RIWARA.id – ANALISIS. Keberhasilan evakuasi dramatis seorang operator sistem senjata (WSO) berpangkat kolonel dari jantung wilayah musuh di Pegunungan Zagros, Iran, melambungkan kembali nama Pararescue (PJ) Angkatan Udara AS.
Unit di bawah Air Force Special Operations Command (AFSOC) ini bukan sekadar tentara; mereka adalah satu-satunya pasukan elit dunia yang dilatih khusus untuk tugas Pencarian dan Penyelamatan Tempur (Combat Search and Rescue/CSAR) di medan paling mustahil.
Motto mereka, "That Others May Live" (Agar Orang Lain Dapat Hidup), bukan sekadar slogan. Dalam misi terbaru di Iran, tim PJ harus menembus kepungan unit komando Faraj Rangers dan medan terjal menggunakan senapan serbu XM8 terbaru.
Penggunaan XM8 kaliber 6.8 mm ini menjadi krusial karena bobotnya yang ringkas, memungkinkan personel PJ melakukan perawatan medis darurat sambil tetap memberikan perlawanan taktis di celah bebatuan sempit.
Sejarah PJ lahir dari tragedi Perang Dunia II pada 1943, saat Kapten Don Fleckinger melakukan terjun payung darurat di jalur maut "The Hump" untuk merawat korban pesawat jatuh di hutan India.
Secara resmi disahkan pada 1946, unit ini telah terli bat dalam berbagai palagan besar, mulai dari menjemput pilot di hutan Vietnam, pertempuran jalanan di Mogadishu (Somalia), hingga ribuan misi di Afghanistan dan Irak.
Kini, Operasi Epic Fury 2026 di Iran menjadi catatan emas terbaru dalam sejarah panjang mereka.
Menjadi seorang PJ adalah tantangan mental yang brutal. Melalui pelatihan "The Pipeline" dengan tingkat kegagalan mencapai 90%, saat ini diperkirakan hanya ada 500 hingga 800 personel PJ aktif di seluruh dunia.
Mereka adalah paramedis bersertifikasi tertinggi yang membawa beban perlengkapan luar biasa berat; mulai dari kit bedah lapangan, unit transfusi darah, hingga alat ekstrikasi seperti pemotong hidrolik untuk membelah kabin pesawat yang hancur.
Keberhasilan membawa pulang sang kolonel dari Iran tanpa cedera tambahan membuktikan mengapa Pentagon rela merogoh kocek hingga US$2 miliar dalam satu misi evakuasi.
Bagi para pilot tempur, kehadiran baret marun di medan laga adalah jaminan mutlak bahwa mereka tidak akan pernah ditinggalkan sendirian di wilayah musuh. Investasi besar ini menegaskan bahwa bagi militer AS, nyawa satu personel jauh lebih berharga daripada hilangnya aset pesawat pendukung di medan tempur. (*)
Ari Kristyono



Mengenal Pararescue (PJ), pasukan elit penyelamat nyawa di jantung konflik Iran. Intip sejarah, kekuatan, hingga senjata XM8 yang mereka bawa.