
RIWARA.id — Vitiligo selama ini kerap dianggap sekadar masalah kosmetik. Namun temuan terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini menyimpan beban sosial dan psikologis yang jauh lebih dalam—terutama akibat stigma yang dipengaruhi oleh kepercayaan budaya.
Sebagaimana dilansir riwara.id pada hari ini, Sabtu (18/4/2026) dari European Medical Journal, sebuah tinjauan sistematis terhadap 23 studi mengungkap bagaimana persepsi masyarakat lintas budaya membentuk pengalaman hidup penderita vitiligo.
Kepercayaan Budaya Masih Membentuk Stigma
Dalam berbagai negara, vitiligo tidak hanya dipahami sebagai kondisi medis, tetapi juga dikaitkan dengan hal-hal non-ilmiah.
Beberapa masyarakat masih menganggap vitiligo sebagai:
Penyakit menular
Hukuman ilahi
Akibat kekuatan supranatural
Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat literasi kesehatan dan akses terhadap layanan dermatologi sangat memengaruhi cara masyarakat memahami penyakit tersebut.
Akibatnya, beban yang dirasakan pasien tidak hanya berasal dari kondisi kulit itu sendiri, tetapi juga dari tekanan sosial yang menyertainya.
Dampak Sosial dan Psikologis yang Tidak Terlihat
Studi tersebut menemukan bahwa stigma terhadap vitiligo terjadi secara konsisten di berbagai wilayah, meski dengan bentuk yang berbeda.
Pasien melaporkan menga lami:
Pengucilan sosial
Diskriminasi dalam pekerjaan
Hambatan dalam pernikahan
Rasa malu yang terinternalisasi
Dampak ini bahkan lebih terasa pada perempuan dan individu dengan warna kulit lebih gelap.
Kualitas Hidup Berbeda di Tiap Wilayah
Penelitian juga menunjukkan adanya kesenjangan signifikan dalam kualitas hidup penderita vitiligo di berbagai kawasan.
Dampak paling berat ditemukan pada populasi di:
Afrika
Timur Tengah
Asia Selatan
Sementara di negara Barat, beban sosial cenderung lebih ringan.
Hal ini menegaskan bahwa budaya tidak hanya memengaruhi persepsi, tetapi juga memperbesar dampak nyata yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi Bertahan
Dalam menghadapi stigma, pasien mengembangkan berbagai cara untuk bertahan, seperti:
Menyembunyikan area kulit yang terdampak
Mengandalkan keyakinan spiritual
Menggunakan pengobatan alternatif
Namun, strategi ini tidak selalu efektif dalam mengurangi tekanan psikologis jangka panjang.
Perawatan Vitiligo Harus Lebih dari Sekadar Kulit
Para peneliti menegaskan bahwa pendekatan medis terhadap vitiligo perlu diperluas.
Penanganan tidak cukup hanya fokus pada depigmentasi kulit, tetapi juga harus mencakup:
Edukasi masyarakat
Dukungan psikologis
Pengurangan stigma berbasis komunitas
Pendekatan multidisiplin berbasis budaya dinilai penting , terutama di wilayah dengan tingkat stigma tinggi.
Vitiligo bukan hanya persoalan kulit, melainkan juga isu sosial dan budaya yang kompleks.
Mengatasi kondisi ini membutuhkan upaya yang lebih luas—tidak hanya melalui terapi medis, tetapi juga dengan meluruskan persepsi masyarakat dan mengurangi stigma yang masih melekat.
Dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, kualitas hidup pasien vitiligo diharapkan dapat meningkat secara signifikan.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan publikasi ilmiah dan rujukan dari European Medical Journal. Informasi bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Untuk diagnosis dan penanganan, disarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit.
Inung R Sulistyo




Studi terbaru ungkap stigma terhadap vitiligo masih dipengaruhi kepercayaan budaya. Dampaknya tak hanya fisik, tapi juga sosial dan psikologis.