Balita Sering Tantrum dan Rewel? Kurang Tidur Bisa Jadi Pemicu Utamanya

Rabu, 30 September 2026 | 15:27 WIB
Ilustrasi dibuat dengan bantuan Gemini AI
Ilustrasi dibuat dengan bantuan Gemini AI

RIWARA.id – Ledakan emosi atau tantrum pada balita kerap dialami para orang tua, namun kelelahan akibat kurang tidur sering kali menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi emosional anak.

Ketika tubuh kurang beristirahat, kemampuan otak balita dalam mengolah respons emosi mengalami penurunan drastis, sehingga pemicu kecil dapat berdampak pada ledakan amarah yang besar.

Informasi yang dikutip dari laman resmi kemkes.go.id menyebutkan bahwa tidur berperan vital bagi konsolidasi memori, proses belajar, hingga regulasi emosi anak yang sedang berkembang.

Tanpa waktu tidur yang memadai, balita cenderung menjadi lebih impulsif, cepat frustrasi, dan merasa kewalahan saat menerima stimulasi dari lingkungan sekitarnya.

Orang tua dapat mengenali empat petunjuk utama jika tantrum pada anak dipicu oleh faktor kelelahan, salah satunya adalah pola kejadian yang berulang pada waktu sama setiap harinya, terutama menjelang jam tidur siang atau malam.

Indikator kedua terlihat dari intensitas amarah anak yang tidak sebanding dengan pemicunya, seperti menangis histeris hanya karena hal sepele seperti biskuit yang patah.

Tanda ketiga ditunjukkan saat balita sangat sulit ditenangkan meskipun orang tua telah mencoba membujuk, memberikan distraksi, atau menyodorkan mainan favoritnya.

Petunjuk terakhir ditandai dengan perubahan suasana hati (mood) yang membaik secara drastis serta kembali ceria tepat setelah anak mendapatkan tidur yang cukup.

Saat ledakan amarah terjadi, orang tua diimbau tidak langsung memberikan ancaman atau pencerahan panjang, melainkan tetap tenang serta hadir mendampingi anak dalam proses co-regulation.

Langkah awal yang disarankan adalah meredakan stimulasi lingkungan, menvalidasi perasaan anak dengan kalimat sederhana, serta menawarkan sentuhan fisik atau pelukan jika balita bersedia.

Guna mencegah emosi berlebih akibat kelelahan, pengawasan terhadap jadwal dan durasi tidur anak sesuai kelompok usianya harus dijaga secara konsisten.

Orang tua diminta tidak menunggu hingga anak menunjukkan tanda kelelahan parah, melainkan segera memulai rutinitas sebelum tidur seperti mandi, membaca buku, dan mematikan lampu secara teratur.

Selain kuantitas jam tidur, kualitas istirahat juga perlu mendapat perhatian khusus, terutama jika anak sering terbangun di malam hari atau mendengkur keras yang dapat menjadi indikasi gangguan kesehatan.

Memahami kebutuhan dasar balita seperti kecukupan waktu istirahat menjadi kunci utama, sebab anak yang terlihat sulit diatur sering kali hanya membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat.(*)

Kurang tidur bikin balita mudah tantrum. Kenali 4 tanda anak kelelahan dan cara ampuh meredakan ledakan emosinya menurut Kemkes.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories