Ancaman El Nino Ekstrem Mengintai Indonesia: Suhu Pasifik Rekor Tertinggi, Puncak Bahaya Diprediksi Desember 2026

Senin, 12 Oktober 2026 | 19:07 WIB
Ilustrasi - BMKG Prediksi Puncak Kemarau dan Fenomena El Nino
Ilustrasi - BMKG Prediksi Puncak Kemarau dan Fenomena El Nino (Foto: magnific.com)

RIWARA.id – Fenomena El Niño tahun 2026 berpotensi berkembang menjadi yang terkuat dalam lebih dari setengah abad terakhir setelah suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.

Ancaman iklim global ini memicu sinyal bahaya serius bagi berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia yang membayangi potensi kekeringan parah.

Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) mencatat suhu harian di Pasifik tropis melonjak hingga 3,3 derajat Celsius di atas ambang batas normal.

Atas kondisi mengkhawatirkan tersebut, NOAA langsung menaikkan probabilitas El Niño ekstrem ini mencapai puncak kekuatannya dari 75 persen menjadi 83 persen.

Ilmuwan Iklim dari Universitas California Los Angeles, Daniel Swain, menegaskan bahwa lonjakan suhu global ini menjadi peringatan keras bagi seluruh dunia.

"Lampu bahaya semua menyala. Peristiwa El Niño ekstrem ini akan berdampak luas secara global," ujar Daniel Swain saat memperingatkan kondisi iklim dunia yang makin memanas.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) turut memproyeksikan puncak keparahan El Niño bakal terjadi pada Desember 2026 mendatang.

WMO mengalkulasi suhu rata-rata permukaan laut pada puncak fenomena tersebut dapat menyentuh angka 4,8 derajat Celsius di atas rata-rata normal.

Mekanisme El Niño sendiri terjadi akibat melemah atau berbaliknya arah angin pasat yang kemudian mendorong hamparan air hangat mengalir deras ke arah timur.

Pergeseran massa air hangat tersebut secara otomatis merusak dan mengubah pola curah hujan secara drastis di berbagai belahan bumi.

Dampak buruk fenomena ini memicu ketimpangan cuaca ekstrem, di mana sebagian wilayah bakal mengalami kekeringan ekstrem berkepanjangan sementara area lainnya diterjang banjir bandang.

Badan PBB untuk Anak-Anak (UNICEF) menaksir lebih dari 347 juta anak di seluruh dunia bakal terdampak langsung oleh krisis iklim ini.

"Kita harus bertindak sekarang untuk melindungi masyarakat dan anak-anak," tegas Direktur Pelaksana UNICEF Catherine Russell terkait ancaman gelombang panas dan bencana alam.

Selain mengancam akses pangan, Laboratorium Dampak Iklim Universitas Chicago memproyeksikan lonjakan suhu akibat El Niño dapat memicu 451.000 kematian tambahan secara global akibat paparan panas ekstrem.

Bagi wilayah Indonesia, hadirnya El Niño ekstrem umumnya menekan tingkat curah hujan hingga jauh di bawah rata-rata nasional dan memperpanjang durasi kemarau.

Kondisi tersebut berpotensi besar memukul sektor pertanian nasional, memicu kelangkaan persediaan air bersih, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Meski didominasi ancaman kekeringan, pergeseran sistem iklim ini juga dapat memicu anomali cuaca berupa hujan lebat ekstrem secara mendadak di beberapa daerah.

Kesiapan infrastruktur dan penanganan krisis air bersih oleh pemerintah serta masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan besarnya dampak kerugian ekonomi dan sosial di Tanah Air. (*)

Semua lampu bahaya El Nino ekstrem menyala. Suhu Samudra Pasifik cetak rekor terpanas, puncak ancaman kekeringan di RI terjadi Desember 2026.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories