Keraton Surakarta dan UNS Merancang Lembaga Studi Kebudayaan, Selamatkan Warisan Adiluhung Nusantara

Rabu, 29 April 2026 | 16:43 WIB
Ilustrasi Keraton Surakarta | Ari Kristyono
Ilustrasi Keraton Surakarta | Ari Kristyono

 

RIWARA.id – Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat tengah merintis jalan kolaborasi dengan Badan Pengembangan Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk membentuk Lembaga Studi Kebudayaan Keraton Surakarta Hadiningrat.

Inisiatif ini hadir sebagai upaya konkret untuk merawat, melestarikan, dan mengembangkan warisan peradaban adiluhung Keraton, sekaligus mengintegrasikannya ke dalam ruang ilmu pengetahuan nasional dan internasional.

"Selama ini, kekayaan budaya Keraton sering kali hanya dianggap sebagai pusaka yang dimitoskan namun minim pemahaman praktis. Melalui lembaga ini, ribuan naskah kuno seperti Serat, Babad, Piwulang, hingga Suluk yang tersimpan di Sasana Pustaka akan dikaji secara sistematis. Tujuannya agar nilai-nilai luhur tersebut relevan dan dapat diterapkan dalam kehidupan modern, bukan sekadar menjadi tumpukan debu di perpustakaan yang tidak lagi dipahami maknanya," tutur Ketua LDA GKR Koes Moertiyah Wandansari, Rabu (29/4/2026).

Menurut Koes Moertiyah, lembaga nantinya akan bergerak melalui tiga pilar utama: pendidikan non-gelar, riset dan kajian, serta pendidikan vokasional.

Ruang lingkupnya mencakup 13 bidang kajian, mulai dari filosofi kepercayaan, sistem pemerintahan, hukum adat, pertanian, kese hatan, hingga teknologi arsitektur dan seni kriya.

Kerja sama ini melibatkan para empu dari Keraton serta akademisi kompeten dari UNS untuk memastikan transmisi ilmu pengetahuan berjalan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

 

Pendidikan di lembaga ini terbuka bagi siswa, mahasiswa, praktisi, hingga masyarakat umum baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan dukungan para budayawan, cendekiawan, serta guru besar, lembaga ini diharapkan menjadi motor penggerak identitas kebudayaan nasional yang bermartabat. 

Langkah ini sekaligus menjadi upaya menawarkan perspektif kebudayaan alternatif di tengah arus kemajuan teknologi modern yang kerap mengabaikan sisi kemanusiaan dan ekologis.

Salah satu kajian sejarah yang saat ini tengah dilakukan, misalnya tentang kebesaran budaya Jawa, pada era SISKS Paku Buwono X (1893-1939) telah mencapai tataran yang sangat luas.

Misalnya, saat itu Keraton telah mengirimkan lebih dari 500 perangkat gamelan ke benua Amerika, sehingga masyarakat di sana mengenal dan bisa mempelajari kebudayaan Jawa.

Rabu (29/4) sore ini, SISKS Paku Buwono XIV menerima tamu agung, yakni Duta Besar Chile yang akan hadir dalam jamuan di Sasana Handrawina. Setelahnya, Dubes akan menghadiri sajian kebud ayaan di Bangs al Smarakata yang menjadi bagian dari event Hari Tari Dunia 2026.

Tak kalah penting, dalam acara di Smarakata juga dimeriahkan orasi budaya oleh Maestro tari asal Solo, Sardono W Kusumo. (*)

 

Keraton Surakarta dan UNS tengah merancang bersama Lembaga Studi Kebudayaan untuk melestarikan warisan adiluhung dan relevansinya bagi dunia modern.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories