KUDUS, RIWARA.id — Empat pemain muda binaan Samba Persada Women mendapat kesempatan membela Indonesia dalam ajang Srikandi Merdeka Cup 2026. Mereka masuk dalam skuad Garuda Pertiwi yang dijadwalkan menghadapi Arab Saudi pada Jumat, 14 Agustus 2026, di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah.
Keempat pemain tersebut adalah Putri Neza Larasati, Clarisya Putri Kurniawan, Shifana Rizka Nadhifa, dan Griselda Vivian Mariana.
Kesempatan tersebut menjadi pencapaian penting bagi Samba Persada Women sekaligus menandai perjalanan panjang pembinaan pemain sepak bola putri dari level klub menuju panggung tim nasional.
Di balik proses pembinaan itu terdapat sosok Prof. Dr. Suparji Achmad, S.H., M.H., yang menjadi Pembina Samba Persada Club.
Bagi Suparji, olahraga bukan sekadar ruang untuk mengejar prestasi. Lapangan hijau juga menjadi tempat menanamkan nilai disiplin, kerja keras, sportivitas, tanggung jawab, dan kecintaan kepada bangsa.
Namun, bagi profesor yang juga dikenal sebagai akademisi hukum tersebut, pembinaan generasi muda memiliki makna yang lebih luas.
Ia melihat pengabdian kepada negeri tidak cukup diwujudkan melalui kata-kata, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata dan ketulusan.
“Negeri ini telah kekeringan ketulusan. Tidak ada lagi sepi ing pamrih, rame ing gawe. Yang ada berlomba-lomba meraih dan menambah kekuasaan dan kapitalisasi.”
Hal itu disampaikan Suparji kepada Riwara.id, Jumat (14/8/2026).
Menurut dia, momentum peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Peringatan kemerdekaan dapat menjadi ruang untuk kembali menumbuhkan semangat pengabdian kepada bangsa dan generasi penerus.
“Semoga momentum HUT RI dapat dijadikan momentum tumbuhkan ketulusan untuk negara dan anak bangsa,” ujar Suparji.
Dari Lapangan Pembinaan ke Garuda Pertiwi
Empat pemain Samba Persada Women kini berada di lingkungan Garuda Pertiwi, tim putri U-16 Indonesia yang tampil dalam Srikandi Merdeka Cup 2026.
Turnamen tersebut berlangsung pada 14-23 Agustus 2026 di Supersoccer Arena, Kudus. Kompetisi ini diikuti delapan tim dari tujuh negara, dengan Indonesia menurunkan dua tim, yakni Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara.
Bagi para pemain muda, turnamen tersebut menjadi kesempatan mendapatkan pengalaman kompetitif di level internasional.
Laga menghadapi Arab Saudi pada 14 Agustus menjadi salah satu tantangan awal Garuda Pertiwi dalam turnamen tersebut.
Bagi Samba Persada, keberadaan empat pemain binaannya dalam skuad Garuda Pertiwi menjadi bagian dari perjalanan pembinaan yang tidak terjadi secara instan.
Ada latihan yang harus dijalani secara konsisten, pertandingan yang harus dihadapi, evaluasi yang harus diterima, serta proses membangun mental agar pemain mampu berkembang.
Jalan menuju tim nasional memang tidak selalu terlihat dari luar.
Di balik seorang pemain yang akhirnya mengenakan jersey Merah Putih, terdapat proses panjang yang melibatkan pelatih, pembina, keluarga, klub, dan lingkungan tempat pemain tersebut tumbuh.
Ketika Sepak Bola Menjadi Ruang Pendidikan
Bagi Suparji, pembinaan sepak bola juga merupakan bagian dari pendidikan.
Lapangan hijau menjadi ruang tempat anak-anak muda belajar mengenai disiplin dan tanggung jawab. Mereka belajar bahwa kemenangan tidak datang secara instan, sementara kekalahan bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Setiap latihan menjadi proses membangun kebiasaan. Setiap pertandingan menjadi kesempatan menguji mental. Setiap kesalahan menjadi bahan evaluasi.
Di situlah olahraga memiliki nilai pendidikan yang lebih luas.
