RIWARA.id – Langkah Indonesia menggenjot hilirisasi mineral mentah menjadi komponen baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) bernilai tinggi telah berjalan selama satu dekade.
Strategi ambisius ini dilakukan dengan membatasi ekspor nikel mentah, menarik investasi asing, serta membangun kapasitas pengolahan dalam negeri guna menopang industri kendaraan listrik dan penyimpanan energi masa depan.
China memegang peranan sangat sentral dalam ambisi besar tersebut.
Perusahaan-perusahaan asal China mengucurkan modal, teknologi, keahlian teknik, hingga akses ke jaringan industri global yang selama ini tidak dimiliki Indonesia.
Sebaliknya, Indonesia menawarkan pasokan nikel melimpah yang sangat dibutuhkan China, pasar yang terus berkembang, serta basis produksi strategis di kawasan Asia Tenggara.
Dominasi Indonesia di sektor ini terbukti sangat kuat pada 2024, di mana Indonesia menyumbang sekitar 62 persen dari total produksi tambang nikel dunia dan mengukuhkan posisinya sebagai produsen terbesar secara global.
Kemitraan ini menyatukan dua kekuatan ekonomi yang berbeda, yaitu melimpahnya sumber daya alam Indonesia dengan ekosistem industri China yang sangat dominan.
Namun, setelah sepuluh tahun berjalan, muncul keraguan besar mengenai keberhasilan strategi tersebut.
Publik dan para pakar mulai mempertanyakan apakah kemitraan ini benar-benar mendorong peningkatan kapasitas industri nasional atau justru makin menjerat Indonesia dalam orbit industri China.
Keunggulan China sendiri tidak sekadar terletak pada kapasitas produksi baterai yang melimpah, melainkan pada ekosistem terintegrasi yang dibangun lebih dari dua dekade.
Studi komparatif dari Carnegie Endowment mengungkapkan bagaimana Beijing memadukan penciptaan permintaan, kebijakan industri, skala manufaktur, dan peningkatan teknologi hingga menjadi pemimpin global.
Beijing, sebagaimana diulas Asia Times akhir Oktober, tidak memulai jalurnya dengan menyuntikkan subsidi langsung ke pabrik baterai raksasa.
Program awal EV China fokus pada penciptaan permintaan pasar, sementara kebijakan industri mendorong para produsen untuk terus meningkatkan skala dan kinerja produk.
Salah satu langkah penting terjadi pada 2015 lewat kebijakan white list baterai, yang mengaitkan insentif EV dengan pemasok baterai terdaftar yang memenuhi standar inovasi dan kapasitas produksi minimal.
Kebijakan perlindungan tersebut menguntungkan produsen domestik seperti CATL dan BYD untuk berkembang pesat, sebelum akhirnya dicabut pada 2019 setelah industri lokal dinilai sanggup bersaing secara mandiri.
China kemudian memperluas skala industri baterai dengan menyerap produksi tidak hanya untuk kendaraan listrik, tetapi juga untuk sistem penyimpanan energi stasioner (stationary energy storage).
Pada 2025, penjualan kendaraan listrik di China sudah menyumbang lebih dari separuh total penjualan mobil penumpang, menjadikan industri baterai semakin mapan dan mandiri.
Kini, pemerintah China mulai mengalihkan dukungan kebijakan ke teknologi bernilai lebih tinggi seperti baterai solid-state, sembari memangkas kelebihan kapasitas di sektor berteknologi rendah.
Ekosistem raksasa dan sangat maju inilah yang kini coba dimasuki dan diimbangi oleh Indonesia agar tidak sekadar menjadi penyedia bahan mentah semata.(*)
Dekade hilirisasi nikel Indonesia dan dominasi ekosistem baterai EV China. Akankah industri nasional mandiri? Simak ulasannya!