RIWARA.id - Lonjakan titik panas (hotspot) karhutla sudah mencapai 20.334 titik dalam sehari dan ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dilansir dari DPR.go.id, pemerintah harus mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan yang kondisi asapnya juga sudah masuk ke dalam kategori berbahaya. Wl
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman menilai peningkatan titik hotspot harus segera direspon dengan cepat sebelum berkembang menjadi kebakaran hutan yang lebih luas lagi.
Kalau melihat Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan per 14 Oktober 2026, total sebanyak 20.334 titik panas terdeteksi di Indonesia dalam periode 24 jam.
“Angka tersebut harus menjadi perhatian serius. Konsentrasi titik panas dalam jumlah besar dapat menjadi sinyal awal yang membutuhkan pemeriksaan dan respons cepat di lapangan,” kata Alex Indra Lukman yang dikutip dari DPR.go.id.
Laporan tersebut juga tercatat ada 1.085 hotspot nasional dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence).
Di enam provinsi prioritas yang terdampaknya parah, jumlah hotspot melonjak menjadi 542 titik dari yang sebelumnya 238 titik.
Lalu, dari total hotspot yang terdeteksi, total ada 1.784 titik yang mempunyai kepercayaan tinggi, 17.916 tingkat sedang dan 634 tingkat rendah.
Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat jumlah terbanyak yaitu 11.166 titik, lalu Sumatera Selatan 2.404 titik dan Kalimantan Selatan sebanyak 1.156 titik.
Menurut Alex, pemerintah tidak boleh menunggu hingga kebakaran semakin membesar sebelum meningkatkan langkah penanganan.
“Pemerintah tidak boleh menunggu sampai api membesar, asap meluas, atau masyarakat mulai mengalami gangguan kesehatan untuk meningkatkan penanganan,” tuturnya.
Alex juga menyinggung teknologi satelit yang sudah sangat membantu pemerintah memantau wilayah yang luas dan melakukan identifikasi kebakaran terjadi.
Tapi, efektivitas dari satelit juga masih sangat bergantung kepada kecepatan petugas dalam menindaklanjuti informasi tersebut di lapangan.
“Teknologi satelit telah membantu Pemerintah memantau wilayah yang luas dan mengidentifikasi indikasi kebakaran.Namun, manfaatnya sangat bergantung pada kemampuan petugas menindaklanjuti informasi tersebut,” ungkap Alex.
Dirinya juga meminta setiap titik panas yang berisiko tinggi agar segera diverifikasi lewat pengecekan lapangan, patroli dan koordinasi dengan pemerintah daerah (pemda) serta masyarakat setempat.
“Wilayah dengan konsentrasi hotspot tinggi harus menjadi prioritas, terutama jika berdekatan dengan permukiman, kawasan gambut, lahan pertanian, atau area yang sulit dijangkau,” jelasnya.
Terakhir, Alex menjelaskan bahwa peningkatan hotspot menjadi sinyak bahwa sistem pencegahan karhutla harus bekerja lebih cepat dan lebih terarah agar kebakaran bisa dicegah sejak dini.
Semoga Bermanfaat.***
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman menilai peningkatan titik hotspot harus segera direspon dengan cepat sebelum berkembang menjadi kebakaran hutan yang lebih luas lagi.