Pemain tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga karakter untuk menghadapi tekanan, menghormati lawan, bekerja dalam tim, serta bertanggung jawab terhadap peran yang diberikan.
Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi pemain ketika mereka melangkah ke kompetisi yang lebih tinggi.
Empat Srikandi dan Jalan Panjang Pembinaan
Putri Neza Larasati, Clarisya Putri Kurniawan, Shifana Rizka Nadhifa, dan Griselda Vivian Mariana kini mendapat kesempatan membawa nama Indonesia.
Bagi mereka, masuknya nama dalam skuad Garuda Pertiwi merupakan salah satu tahapan penting dalam perjalanan sebagai pemain sepak bola muda.
Bagi Samba Persada, pencapaian tersebut sekaligus menjadi hasil dari proses pembinaan yang telah dijalani.
Prestasi seorang pemain pada akhirnya tidak berdiri sendiri.
Ada orang-orang yang memberikan kesempatan. Ada pelatih yang mengajarkan teknik dan disiplin. Ada keluarga yang mendukung. Ada rekan satu tim yang menjadi bagian dari perjalanan. Dan ada pembina yang terus menjaga agar proses pengembangan pemain dapat berlangsung.
Karena itu, ketika seorang pemain muda mendapat kesempatan mengenakan seragam tim nasional, pencapaian tersebut juga menjadi cermin dari ekosistem pembinaan yang berada di belakangnya.
Makna Pengabdian Seorang Profesor
Bagi seorang akademisi, pengabdian sering kali diasosiasikan dengan ruang kuliah, penelitian, atau kegiatan pengabdian masyarakat.
Namun, perjalanan Samba Persada menunjukkan bentuk pengabdian yang lain.
Pembinaan generasi muda melalui olahraga dapat menjadi cara untuk memberikan ruang kepada anak-anak bangsa agar menemukan potensi mereka.
Ketika potensi tersebut berkembang dan kemudian membawa mereka ke level tim nasional, proses pembinaan itu memperoleh makna yang lebih besar.
Bukan semata-mata tentang berapa banyak trofi yang diraih.
Bukan pula hanya tentang siapa yang mencetak gol.
Lebih jauh, pembinaan berbicara tentang bagaimana generasi muda dipersiapkan untuk memiliki disiplin, keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja keras untuk mencapai tujuan.
Pandangan itulah yang membuat pernyataan Suparji tentang ketulusan menjadi relevan dengan perjalanan empat pemain Samba Persada.
Di tengah kompetisi untuk meraih prestasi, kekuasaan, maupun keuntungan, ia mengingatkan kembali pentingnya semangat sepi ing pamrih, rame ing gawe—bekerja sungguh-sungguh tanpa menjadikan kepentingan pribadi sebagai tujuan utama.
Dari Samba Persada Menuju Masa Depan Garuda Pertiwi
Empat Srikandi Samba Persada kini membawa perjalanan mereka ke panggung yang lebih besar.
Mereka berada di skuad Garuda Pertiwi dan mendapat kesempatan belajar menghadapi persaingan internasional sejak usia muda.
Perjalanan tersebut masih panjang.
Namun, satu hal telah dimulai: mimpi yang sebelumnya ditempa di lapangan pembinaan kini mendapat kesempatan untuk tumbuh bersama tim nasional.
Bagi Prof. Suparji, inilah salah satu bentuk nyata pengabdian kepada anak bangsa.
Menyiapkan generasi muda bukan hanya agar mampu berprestasi, tetapi juga agar memiliki karakter dan kesadaran bahwa setiap keberhasilan membawa tanggung jawab yang lebih besar.
Dari Samba Persada menuju Garuda Pertiwi, empat pemain muda itu kini membawa nama Indonesia.
Di balik jersey Merah Putih yang mereka kenakan, ada proses panjang, kerja keras, doa, pembinaan, dan ketulusan banyak orang.
Dan pada momentum kemerdekaan tahun ini, pesan Suparji menjadi pengingat:
pengabdian kepada negeri tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari ketulusan, dari kerja yang konsisten, dan dari keberanian menyiapkan generasi muda untuk masa depan Indonesia.*
Empat pemain Samba Persada Women masuk skuad Garuda Pertiwi. Prof. Suparji menyerukan ketulusan dalam pengabdian kepada bangsa.