RIWARA.id – Jagat media sosial dan komunitas pencinta militer domestik belakangan ini dihebohkan oleh peredaran infografis yang mengeklaim adanya "Pengadaan Spesial" alutsista udara dalam jumlah masif untuk TNI Angkatan Udara.
Dalam narasi visual yang beredar, Indonesia disebut tengah memproses pembelian puluhan jet tempur canggih asal Rusia dan Tiongkok.
Daftar belanjaan imajiner tersebut mencakup 20 unit Su-35SME, 42 unit jet tempur J-10C buatan China, hingga 16 unit jet tempur siluman generasi kelima Rusia, Su-57M1E Felon. Tidak hanya jet tempur, grafis tersebut juga menyertakan pengadaan pesawat tanker Il-78M-90A dan pesawat radar ZDK-05 AWACS.
Berdasarkan penelusuran tim redaksi, informasi yang tersaji dalam infografis tersebut dipastikan tidak berdasar pada kebenaran faktual (fiksi). Kementerian Pertahanan Republik Indonesia tidak memiliki agenda maupun kontrak aktif untuk memboyong deretan pesawat dari blok Timur tersebut.
Asal mula munculnya grafis dengan estetika minimalis ini disinyalir kuat berasal dari forum diskusi simulasi militer (wargame) atau sekadar konten satire di platform TikTok dan Instagram. Angka 42 unit pada jet J-10C China, misalnya, merupakan bentuk pelesetan dari jumlah riil pesawat Dassault Rafale Prancis yang resmi dibeli Indonesia.
Jika membedah rekam jejak diplomasi pertahanan, rencana memboyong 11 unit Su-35 dari Rusia memang sempat diupayakan pada 2018 silam. Namun, proyek tersebut telah resmi dibatalkan oleh Pemerintah Indonesia guna menghindari sanksi ekonomi sepihak dari Amerika Serikat melalui undang-undang CAATSA (Countering America's Adversaries Through Sanctions Act).
Di sisi lain, pembelian jet siluman Su-57 Felon juga sangat tidak realistis. Selain harganya yang selangit, kapasitas produksi biro desain Sukhoi di Rusia saat ini masih terseok-seok untuk memenuhi kebutuhan angkatan udara mereka sendiri di medan konflik Eropa Timur.
Hingga saat ini, kiblat pengadaan alutsista udara Indonesia di bawah Kementerian Pertahanan saat ini sudah sangat jelas dan transparan. Jakarta berkomitmen penuh pada pemenuhan target kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force) dengan menggandeng para mitra dari blok Barat dan sekutunya.
Kontrak pertahanan udara paling sahih saat ini adalah penyelesaian administrasi untuk 42 unit jet tempur Dassault Rafale generasi 4.5 asal Prancis. Selain Rafale, Indonesia juga terus mematangkan rencana akuisisi jet tempur kelas berat F-15EX dari pabrikan Boeing, Amerika Serikat.
Serta kelanjutan investasi proyek jet tempur KF-21 Boramae bersama Korea Selatan yang meski banyak diwarnai drama dan spekulasi, tapi tetap merupakan rencana yang cukup riil.
Untuk kebutuhan pengganda gaya (force multiplier) seperti pesawat tanker pengisi bahan bakar di udara, TNI AU juga tidak memilih produk Rusia. Pemerintah telah menjatuhkan pilihan pada unit komersial yang dimodifikasi militer, yakni Airbus A330 MRTT (Multi-Role Tanker Transport) buatan Eropa.
Masyarakat dan para pemerhati isu pertahanan diimbau untuk lebih selektif dalam menyaring informasi terkait belanja pertahanan negara.
Konten-konten berlabel clickbait atau visualisasi hipotetis di media sosial sering kali sengaja dibuat demi mendongkrak interaksi digital secara instan, tanpa memedulikan akurasi data geopolitik yang sebenarnya. (*)
Cek Fakta: Beredar grafis borong jet tempur Su-57, Su-35, dan J-10C China. Kemenhan RI tegaskan fokus pada Rafale dan F-15EX.