Ritual Wijayakusuma di Cilacap Disorot, Pejabat Ungkap Kaitan Historis dengan Penobatan Raja Surakarta

Senin, 04 Mei 2026 | 23:18 WIB
Suasana khidmat ritual Wijayakusuma oleh kerabat Karaton Surakarta Hadiningrat di Kabupaten Cilacap
Suasana khidmat ritual Wijayakusuma oleh kerabat Karaton Surakarta Hadiningrat di Kabupaten Cilacap (Foto: Ilustrasi: AI Generated / Tim Redaksi Riwara.id)

 

CILACAP, RIWARA.ID – Pelaksanaan ritual Miwaha Sekar Wijaya Kusuma di Cilacap pada Minggu (3/5/2026) kembali menarik perhatian publik. Tradisi yang dijalankan oleh kerabat Karaton Surakarta Hadiningrat ini tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga memunculkan kembali pembahasan mengenai maknanya dalam tradisi penobatan raja.

Sebagaimana dilansir Riwara.id dari rilis pemerintah daerah yang dipublikasikan pada Senin (4/5/2026), Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap, Ahmad Fauzi, menyampaikan bahwa ritual memetik bunga Wijayakusuma memiliki nilai historis yang kuat.

“Tradisi ini tidak dilakukan setiap tahun. Metik Wijaya Kusuma hanya dilaksanakan saat akan ada penobatan raja Surakarta. Secara historis, terakhir kali prosesi ini dilakukan sekitar tahun 1930,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan historis antara ritual dan tradisi penobatan dalam perspektif tertentu. Namun demikian, keterkaitan tersebut berada dalam ranah penafsiran budaya dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak keraton.

Puncak Prosesi Digelar Sore Hari

Rangkaian kegiatan mencapai puncaknya pada Minggu sore (3/5/2026) di Pendopo Kabupaten Cilacap. Acara ini dihadiri sejumlah tokoh dari lingkungan keraton, termasuk Pengageng Sasana Wilapa serta Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat, G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng).

Turut hadir pula G.R.Aj. Putri Purnaningrum dan K.P.H. Eddy Wirabhumi, bersama unsur Paguyuban Kawula Keraton Surakarta Hadiningrat (PAKASA).

Pengukuhan PAKASA dan Penyerahan Prasasti

Dalam rangkaian tersebut, dilakukan pengukuhan pengurus PAKASA Wijaya Kusuma Cilacap serta penyerahan Prasasti Nawala. Kegiatan ini disaksikan langsung oleh Pelaksana Tugas Bupati Cilacap, Ammy Amalia Fatma Surya, bersama jajaran Forkopimda.

Momentum ini menjadi bagian dari penguatan hubungan antara pemerintah daerah dan komunitas adat dalam pelestarian budaya.

 

Baca juga: Suka Nonton? Yuk Kerja di XXI! Dibuka Lowongan Cinema Accounting Penempatan Bekasi, Cek Cara Lamarnya...

 

Pelestarian Tradisi dan Identitas Budaya

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Cilacap, Teguh Mulyadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam menjaga identitas budaya.

“Pelestarian adat seperti ini bukan sekadar seremonial, melainkan penguat identitas bangsa yang harus terus dijaga sinergitasnya antara lembaga adat dan pemerintah daerah,” ujarnya.

Menunggu Pernyataan Resmi Keraton

Hingga berita ini diturunkan pada Senin (4/5/2026), belum terdapat pernyataan resmi dari pihak Karaton Surakarta Hadiningrat terkait kaitan langsung ritual ini dengan agenda penobatan raja.

Riwara.id telah berupaya menghubungi pihak terkait untuk memperoleh konfirmasi, namun belum mendapatkan tanggapan.*

Pejabat Cilacap mengungkap nilai historis ritual Wijayakusuma yang dikaitkan dengan penobatan raja Keraton Surakarta. Prosesi ini kembali digelar dengan melibatkan tokoh keraton dan pemerintah daerah.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories