JAKARTA, RIWARA.id — Indonesia dan Rusia semakin agresif memperkuat kerja sama ekonomi dan industri di tengah ketidakpastian global serta persaingan pasar internasional yang kian ketat.
Kedua negara kini membuka babak baru kolaborasi strategis yang diproyeksikan dapat mempercepat investasi, transfer teknologi, hingga memperluas akses ekspor produk nasional ke pasar Eurasia.
Langkah ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tengah mendorong diplomasi ekonomi yang lebih aktif untuk memperkuat fondasi industri nasional.
Rusia dipandang sebagai salah satu mitra strategis penting yang dapat membantu Indonesia mempercepat transformasi industri bernilai tambah tinggi.
Tak hanya sebatas kerja sama dagang, pembahasan kedua negara juga menyasar sektor-sektor vital seperti manufaktur, galangan kapal, petrokimia, farmasi, alat kesehatan, hingga pengembangan teknologi industri modern.
Jika terealisasi optimal, kerja sama ini diyakini dapat membuka peluang investasi baru sekaligus meningkatkan daya saing industri Indonesia di pasar global.
Penguatan kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Perindustrian RI, Faisol Riza, dan Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia, Alexey Vladimirovich Gruzdev, dalam rangkaian Indonesia–Russia Business and Investment Forum 2026 di Saint Petersburg.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas sejumlah sektor strategis yang menjadi prioritas kerja sama, mulai dari industri manufaktur, galangan kapal, petrokimia, farmasi dan alat kesehatan, hingga pengembangan teknologi industri.
“Indonesia memandang Rusia sebagai mitra strategis jangka panjang dalam pembangunan industri nasional. Kami ingin memastikan seluruh potensi kerja sama yang telah dibahas tidak berhenti pada tataran komitmen,” ujar Faisol Riza dalam siaran resmi, Senin (11/5/2026).
Pertemuan bilateral itu juga menjadi tindak lanjut dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin pada 13 April 2026 di Moskwa yang menegaskan komitmen kedua negara untuk memperdalam kerja sama di berbagai sektor prioritas.
Komitmen tersebut kembali diperkuat melalui partisipasi Indonesia sebagai Partner Country dalam INNOPROM 2026, sebuah pameran industri internasional yang akan digelar pada 6–9 Juli 2026 di Yekaterinburg.
Menurut Faisol, momentum partisipasi Indonesia dalam INNOPROM 2026 harus dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat implementasi berbagai kerja sama strategis antara kedua negara.
“Momentum partisipasi Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026 harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperluas investasi, memperkuat kemitraan industri, serta mendorong transfer teknologi yang berdampak langsung pada peningkatan daya saing industri nasional,” katanya.
Selain membahas penguatan kerja sama perdagangan, kedua pihak juga menyoroti percepatan implementasi sejumlah kesepakatan strategis, termasuk finalisasi Memorandum of Understanding (MoU) on Industrial Cooperation.
MoU tersebut nantinya akan menjadi payung hukum untuk memperkuat kolaborasi industri Indonesia dan Rusia secara lebih sistematis, terarah, dan berkelanjutan.
Penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia dinilai menjadi langkah penting di tengah dinamika perdagangan global, terutama untuk membuka peluang investasi baru serta memperluas pasar ekspor produk industri nasional ke kawasan Eurasia.*
Indonesia dan Rusia memperkuat kerja sama strategis di sektor industri, perdagangan, dan investasi. Fokus kolaborasi meliputi manufaktur, petrokimia, farmasi, galangan kapal, hingga transfer teknologi untuk memperkuat daya saing industri nasional.