IHSG Anjlok 1,89% ke 7.164, Asing Kabur Rp20,7 Triliun: BBCA, BBRI hingga GOTO Dilepas Besar-besaran

  • Inung R Sulistyo
  • Jumat, 27 Maret 2026 | 08:41 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo

RIWARA.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan dalam perdagangan Kamis, 26 Maret 2026. Indeks ditutup di zona merah dengan penurunan tajam sebesar 138,02 poin atau 1,89% ke level 7.164,09, seiring derasnya aksi jual investor asing di pasar saham domestik.

Data perdagangan menunjukkan, investor asing mencatatkan net sell jumbo mencapai Rp20,71 triliun di seluruh pasar. Tekanan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa waktu terakhir dan mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global terhadap aset berisiko di emerging markets, termasuk Indonesia.

Aksi jual asing terpantau terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), khususnya sektor perbankan yang selama ini menjadi penopang utama IHSG.

Saham BBCA milik Bank Central Asia Tbk menjadi yang paling banyak dilepas asing dengan nilai net sell mencapai Rp555,54 miliar. Tekanan jual tersebut membuat saham BBCA melemah 0,36% dan ditutup di level Rp6.875 per saham.

Di posisi berikutnya, saham BBRI dari Bank Rakyat Indonesia Tbk mencatat net sell sebesar Rp201,09 miliar, disusul BBNI milik Bank Negara Indonesia Tbk dengan Rp157,18 miliar.

Tidak hanya sektor perbankan, tekanan juga terjadi pada saham teknologi dan komoditas. Saham GOTO dari GoTo Gojek Tokopedia Tbk dilepas asing sebesar Rp120,48 miliar, sementara ANTM milik Aneka Tambang Tbk mencatat net sell Rp117,46 miliar.

Beberapa saham lain yang juga mengalami tekanan jual asing antara lain:

PTRO – Rp80,4 miliar
DEWA &n dash; Rp64,74 miliar
TLKM – Rp64,71 miliar
AMMN – Rp57,7 miliar
BUVA – Rp47,34 miliar
Rotasi ke Saham Energi dan Komoditas

Di tengah derasnya aksi jual, investor asing justru melakukan akumulasi terbatas pada sejumlah saham berbasis energi dan komoditas. Fenomena ini menunjukkan adanya rotasi sektor di tengah ketidakpastian pasar.

Saham AADI dari Adaro Andalan Indonesia Tbk menjadi incaran utama dengan net buy mencapai Rp171,91 miliar. Namun menariknya, meski diborong asing, saham ini tetap melemah 1,79% ke level Rp10.975 per saham—mengindikasikan tekanan pasar yang masih dominan.

Selanjutnya, saham INCO milik Vale Indonesia Tbk dibeli bersih Rp64,33 miliar, diikuti MEDC dari Medco Energi Internasional Tbk sebesar Rp37,33 miliar.

Saham alat berat UNTR (United Tractors Tbk) juga masuk daftar akumulasi dengan net buy Rp36,94 miliar, bersama INDF dari Indofood Sukses Makmur Tbk sebesar Rp21,42 miliar.

Daftar lengkap saham yang paling banyak dibeli asing:

RLCO – Rp11,52 miliar
MDKA – Rp10,11 miliar
EMAS – Rp9,19 miliar
AKRA – Rp7,58 miliar
INDY – Rp7,49 miliar
Sentimen Global Jadi Pemicu

Pelaku pasar menilai tekanan terhadap IHSG tidak lepas dari kombinasi sentimen global, termasuk kekhawatiran terhadap arah suku bunga global, pergerakan yield obligasi Amerika Serikat, serta potensi perlambatan ekonomi dunia.

Aksi jual besar-besaran oleh investor asing juga kerap dipicu oleh strategi rebalancing portofolio global, di mana dana asing keluar dari pasar negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman.

Selain itu, pelemahan pada saham perbankan—yang memiliki bobot besar da lam IHSG—turut memperdalam koreksi indeks secara keseluruhan.

 Waspada Volatilitas

Dengan tekanan jual asing yang masih tinggi, pasar saham domestik diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Investor disarankan untuk mencermati pergerakan dana asing (foreign flow) serta dinamika global sebagai indikator utama arah pasar.

Di sisi lain, rotasi ke sektor energi dan komoditas bisa menjadi peluang, terutama jika didukung oleh tren harga global yang masih relatif kuat.

Namun demikian, kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan, sehingga strategi defensif dan selektif tetap menjadi kunci bagi pelaku pasar dalam menghadapi volatilitas IHSG ke depan.*

IHSG ditutup anjlok 1,89% ke level 7.164,09 pada Kamis (26/3/2026) akibat aksi jual besar investor asing yang mencapai Rp20,71 triliun. Saham BBCA, BBRI, hingga GOTO menjadi yang paling banyak dilepas, sementara AADI dan INCO justru diborong.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News