Nyawa di Atas Roket: Mengenal Kursi Lontar, Teknologi Terakhir Penyelamat Pilot Tempur

  • Ari Kristyono
  • Minggu, 05 April 2026 | 10:12 WIB
  • Default Publisher Publish by: Ari Kristyono
Simulasi penggunaan kursi lontar dari pesawat tempur F-35
Simulasi penggunaan kursi lontar dari pesawat tempur F-35 (Foto: Martin Baker)

 

RIWARA.id – ANALISIS. Jatuhnya sejumlah jet tempur dalam konflik terbaru di Timur Tengah kembali menyoroti satu teknologi krusial: kursi lontar (ejection seat).

Saat pesawat bernilai triliunan rupiah tertembak dan tidak mungkin lagi dikendalikan, kursi inilah yang menjadi satu-satunya harapan bagi pilot untuk selamat dari maut dalam hitungan milidetik.

Teknologi kursi lontar modern bukan sekadar "kursi yang melompat". Ia adalah sistem robotik kompleks yang bekerja secara otomatis.

Begitu pilot menarik tuas ejection, serangkaian proses eksplosif terjadi. 

Kanopi pesawat diledakkan, dan roket di bawah kursi menyala untuk melontarkan pilot keluar dengan tekanan gravitasi (G-force) yang sangat ekstrem agar terhindar dari benturan ekor pesawat yang sedang melaju kencang.

Salah satu produsen kursi lontar paling legendaris adalah Martin-Baker dari Inggris.

Perusahaan ini bahkan memiliki "Ejection Tie Club"—sebuah klub eksklusif bagi pilot yang nyawanya pernah selamat berkat kursi buatan mereka. 

Dalam laman resminya, Martin Baker menyebutm hingga saat ini, lebih dari 7.600 pilot di seluruh dunia telah terdaftar sebagai anggota klub tersebut.

Kursi lontar generasi terbaru, seperti ACES II yang digunakan pada jet tempur AS atau kursi buatan Rusia (K-36), sudah memiliki kemampuan Zero-Zero.

Artinya, kursi ini mampu melontarkan pilot dengan aman meskipun pesawat dalam posisi diam di darat (zero altitude, zero airspeed). 

Sensor canggih di dalam kursi akan mengatur arah roket agar pilot tetap terlontar ke atas, bukan ke samping atau ke bawah, sebelum parasut otomatis terkembang.

Meskipun menyelamatkan nyawa, proses ini bukanlah tanpa risiko. Salah satu kasus paling terkenal adalah kecelakaan F-14 Tomcat milik Angkatan Laut AS pada tahun 1991.

Saat itu, pilot melakukan ejection, namun kursi meluncur sebelum kanopi pesawat lepas sepenuhnya.

Akibatnya, pilot menghantam kaca kanopi dalam kecepatan tinggi yang menyebabkan kematian seketika.

Teknologi modern kini sudah dilengkapi canopy breaker (pemecah kaca) pada bagian atas kursi untuk mencegah hal ini.

Kegagalan lain, pilot seringkali mengalami cedera tulang belakang atau memar hebat akibat akselerasi instan yang luar biasa. 

Meskipun ada teknologi Zero-Zero, setiap kursi lontar punya batasan atau "amplop" operasional.

Kasus fatal bisa terjadi jika pesawat dalam posisi terbalik (inverted) pada ketinggian rendah saat lontaran dilakukan.

Bukannya meluncur ke atas, pilot justru "ditembakkan" langsung ke tanah.

Atau ejection saat kecepatan vertik al terlalu tinggi (misal saat menukik tajam) sehingga parasut tidak punya waktu cukup untuk terbuka sempurna.

Namun, dibandingkan kehilangan aset manusia yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dilatih, teknologi kursi lontar tetap menjadi investasi paling bernilai dalam setiap pesawat tempur modern. (*)

 

Bagaimana kursi lontar menyelamatkan pilot dalam hitungan detik? Intip kecanggihan teknologi 'penjaga nyawa' yang bernilai miliaran rupiah.

Foto Editor
Author : Ari Kristyono

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

Topic News