![]()
RIWARA.id - Pemerintah saat ini tengah mengebut pembangunan Hunian Sementara atau Huntara bagi korban banjir di wilayah Sumatra. Salah satu lokasi yang masih tahap pembangunan adalah Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
Di lokasi tersebut, ada 600 unit Huntara yang dibangun oleh Badan Pengelola Investasi Danantara.
Sebagai informasi, tujuan utama pembangunan Huntara adalah menyediakan tempat tinggal yang aman, layak, dan memadai secara cepat bagi korban bencana alam.
Upaya itu sebagai solusi jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan dasar, melindungi dari risiko lanjutan, memfasilitasi pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi, serta menjadi jembatan menuju hunian tetap (huntap).
Huntara umumnya dibangun dengan waktu yang cepat dan material sederhana seperti papan kayu atau gubug darurat.
Huntara didirikan di lokasi yang aman serta jauh dari potensi bencana susulan, yang sesuai dengan standar dan kebutuhan masyarakat setempat.
Terkait pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan jika Huntara tersebut memiliki berbagai fasilitas yang memadai.
Dikutip Riwara.id dari akun Instagram @indonesiago.id, Sabtu 3 Januari 2026, fasilitas yang tersedia di Huntara di antaranya taman bermain, jaringan wifi, 14 dapur umum, 14 musala, 120 tiolet dan kamar mandi, kipas angin, lemari, listrik, dan ruang komunal.
Baca juga: INFO TERBARU! Data Penetapan NI PPPK Paruh Waktu di Kanreg XIII BKN Banda Aceh, per 31 Desember 2025
Huntara di Aceh Tamiang dibangun di atas lahan milik BUMN PT Perkebunan Nusantara (PTPN) seluas 5,8 hektar. Pembangunan dimulai 24 Desember 2025.
Pemerintah menargetkan di tahap awal bisa membangun 15.000 Huntara yang tersebar di 3 provinsi yang terdampak banjir dan longsor di Sumatra. Lokasi itu adalah Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Pemerintah berharap Huntara bisa menjadi solusi cepat dan berkelanjutan bagi masyarakat yang terdampak di wilayah bencana.
Huntara juga diharapkan bisa mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi di kawasan terdampak.
Pemulihan Pasca Bencana
Selain Huntara, pemerintah juga berupaya memulihkan infrastruktur seperti memperbaiki jalan nasional yang terputus akibat bencana alam.
Dari total 78 jalan nasional yang terputus, kini tinggal 6 titik ruas jalan yang belum tersambung. Konektivitas internet juga berangsur normal dengan tambahan 280 unit Starlink untuk daerah yang belum pulih.
Untuk pengadaan air bersih, ada ratusan sumur bor yang siap digunakan, yang merupakan hasil kerja sama dari TNI dan Polri.
Saat ini, sebanyak 87 RSUD juga sudah beroperasi dan beberapa puskesmas yang mulai dipulihkan.
Di sektor pendidikan, 587 sekolah dalam proses pembersihan yang ditargetkan bisa selesai 4 Januari 2026.
Dari sisi ekonomi, di Aceh ada 18 pasar yang mulai beroperasi. Di Sumatra Barat ada 2 pasar yang sudah beroperasi dan di Sumatra utara ada 46 pasar yang sudah beroperasi.
Pemerintah saat ini tengah mengebut pembangunan 15.000 Huntara bagi korban banjir di wilayah Sumatra.