Harga Emas Bertahan di Level Tinggi, Konflik Selat Hormuz dan Ancaman Inflasi Bikin Investor Siaga

Selasa, 12 Mei 2026 | 07:03 WIB
Harga emas dunia bertahan di level tinggi di tengah memanasnya konflik Selat Hormuz dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global yang mengguncang pasar keuangan internasional
Harga emas dunia bertahan di level tinggi di tengah memanasnya konflik Selat Hormuz dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global yang mengguncang pasar keuangan internasional (Foto: Ilustrasi: AI Generated / Tim Redaksi Riwara.id)

 

RIWARA.id - Harga emas dunia kembali stabil di level tinggi setelah ketegangan geopolitik di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran inflasi Amerika Serikat. Investor kini bersiap menghadapi rilis data inflasi AS yang diperkirakan menjadi penentu arah pasar keuangan dunia dalam beberapa pekan ke depan.

Pada perdagangan terbaru, harga emas spot tercatat berada di kisaran US$4.742 per ounce setelah sebelumnya menguat 0,4 persen. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak perang Iran terhadap distribusi energi global.

Presiden AS Donald Trump turut memperkeruh sentimen pasar setelah menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaian Amerika Serikat sebagai “sampah belaka.” Trump juga menegaskan bahwa kondisi gencatan senjata di Selat Hormuz masih sangat rapuh dan berada dalam situasi kritis.

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar energi global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia. Ketidakpastian di kawasan itu membuat harga minyak terus bergerak naik dan memperbesar risiko lonjakan inflasi global.

Analis menilai kondisi ini membuat emas kembali menjadi aset safe haven utama yang diburu investor. Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan inflasi melonjak, emas biasanya menjadi instrumen lindung nilai paling dicari.

Selain konflik Timur Tengah, perhatian pasar juga tertuju pada laporan indeks harga konsumen atau CPI Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis Selasa waktu setempat. Para ekonom memperkirakan inflasi akan melonjak tajam akibat kenaikan biaya energi dan dampaknya terhadap sektor manufaktur serta pertanian.

Trump juga mulai menyoroti isu kenaikan biaya hidup menjelang rilis data inflasi tersebut. Ia menyinggung lonjakan harga bensin dan daging sapi yang dinilai dapat memengaruhi dukungan politik terhadap partainya menjelang pertarungan politik di Kongres.

Di sisi lain, penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS mulai melambat pada perdagangan sebelumnya. Kondisi ini memberikan dorongan tambahan bagi emas karena logam mulia cenderung lebih menarik saat dolar melemah dan yield obligasi turun.

Tidak hanya emas, harga perak juga mencatat lonjakan signifikan. Perak naik lebih dari 7 persen, menjadi kenaikan terbesar dalam lebih dari satu bulan terakhir setelah muncul sinyal teknikal yang memicu aksi beli baru dari investor.

Harga perak terbaru tercatat berada di level US$86,42 per ounce. Sementara itu, platinum dan paladium turut bergerak menguat mengikuti sentimen positif di pasar logam mulia global.

Pengamat pasar melihat tren kenaikan emas masih berpotensi berlanjut apabila ketegangan di Timur Tengah belum mereda dan inflasi AS terus meningkat.

Investor global kini menunggu arah kebijakan Federal Reserve terkait suku bunga yang diperkirakan semakin sulit dipangkas apabila inflasi kembali memanas.

Situasi tersebut membuat pasar keuangan global memasuki fase penuh ketidakpastian. Kombinasi konflik geopolitik, lonjakan harga energi, dan tekanan inflasi dinilai menjadi faktor utama yang akan menentukan arah harga emas dalam jangka pendek.*

 

Harga emas dunia stabil di level tinggi setelah konflik Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan ancaman inflasi AS meningkat.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories