RIWARA.id – Ambisi Indonesia untuk memproyeksikan kekuatan di samudra luas sebagai Blue Water Navy semakin mewujud, karena Kapal induk ringan asal Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, dijadwalkan segera bersandar di pangkuan TNI Angkatan Laut melalui skema hibah strategis.
Kehadirannya tidak hanya menjadi simbol prestise, tetapi juga menandai perubahan doktrin pertahanan maritim Indonesia di tengah memanasnya suhu politik di Laut Natuna Utara.
BAPPENAS dilaporkan telah menyetujui pendanaan untuk akuisisi dan modernisasi kapal ini. Langkah ini diambil guna memastikan Sang Pionir dari Mediterania tersebut siap beroperasi penuh sebelum peringatan HUT TNI pada 5 Oktober 2026 mendatang.
Mengapa Hibah? Antara Strategi dan Modernisasi Italia
Pertanyaan besar muncul di kalangan pengamat: Jika kapal ini masih digdaya (battle-proven), mengapa Italia memberikannya secara hibah? Jawabannya terletak pada dinamika armada Marina Militare.
Italia saat ini tengah menyambut LHD Trieste, kapal amfibi raksasa 38.000 ton yang jauh lebih canggih dan mampu mengoperasikan jet tempur F-35B.
"Bagi Italia, Garibaldi adalah surplus pasca-hadirnya Trieste. Namun bagi Indonesia, ini adalah jalan pintas mendapatkan platform kapal induk tanpa harus menunggu proses pembangunan yang memakan waktu belasan tahun," ungkap seorang narasumber internal kementerian pertahanan.
Hibah ini juga menjadi "pintu masuk" bagi industri pertahanan Italia seperti Fincantieri untuk memperkuat kerja sama jangka panjang dengan Jakarta.
Spesifikasi: Kecil namun Mematikan
Meskipun bertajuk kapal induk ringan (Light Carrier), spesifikasi Garibaldi tetap menjadi ancaman serius di kawasan:
Dimensi: Panjang 180 meter, bobot mati 13.850 ton.
Performa: Kecepatan maksimal 30 knot berkat empat turbin gas General Electric/Avio LM2500.
Persenjataan: Dilengkapi sistem pertahanan udara rudal Albatros dan ta bung torpedo untuk menghadapi ancaman bawah air.
Kapasitas: Mampu menampung sekitar 600 hingga 800 personel, termasuk kru kapal dan wing udara.
Tantangan Wing Udara: Absennya Jet Tempur STOVL
Kritik tajam muncul mengenai efektivitas Garibaldi di Indonesia, mengingat TNI AL saat ini tidak memiliki jet tempur berkemampuan lepas landas vertikal (STOVL) seperti AV-8B Harrier atau F-35B.
Menjawab tantangan tersebut, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya integrasi teknologi nirawak. Garibaldi diproyeksikan bertransformasi menjadi Hybrid Drone Carrier.
Tanpa jet tempur, kapal ini akan menjadi "Mother Ship" bagi:
UCAV (Drone Tempur): Seperti Bayraktar TB3 asal Turki yang dirancang khusus untuk kapal dek pendek.
Helikopter AKS: Menjadi basis operasi helikopter AS565 MBe Panther untuk perburuan kapal selam, keseluruhan bisa muat 12-16 helikopter.
Pusat Komando: Menjadi titik kendali operasi amfibi dan pengawasan maritim jarak jauh.
Analisis: Jembatan Teknologi
Dr. Connie Rahakundini Bakrie, pengamat militer, menilai akuisisi ini sebagai langkah pembelajaran. "Ini adalah jembatan teknologi. Kita belajar bagaimana mengelola logistik, doktrin, dan manuver sebuah kapal induk. Biaya perawatannya memang tinggi, namun pengalaman yang didapat prajurit TNI AL dalam mengoperasikan kapal kelas berat tidak bisa dinilai dengan uang," jelasnya.
Dengan perkiraan kedatangan di pertengahan 2026, Giuseppe Garibaldi diharapkan tidak hanya menjadi penghuni dermaga, tetapi benar-benar menjadi aset strategis yang mampu mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan regional.
Ari Kristyono




ITS Giuseppe Garibaldi segera perkuat TNI AL! Intip spesifikasi, alasan hibah dari Italia, hingga tantangan operasional tanpa jet tempur STOVL.