JAKARTA, RIWARA.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Kamis (9/4/2026), seiring meningkatnya tekanan global yang belum mereda meski terdapat kesepakatan gencatan senjata di Timur Tengah.
Di pasar spot, rupiah dibuka di level Rp17.038 per dolar AS, melemah 0,16% dibandingkan penutupan sebelumnya. Tak lama berselang, tekanan berlanjut hingga rupiah tergelincir 0,25% ke posisi Rp17.053 per dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia.
Gencatan Senjata Tak Efektif, Jalur Minyak Terganggu
Meski sempat muncul harapan dari gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, pasar menilai dampaknya belum signifikan terhadap stabilitas global.
Gangguan distribusi energi masih terjadi di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak dunia—yang dilaporkan masih sebagian terblokir.
Situasi semakin kompleks setelah Israel melanjutkan serangan ke Lebanon, memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan gencatan senjata berpotensi gagal.
Harga Minyak Rebound, Tekan Mata Uang Asia
Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah global:
Brent naik 2,74% ke US$97,35 per barel
WTI melonjak 3,33% ke US$97,55 per barel
Kenaikan harga energi ini menjadi faktor utama pelemahan mata uang Asia, karena meningkatkan tekanan inflasi dan beban impor energi.
Sejumlah mata uang kawasan ikut melemah, di antaranya:
Baht Thailand
Won Korea Selatan
Ringgit Malaysia
Yen Jepang
Dolar Singapura
Yuan China
Dolar AS Masih Melemah, Tapi Tak Cukup Menahan Rupiah
Indeks dolar AS (DXY) memang masih berada dalam tren melemah tipis, turun 0,03% ke level 99,05. Namun pelemahan ini belum cukup kuat untuk menopang rupiah.
Hal ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih didominasi oleh faktor domestik dan regional dibandingkan pergerakan dolar global.
Kinerja Ekspor Melemah, Bantalan Rupiah Menipis
Dari dalam negeri, tekanan tambahan datang dari melemahnya kinerja ekspor Indonesia.
Surplus neraca perdagangan Februari tercatat sebesar US$1,28 miliar, di bawah ekspektasi pasar US$1,58 miliar.
Pertumbuhan ekspor juga melambat hanya 1,01% secara tahunan.
Penurunan terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor batu bara:
Turun 8,31% (bulanan)
Turun 15,65% (tahunan) menjadi US$2,25 miliar
Kondisi ini menjadi sinyal awal bahwa bantalan eksternal Indonesia mulai melemah di t engah tekanan global yang masih tinggi.
Defisit Transaksi Berjalan Mengintai
Kenaikan harga minyak berpotensi memperburuk neraca eksternal Indonesia.
Sebagai negara net importir minyak, lonjakan harga energi:
Meningkatkan biaya impor
Memperbes ar risiko defisit transaksi berjalan
Menekan ruang fiskal melalui subsidi energi
Intervensi Bank Indonesia Mulai Terlihat dari Cadangan Devisa
Upaya stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia terus dilakukan melalui intervensi di pasar valas dan obligasi.
Namun, strategi ini berdampak pada penurunan cadangan devisa yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut:
Desember 2025: US$156,47 miliar
Januari 2026: US$154,58 miliar
Februari 2026: US$151,9 miliar
Maret 2026: US$148,2 miliar
Penurunan yang semakin dalam menunjukkan tekanan eksternal yang persisten, terutama sejak konflik Timur Tengah memanas.
Level Psikologis Rp17.000 Jadi Sorotan
Sepanjang Maret 2026, rupiah sempat mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, mencerminkan tingginya volatilitas pasar.
Kondisi ini menegaskan bahwa stabilitas rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh:
Geopolitik global
Harga komoditas energi
Arus modal asing
Outlook: Rupiah M asih Rentan
Analis menilai, dalam jangka pendek rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, terutama jika:
Konflik Timur Tengah berlanjut
Harga minyak tetap tinggi
Arus modal asing belum stabil
Intervensi otoritas moneter diperkirakan mampu meredam volatilitas, namun dengan ruang yang semakin terbatas.*
Inung R Sulistyo


 menunjukkan pelemahan pada awal perdagangan Kamis (942026), di tengah tekanan sentimen global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak dunia..jpg)

Rupiah melemah ke Rp17.053 per dolar AS pada 9 April 2026. Lonjakan harga minyak dan konflik Timur Tengah tekan nilai tukar di tengah penurunan cadangan devisa.