Harga Gas Eropa Tembus 100 Euro Per MWh, Imbas Perang di Timur Tengah dan Jalur Laut Lumpuh

Selasa, 03 November 2026 | 09:39 WIB
Harga energi di Eropa meningkat drastis
Harga energi di Eropa meningkat drastis (Foto: Vox)

 

RIWARA.id - Imbas perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran dan Houthi melawan Arab Saudi membuat harga gas alam di Eropa meningkat drastis. 

Dilansir dari Xinhua, harga gas alam di Eropa sudah naik di atas 100 euro per megawatt-jam untuk pertama kalinya sejak perang Rusia-Ukraina meletus pada 2022 lalu. 

Kenaikkan harga ini terjadi karena adanya gangguan pasokan gas alam cair (LNG) dari Timur Tengah dan persediaan menjelang musim dingin yang akan segera tiba.

Contoh saja gas alam Title Transfer Facility (TTF) Belanda yang sudah naik ke level tertinggi intraday 100,75 euro per megawatt-jam.

Dari data Gas Infrastructure Europe, fasilitas penyimpanan gas Uni Eropa hanya terisi sekitar 74,9 persen saja, jauh di bawah tingkat normal. 

Tingkat penyimpanan di Jerman dan Belanda juga hanya di tingkatan 61,7 persen dan 65,5 persen yang membuat tekanan di tengah musim dingin yang akan segera tiba. 

Ketidakpastian akan terhentinya perang di Timur Tengah membuat harga gas alam cair semakin meningkat secara global.

Lalu banyaknya permintaan dari negara Asia dan Eropa di tengah musim dingin juga mendorong kenaikan harga gas alam global. 

Banyak Kapal Tabrak Ranjau

Di sisi lain, banyak kapal-kapal yang terbakar, tenggelam dan hilang akibat menabrak ranjau di Selat Hormuz.

Terbaru, tiga kapal tanker karam akibat menghantam ranjau di Selat Hormuz walaupun Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim sudah "membersihkan" perairan tersebut. 

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim kalau militer AS sudah membersihkan ranjau-ranjau di jalur pelayaran utama Selat Hormuz. 

Ribuan kapan diklaim oleh CENTCOM sudah melintas perairan tersebut.

Berbeda dengan CENTCOM, IRGC menyebut bahwa tiga kapal tanker yang terkena ranjau akibat melanggar batas karena melawati rute yang dilarang oleh pemerintah Iran.

IRGC menyebut tiga kapal tanker tersebut sudah menonatkfikan sistem radal dan navigasi serta mengabaikan peringatan yang dikeluarkan oleh angkatan laut IRGC. 

Dari video-video yang beredar, terlihat kapal-kapal yang terbalik dan muatan kontainer yang berserakan di tengah laut.

Ada juga laporan terkait hilangnya awak-awak kapal akibat kapal yang karam dan tenggelam. 

Sampai saat ini, perang antara AS dan Iran masih belum ada kejelasan kapan akan berhenti. 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang fokus pada pemilu sela di bulan November, begitu juga dengan pemilu Perdana Menteri di Israel.

Semoga Bermanfaat.***

Eropa Terancam Pembekuan Musim Dinamitis: Pasokan Gas Menipis di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran

Editor
Calvin Natanael -

Tech Journalist

 Stories