Khutbah Jumat Kemenag Ungkap 5 Golongan Berisiko Su’ul Khatimah, Siapa Saja?

Jumat, 24 April 2026 | 05:18 WIB

RIWARA.id – Peringatan keras disampaikan dalam khutbah Jumat bertajuk “Lima Golongan yang Dikhawatirkan Su’ul Khatimah” oleh Muh. Hanafi, SS., M.Sy. Khutbah yang dilansir riwara.id pada Jumat, 24 April 2026 dari laman resmi Kementerian Agama Republik Indonesia ini menyoroti kelompok-kelompok yang berisiko mengakhiri hidup dalam kondisi buruk secara spiritual.

Khutbah tersebut menjadi refleksi mendalam bagi umat Islam di tengah tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks. Di balik kemajuan teknologi, ekonomi, dan gaya hidup, terdapat persoalan mendasar yang kerap terabaikan: kualitas iman dan bagaimana manusia mengakhiri hidupnya.

Antara Husnul Khatimah dan Su’ul Khatimah

Dalam ajaran Islam, akhir kehidupan memiliki makna yang sangat penting. Dua konsep yang dikenal luas adalah husnul khatimah (akhir yang baik) dan su’ul khatimah (akhir yang buruk). Keduanya bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari kebiasaan dan pilihan hidup seseorang.

Muh. Hanafi dalam khutbahnya menegaskan bahwa apa yang menjadi kebiasaan seseorang selama hidupnya akan sangat menentukan bagaimana akhir hidupnya. Karena itu, menjaga konsistensi dalam kebaikan menjadi kunci utama untuk meraih akhir yang baik.

Lima Golongan yang Perlu Diwaspadai

Dal am khutbah tersebut, dijelaskan lima golongan yang paling dikhawatirkan mengalami su’ul khatimah. Kelima golongan ini bukan hanya persoalan individu, tetapi juga mencerminkan kondisi sosial yang nyata.

1. Melalaikan Shalat

Golongan pertama adalah mereka yang melalaikan shalat. Dalam Islam, shalat merupakan tiang agama dan menjadi amal pertama yang akan dihisab di hari kiamat.

“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab adalah shalat. Jika baik, maka ia beruntung. Jika rusak, maka ia rugi.”

Melalaikan shalat tidak selalu berarti meninggalkannya sepenuhnya. Banyak yang masih menjalankan shalat, tetapi tidak tepat waktu, tidak khusyuk, atau sekadar formalitas.

Di tengah kesibukan dunia modern, shalat sering kali tersisih oleh urusan dunia. Padahal, shalat berfungsi sebagai pengingat dan penjaga moral manusia.

2. Kecanduan Minuman Keras dan Narkoba

Golongan kedua adalah mereka yang mengonsumsi minuman keras dan narkoba. Dalam ajaran Islam, segala sesuatu yang memabukkan diharamkan karena merusak akal.

Fenomena ini masih menjadi persoalan serius di masyarakat. Banyak kasus kriminal dan kecelakaan yang terjadi akibat pengaruh alkohol dan narkoba.

Ketergantungan terhadap zat tersebut tidak hanya merusak kesehatan fisik, tetapi juga menghancurkan kehidupan sosial dan spiritual seseorang.

3. Durhaka kepada Orang Tua

Golongan ketiga adalah mereka yang durhaka kepada orang tua. Dalam khutbah disebutkan bahwa durhaka termasuk dosa besar setelah syirik.

Perubahan gaya hidup modern sering kali membuat hubungan antara anak dan orang tua me njadi renggang. Kesibukan, perbedaan generasi, dan pengaruh budaya luar menjadi faktor yang memperburuk keadaan.

Durhaka tidak selalu berbentuk tindakan kasar. Sikap tidak peduli, mengabaikan, atau tidak menghormati orang tua juga termasuk dalam kategori ini.

4. Menzalimi Sesama

Golongan keempat adalah mereka yang menzalimi orang lain. Bentuk kezaliman sangat beragam, mulai dari ucapan hingga tindakan.

Di era digital, kezaliman bahkan dapat terjadi melalui media sosial, seperti menyebarkan fitnah, ujaran kebencian, dan perundungan.

Dalam Islam, kezaliman terhadap sesama manusia merupakan dosa yang sangat serius dan tidak akan dibiarkan tanpa pertanggungjawaban.

5. Terus-menerus Berbuat Dosa Tanpa Taubat

Golongan terakhir adalah mereka yang terus melakukan dosa besar tanpa keinginan untuk bertaubat. Dalam budaya Jawa dikenal istilah molimo, yaitu lima bentuk maksiat: zina, mabuk, berjudi, narkoba, dan mencuri.

Fenomena ini semakin terlihat dalam kehidupan modern, di mana berbagai bentuk kemaksiatan menjadi hal yang dianggap biasa.

Yang paling berbahaya adalah hilangnya rasa bersalah. Ketika dosa dianggap normal, maka kesadaran untuk bertaubat pun semakin menipis.

Relevansi dengan Kondisi Masyarakat Saat Ini

Pesan khutbah ini memiliki relevansi yang kuat dengan kondisi masyarakat saat ini. Kelima golongan tersebut mencerminkan berbagai krisis yang sedang terjadi:

Krisis spiritual akibat melalaikan ibadah
Krisis kontrol diri akibat kecanduan
Krisis keluarga akibat renggangnya hubungan orang tua dan anak
Krisis sosial akibat maraknya kezaliman
Krisis moral akibat normalisasi dosa

Di tengah kemajuan zaman, manusia menghadapi tantangan baru yang tidak hanya bersifat material, tetapi juga spiritual.

Jalan Menuju Husnul Khatimah

Khutbah ini tidak hanya memberikan peringatan, tetapi juga harapan. Setiap individu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Menjaga konsistensi shalat
Menjauhi hal-hal yang merusak akal
Berbakti kepada orang tua
Menjaga hubungan sosial dengan adil
Memperbanyak taubat

Perubahan tidak harus besar, tetapi harus dimulai dari kesadaran dan komitmen.

Khutbah Jumat ini menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak hanya soal pencapaian dunia, tetapi juga bagaimana seseorang menutup hidupnya.

Dalam dunia yang penuh distraksi, manusia sering lupa bahwa setiap langkah yang diambil akan menentukan akhir perjalanan hidupnya.

Pada akhirnya, setiap individu dihadapkan pada pilihan: menuju husnul khatimah atau justru su’ul khatimah. Pilihan itu ditentukan oleh apa yang dilakukan hari ini.*

Khutbah Jumat dari Kemenag RI mengulas lima golongan yang berisiko su’ul khatimah. Simak ulasan lengkap dan relevansinya dengan kondisi masyarakat modern.

Sources
Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories