Riwara.id — Harga minyak dunia jatuh tajam hingga di bawah US$90 per barel setelah Iran memastikan Selat Hormuz “sepenuhnya terbuka” bagi kapal komersial. Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim kesepakatan untuk mengakhiri perang “sangat dekat”.
Penurunan harga ini mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, setelah jalur yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia itu kembali dibuka.
Namun di balik optimisme tersebut, tekanan militer dan negosiasi alot masih membayangi arah akhir konflik.
Selat Hormuz Dibuka, Tapi dengan Batasan
Menteri L uar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa seluruh kapal komersial kini dapat melintasi Selat Hormuz selama masa gencatan senjata.
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi semua kapal komersial dinyatakan sepenuhnya terbuka,” ujarnya.
Namun, seorang pejabat militer senior Iran menyebut bahwa hanya kapal nonmiliter yang diizinkan melintas, dan itu pun harus mendapat persetujuan dari Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.
Langkah ini menunjukkan bahwa meskipun jalur dibuka, kontrol ketat tetap diberlakukan oleh Teheran.
Harga Minyak Anjlok Tajam
Pasar global merespons cepat. Minyak mentah Brent turun hingga sekitar US$87,94 per barel, atau anjlok sekitar 11,5 persen dalam sehari. Sementara minyak mentah AS juga turun ke kisaran US$83,33 per barel.
Penurunan ini menjadi salah satu yang terbesar sejak konflik dimulai pada akhir Februari, ketika Iran sempat memblokir Selat Hormuz dan memicu lonjakan harga energi global.
Trump: Kesepakatan “Sangat Dekat”
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa peluang untuk mengakhiri konflik dengan Iran kini hampir tercapai.
Ia bahkan menyebut tidak ada lagi “titik buntu” dalam perundingan.
Trump juga mengklaim bahwa Iran telah setuju untuk tidak lagi menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik.
“Ia tidak akan lagi digunakan sebagai senjata terhadap dunia,” tulis Trump.
Meski demikian, AS tetap memper tahankan blokade laut terhadap Iran sebagai bentuk tekanan hingga kesepakatan benar-benar tercapai.
Negosiasi Nuklir Jadi Kunci
Salah satu isu utama dalam negosiasi adalah program nuklir Iran. Trump menyatakan bahwa AS ingin memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Dalam skema yang sedang dibahas, AS bahkan disebut akan membantu mengambil kembali uranium yang diperkaya dari Iran.
Namun klaim ini dibantah oleh media pemerintah Iran, yang menegaskan tidak pernah ada pembicaraan terkait pemindahan uranium ke AS.
Perbedaan narasi ini menunjukkan bahwa kesepakatan belum sepenuhnya solid.
Konflik Mematikan dan Dampak Global
Perang yang dimulai pada 28 Februari antara Iran, AS, dan Israel telah menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Selama konflik, Iran sempat menutup Selat Hormuz—jalur yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair dunia—sehingga memicu kekhawatiran besar di pasar global.
AS kemudian merespons dengan memblokade pelabuhan Iran di kawasan Teluk.
Lebanon dan Israel
Situasi juga dipengaruhi konflik di Lebanon. Gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel telah disepakati, meski belum jelas apakah Hizbullah akan sepenuhnya mematuhinya.
Trump bahkan menegaskan bahwa Israel “dilarang” melanjutkan serangan ke Lebanon oleh AS.
Di lapangan, pasukan penjaga perdamaian PBB melaporkan tidak ada ser angan udara besar sejak tengah malam, meski pelanggaran wilayah udara dan tembakan artileri masih terjadi.
Dunia Menunggu Kepastian
Meski harga minyak turun dan jalur energi kembali terbuka, ketidakpastian masih tinggi.
Di satu sisi, sinyal damai semakin kuat. Di sisi lain, perbedaan klaim, tekanan militer, dan negosiasi yang belum final menunjukkan bahwa konflik belum benar-benar berakhir.
Kini, perhatian dunia tertuju pada apakah kesepakatan yang disebut “sangat dekat” itu benar-benar terwujud—atau kembali tertunda di tengah tarik-menarik kepentingan global.*
Inung R Sulistyo





Iran membuka Selat Hormuz untuk kapal komersial, harga minyak langsung turun tajam. Trump menyebut kesepakatan damai dengan Iran hampir tercapai.