RIWARA.id – Operasi True Promise 4 dari Iran telah mengirimkan sejumlah rudal ke berbagai sasaran di Israel dan dilaporkan menimbulkan sejumlah kerusakan serius.
Teknologi sistem pertahanan udara Israel yang dikenal canggih seperti Iron Dome, terbukti tidak cukup mampu menangkis semua serangan.
Sementara itu, belum lama ini Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan sebuah pertanyaan: Apa yang terjadi jika Jakarta diserang dari udara?
Sang jenderal sepuh yang dikenal sebagai seorang pemikir dan pernah memimpin negeri ini sepanjang 2 periode, pastinya memiliki alasan untuk mempertanyakan hal itu, yang sangat relevan dengan situasi kekinian.
Mantan Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Hadi Tjahjanto semasa menjabat pernah menyebut, kekuatan pertahanan Indonesia terus diperkokoh dengan meningkatkan interoperabilitas alutsista yang dimiliki ketiga matra TNI.
Namun, tulang punggung pertahanan yang melindungi langit Jakarta terletak di kawasan pantai tidak jauh dari Bandara Internasional Soekarno Hatta. Tepatnya di Teluk Naga, di mana NASAMS (National Advanced Surface-to-Air Missile System) ditempatkan.
NASAMS menggabungkan sistem radar pelaca k dengan peluru kendali yang diklaim sangat efektif untuk melumpuhkan berbagai bentuk serangan pesawat tempur, helikopter, drone, juga peluru kendali yang menyasar objek-objek vital di Ibu Kota.
Sistem ini menggunakan teknologi yang diimpor dari dua negara. Kongsberg Defence & Aerospace (Norwegia) menangani integrasi sistem, pusat kendali tembakan (FDC), dan beberapa komponen radar.
Sedangkan Raytheon (RTX Corporation (Amerika Serikat) menyediakan sistem radar (seperti AN/MPQ-64 Sentinel) dan rudal pencegat utamanya, yaitu rudal AIM-120 AMRAAM.
Dioperasikan oleh Satrudal 111 TNI Angkatan Udara, NASAMS total berkekuatan 2 baterai, masing-masing terdiri dari 12 peluncur rudal dengan setiap peluncur memiliki 6 rudal AIM-120 AMR A AM), delapan radar, pos komando (CTOC), dan kamera elektro-optik (MSP 500).
Dengan jangkauan tembak dasar 25-40 km (bisa ditingkatkan hingga 50 km tergantung versi rudal), NASAMS mampu mendeteksi, mengidentifikasi sekaligus melacak sejumlah target secara bersamaan.
Tak heran sejumlah negara menggunakan teknologi yang sama seperti Amerika Serikat, Ukraina, Norwegia, Denmark, Lithuania, Findlandia, Australia, Oman, dan lain-lain.
Bahkan Taiwan yang saat ini merasa sangat terancam oleh kekuatan militer China, memesan NASAMS dengan rudal AMRAAM-ER yang membuat kekuatannya meningkat drastis.
Kelebihan lain, NASAMS yang dimiliki Indonesia juga bisa dipindahkan dengan cepat, sesuai kebutuhan.
Yang mugkin menjadi celah kelemahan, adalah masalah ju ml ah unit yang dimiliki. Dua baterai, tergolong pas-pasan untuk mengamankan wilayah udara Jakarta seluas 661 km persegi.
Dan jika serangan datang bertubi-tubi dari segala arah, kemungkinan akan terjadi kelterlambatan pengisian rudal, sehingga berpotensi serangan tidak sepenuhnya bisa diatasi. (*)
Ari Kristyono






Di tengah serangan rudal Iran ke Israel, bagaimana kesiapan NASAMS TNI AU melindungi langit Jakarta dari ancaman serangan udara modern?