Blueprint Komdigi Mulai Akomodasi Teknologi Satelit LEO seperti Starlink

Senin, 18 Mei 2026 | 07:45 WIB
Dokumen blueprint penyehatan industri telekomunikasi Komdigi menunjukkan arah baru regulasi internet nasional yang mulai mengakomodasi perkembangan teknologi satelit modern termasuk layanan berbasis Low Earth Orbit LEO seperti Starlink
Dokumen blueprint penyehatan industri telekomunikasi Komdigi menunjukkan arah baru regulasi internet nasional yang mulai mengakomodasi perkembangan teknologi satelit modern termasuk layanan berbasis Low Earth Orbit LEO seperti Starlink (Foto: Ilustrasi: AI Generated / Tim Redaksi Riwara.id)

 

RIWARA.ID — Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mulai menunjukkan arah baru kebijakan telekomunikasi nasional yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi internet satelit modern.

Hal itu terungkap dalam dokumen Cetak Biru Penyehatan Industri Telekomunikasi Indonesia yang disusun Direktorat Layanan Ekosistem Digital, Ditjen Ekosistem Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), dan diterima redaksi Riwara.id pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Dalam blueprint tersebut, Komdigi mulai membedakan standar kualitas layanan internet berdasarkan jenis teknologi jaringan yang digunakan, termasuk:

  • fiber optik,
  • wireless,
  • satelit GEO (Geostationary Orbit),
  • hingga satelit LEO (Low Earth Orbit).

Pendekatan tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa regulator mulai menyesuaikan kerangka kebijakan internet nasional dengan perkembangan teknologi satelit generasi baru seperti Starlink dan layanan LEO lainnya.

Teknologi Satelit Modern Mulai Masuk Regulasi

Berbeda dengan satelit GEO konvensional yang berada di orbit tinggi dan memiliki latency lebih besar, satelit LEO beroperasi pada orbit rendah sehingga mampu menghadirkan koneksi internet dengan latensi lebih rendah dan kecepatan lebih tinggi.

Blueprint Komdigi mulai memasukkan perbedaan karakteristik tersebut ke dalam standar pengawasan kualitas layanan internet nasional.

Dokumen itu menunjukkan bahwa regulator tidak lagi memandang seluruh layanan internet satelit sebagai kategori yang sama.

Sebaliknya, pendekatan baru mulai diarahkan berdasarkan kemampuan teknis masing-masing teknologi jaringan.

Hal itu dinilai penting karena perkembangan internet satelit global dalam beberapa tahun terakhir mulai mengubah lanskap konektivitas digital dunia, terutama untuk wilayah terpencil dan daerah dengan keterbatasan infrastruktur fiber optik.

Komdigi Dorong Standar QoS Lebih Adaptif

Dalam blueprint tersebut, pemerintah juga mengusulkan revisi standar Quality of Service (QoS) nasional yang lebih detail dan terukur.

Beberapa indikator yang menjadi perhatian antara lain:

  • latency,
  • jitter,
  • packet loss,
  • hingga service availability.

Menariknya, standar tersebut tidak lagi dibuat secara seragam untuk semua jenis jaringan.

Blueprint itu menunjukkan regulator mulai mempertimbangkan perbedaan karakteristik teknis antara:

jaringan kabel,
wireless,
GEO satellite,
dan LEO satellite.

Pendekatan tersebut dinilai mencerminkan arah regulasi telekomunikasi yang lebih modern dan berbasis teknologi.

Internet Satelit Dinilai Punya Peran Strategis

Masuknya teknologi satelit LEO ke dalam blueprint telekomunikasi nasional juga menunjukkan bahwa pemerintah mulai melihat internet satelit sebagai bagian penting dari pengembangan konektivitas digital Indonesia.

Terlebih, Indonesia memiliki tantangan geografis besar dengan ribuan pulau dan wilayah terpencil yang masih sulit dijangkau jaringan fiber optik.

Dalam kondisi tersebut, internet satelit dinilai dapat menjadi solusi alternatif untuk memperluas akses internet berkecepatan tinggi di berbagai daerah.

Blueprint tersebut juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas konektivitas nasional sebagai bagian dari transformasi digital Indonesia dalam jangka panjang.

Reformasi Telekomunikasi Menuju Era Baru

Secara umum, Cetak Biru Penyehatan Industri Telekomunikasi Indonesia menunjukkan bahwa reformasi industri telekomunikasi nasional tidak hanya menyentuh persoalan konsolidasi ISP dan kualitas jaringan fiber optik.

Dokumen itu juga mulai mengarah pada penyesuaian regulasi terhadap perkembangan teknologi internet global yang berkembang sangat cepat, termasuk layanan satelit orbit rendah generasi baru.

Dilansir Riwara.id pada Minggu, 17 Mei 2026 dari djed.komdigi.go.id, struktur Ditjen Ekosistem Digital Komdigi saat ini dipimpin Edwin Hidayat Abdullah sebagai Direktur Jenderal.

Hingga berita ini diterbitkan, Riwara.id belum memperoleh tanggapan resmi dari Komdigi terkait implementasi detail standar layanan internet satelit dalam blueprint tersebut. Dokumen blueprint itu sendiri masih berupa arah kebijakan dan belum seluruhnya menjadi regulasi final.*

 

Dokumen blueprint penyehatan industri telekomunikasi Komdigi menunjukkan arah baru regulasi internet nasional yang mulai mengakomodasi perkembangan teknologi satelit modern, termasuk layanan berbasis Low Earth Orbit (LEO) seperti Starlink.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories