BCA Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 Tumbuh 5,1 Persen, Kebijakan Menggelontorkan Dana dari Kemenkeu Dinilai Belum Maksimal

  • Windy Anggraina
  • 16 Desember 2025
  • Default Publisher Publish by: Windy Anggraina

Riwara.id – Menjelang tutup tahun 2025, sektor perbankan mulai memprediksi pertumbuhan laju ekonomi di tahun 2026. Tentu ada banyak parameter yang digunakan untuk memprediksi bagaimana pertumbuhan ekonomi Indonesia dan ekonomi global di tahun mendatang.

PT Bank Central Asia Tbk atau BCA memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 5,1-5,2 persen. 

Prediksi ini di bawah target pemerintah pada APBN 2026 sebesar 5,4 persen dan di bawah proyeksi Bank Indonesia (BI) sebesar 5,3 persen. 

Dikutip Riwara.id dari laman bca.co.id, Selasa, 16 Desember 2025, Chief Economist BCA David Sumual mengatakan, pihaknya optimistis ekonomi nasional bakal tumbuh di atas 5 persen pada 2026 seiring dengan dimulainya aktivitas investasi BPI Danantara di pasar modal. 

"Kita melihat sekitar 5,1-5,2 persen tahun depan mudah-mudahan tercapai. Apalagi dengan mulai bergeraknya Danantara harapannya ekonomi berputar," ujarnya.

Pada Oktober 2025 tingkat kredit menganggur (undisbursed loan) kembali naik ke level 22,97 persen meskipun Kemenkeu telah menggelontorkan dana pemerintah ke perbankan sebesar Rp 200 triliun sejak 13 September 2025. 

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menunjukkan pertumbuhan ekonomi Oktober yang sebesar 7,36 persen melambat dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 7,70 persen. 

"Misalnya ditaruh dana Rp 200 triliun, tapi enggak berputar, nggak jadi kredit, sama aja bohong. Jadi uang itu harus berputar, harus ada orang belanja, ambil kredit, berputar," jelasnya. 

Pertumbuhan ekonomi tahun depan mustahil akan mencapai 6 persen seperti optimisme yang digaungkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa beberapa waktu lalu. Mengingat di pengujung tahun ini, sebanyak tiga provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, mengalami bencana banjir bandang dan tanah longsor. 

Hal ini tentu akan mempengaruhi perekonomian daerah terdampak dan arus logisti k nasional. Bencana ini berpotensi mengurangi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,32 persen. 

Efek bencana Sumatera akan menurunkan 25,53 persen belanja masyarakat Sumatera Barat, 22,31 persen belanja masyarakat Sumatera Utara, dan 23,92 persen belanja masyarakat Aceh. 

Sementara dari sisi eksternal, pertumbuhan ekonomi tahun depan akan dipengaruhi oleh momen ketegangan antara China dan Jepang, konflik geopolitik, hingga ketegangan lainnya. 

Selain itu, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed, baik dari sisi suku bunga acuan maupun pemilihan ketua The Fed, juga bakal turut mempengaruhi kondisi perekonomian. Oleh karenanya, dibutuhkan kebijakan akomodatif untuk transmisi pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat pada 2026.***

 

Berikut informasi tentang BCA proyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 di angka 5,1 persen, kebijakan Kemenku belum maksimal dorong laju ekonomi nasional

Foto Default
Author : Windy Anggraina

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Excepturi doloribus unde molestias laborum delectus adipisci, eos repellat in debitis cum impedit numquam, architecto, facilis.

Topic News
Related News