istana.

Dikutip dari buku Sejarah Kerajaan Tradisional Surakarta terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Dep P&K) tahun 1999, pucuk kekuasaan tertinggi istana dipegang oleh seorang raja. Penguasa monarki ini menyandang gelar resmi Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana Senapati Ingalaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Tepat di bawah posisi raja, terdapat Putra Mahkota yang mengemban otoritas sebagai pemegang kekuasaan kedua di dalam kerajaan. Dalam urusan administrasi pemerintahan, terdapat posisi Patih yang memiliki kedudukan, wibawa, dan pangkat kedinasan yang disejajarkan sama dengan putra raja.

Sistem kebangsawanan untuk keturunan raja terbagi secara hierarkis berdasarkan kedekatan darah. Anak kandung perempuan dan laki-laki dari raja berhak menyandang gelar Gusti, sedangkan cucu (wayah) bergelar Bandara, cicit (buyut) disebut Sentana, canggah bergelar Abdi Sentana, dan wareng disebut Abdi Kulawarga. Di bawah tingkat wareng, keturunan tersebut sudah dimasukkan ke dalam kelompok masyarakat umum atau kawula dalem.

Struktur pemerintahan pusat di bawah Patih dikelola oleh lembaga administrasi bernama Reh Kepatihan yang diperkuat oleh empat bupati utama berpangkat Tumenggung. Di antaranya adalah Bupati Keparak Kiwa yang bertindak sebagai ahli taktik perang dan intelijen, serta Bupati Keparak Tengen yang menguasai sastra, bahasa, dan tata urusan rumah tangga istana.

Dua bupati lainnya dalam Reh Kepatihan adalah Bupati Gedong Kiwa yang bertindak selaku bendaharawan kerajaan, serta Bupati Gedong Tengen yang memimpin urusan hubungan luar istana. Selain urusan internal, terdapat pula empat bupati luar (njaba) yang mengepalai administrasi wilayah provinsi di luar ibu kota, yaitu Bupati Gede, Bupati Sewu, Bupati Penumping, dan Bupati Bumi.

Untuk urusan fungsional spesifik, istana menunjuk lima bupati tingkat tiga yang membawahi bidang-bidang hukum dan infrastruktur. Mereka adalah Bupati Pangrembe (pembesar mahkamah pengadilan), Bupati Kadipaten Anom (kepala rumah tangga putra mahkota), Bupati Kalang (pengawas bangunan istana), Bupati Gladag (pengawas transportasi), dan Bupati Jaksa (pengawas tertinggi lembaga peradilan).

Selain urusan sekuler, Keraton Surakarta juga memiliki Reh Pangulon yang mengurusi administrasi keagamaan secara integratif di bawah pimpinan Pengulu Tafsir Anom. Sektor ini dibantu oleh pegawai khusus bernama Abdi Dalem Pametakan, di mana sang penghulu juga berfungsi sebagai penasihat spiritual raja saat mengambil keputusan hukum di pengadilan Surambi.

Keamanan fisik istana diatur secara ketat oleh golongan abdi dalem berdasarkan pos penjagaan masing-masing. Tugas berat seperti menangkap orang yang bersalah diserahkan kepada Abdi Dalem Panewu Mantri Keparak Nirbita Nirbaya, sedangkan penjagaan pintu gerbang utama diserahkan kepada kesatuan Brajanala, Wisamarta, Sangkragyana, dan Kanoman.

Sejarah kelam eksekusi hukum di masa lampau juga mencatat adanya jabatan khusus bagi para algojo pelaksana hukuman mati. Istana menunjuk Abdi Dalem Panewu Mantri Keparak Singanegara sebagai algojo tukang pancung kepala, yang dalam tugasnya dibantu oleh kesatuan Martalutut.

Birokrasi ini diperkuat oleh ribuan abdi dalem yang penamaan gelarnya dilekatkan pada profesi mereka. Sebagai contoh, ahli medis menyandang gelar Husada, juru tulis bergelar Sastra, pawang gajah menyandang gelar Denta, pandai besi bergelar Sukatga, hingga penari pria di Wayang Orang Sriwedari yang dianugerahi gelar Wibakso.

Kekuatan militer tradisional istana bertumpu pada kesatuan prajurit atau Bregodo yang bertugas menjaga marwah serta keselamatan raja. Hingga saat ini, Keraton Kasunanan Surakarta masih mempertahankan enam kesatuan prajurit ikonik, yaitu Bregodo Tamtomo, Bregodo Prawiro Anom, Bregodo Jayeng Astro, Bregodo Sorogeni, Bregodo Joyosuro, dan Bregodo Doropati. (*)

Kenali hierarki jabatan & gelar bangsawan Keraton Surakarta. Dari gelar keturunan raja hingga tugas para algojo pemburu.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories