RIWARA.id – Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Pangkogabwilhan III) Letjen TNI Lucky Avianto menginstruksikan Satgas Habema dan seluruh unsur pertahanan untuk memperketat pengejaran terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di seluruh pelosok hutan Papua.
Langkah tegas ini diambil sebagai respons atas serangkaian serangan dan aksi kekerasan KKB yang menyasar warga sipil serta Orang Asli Papua (OAP) di kawasan pedalaman.
Operasi penyisiran kini digencarkan secara intensif dengan dukungan penuh teknologi thermal canggih untuk memburu pergerakan kelompok separatis tersebut.
Penggunaan sensor penerima gelombang panas ini memungkinkan pasukan gabungan melacak dan mengunci keberadaan anggota KKB meski bersembunyi di dalam kegelapan malam atau di balik rimbunnya vegetasi hutan tropis.
Efektivitas pemanfaatan teknologi modern ini terbukti sukses dalam sejumlah insiden kontak tembak terbaru, saat pasukan TNI berhasil mematahkan perlawanan dan melumpuhkan anggota KKB pada operasi malam hari.
Teknologi kebanggaan prajurit ini mengandalkan Thermal Infrared Imaging (Citra Termal Inframerah) yang bekerja memetakan radiasi panas dari objek hidup, alih-alih bergantung pada pancaran cahaya tampak.
Keunggulan taktis ini menjadi senjata ampuh bagi para prajurit di lapangan untuk menembus keterbatasan jarak pandang akibat rapatnya pepohonan hutan belantara Papua.
Dalam mendukung perburuan di medan ekstrem, TNI mengerahkan berbagai varian wahana nirawak (Unmanned Aerial Vehicle) atau drone pengintai yang dilengkapi perangkat payload sensor termal mutakhir seperti seri DJI Matrice Enterprise berteknologi kamera Zenmuse Thermal/FLIR.
Drone ini mampu terbang melayang di ketinggian ratusan meter untuk memantau area berisiko tinggi serta menembus kabut tebal dan kegelapan malam demi mendeteksi jejak panas (heat signature) sebelum tim darat bergerak.
Selain armada udara nirawak, sensor Forward-Looking Infrared (FLIR) turut terpasang pada helikopter serang seperti Mi-35P dan Apache AH-64E untuk memindai daratan secara real-time dalam cakupan kawasan yang luas.
Pasukan khusus dan tim intip di garis depan juga dibekali teropong monokular/binokular termal serta perbidikan termal (Thermal Weapon Sights) pada senjata tempur agar dapat membidik musuh di balik semak-semak dalam jarak tembak efektif.
Secara teknis, alat ini menangkap emisi radiasi panas tubuh manusia yang berada di suhu rata-rata 36°C–37°C lalu mengubah perbedaan suhu dengan lingkungan menjadi kontras visual bertingkat warna (White Hot, Black Hot, atau Rainbow).
Pola penyamaran pakaian atau upaya bersembunyi di bawah rimbunnya dedaunan tidak mampu mengelabui sensor ini karena radiasi panas tubuh akan selalu membentuk bayangan kontras pada layar monitor.
Sistem ini bahkan sanggup mendeteksi sisa-sisa aktivitas KKB, seperti jejak titik api unggun yang baru dipadamkan, lokasi memasak di dalam perkemahan rahasia, hingga jejak pijakan kaki yang ditinggalkan.
Integrasi sensor termal dengan Laser Range Finder serta sistem GPS modern memudahkan penguncian titik koordinat presisi target untuk diteruskan seketika kepada pasukan darat atau unit penindak.
Penerapan teknologi pelacak panas ini tidak hanya mendongkrak keberhasilan operasional, tetapi juga meminimalkan risiko jatuhnya korban di pihak prajurit dari potensi penghadangan musuh di medan jungle warfare. (*)
Pangkogabwilhan III pimpin perburuan KKB dengan canggihnya teknologi termal. Simak cara kerja pelacak panas TNI tembus hutan Papua!