100 Orang Ikuti Ruwatan Suro 1960 Be di Karaton Surakarta Hadiningrat, Ini Dia Prosesi dan Makna Kesakralannya

Kamis, 25 Juni 2026 | 23:16 WIB
Nyi Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Rumiyati Anjangmas Puspodiningrum Mementaskan Lakon Murwa Kala dalam Acara Ruwatan di Karaton Surakarta, Kamis malam 25 Juni 2026
Nyi Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Rumiyati Anjangmas Puspodiningrum Mementaskan Lakon Murwa Kala dalam Acara Ruwatan di Karaton Surakarta, Kamis malam 25 Juni 2026 (Foto: Dok. RIWARA)

RIWARA.id - Malam ini, Kamis 25 Juni 2026 yang bertepatan dengan Kamis Pon, 9 Suro 1960 Be, Karaton Surakarta Hadiningrat menggelar Ruwatan di Sasana Sumewa.

Ruwatan ini diikuti sebanyak 100 orang yang merupakan abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat.

"Malam ini kami memperingati hari Asyura atau wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, sekaligus mengadakan ruwatan untuk abdi dalem Karaton Surakarta. Meskipun persiapannya singkat hanya 2 hari, ternyata pesertanya mencapai 100 orang," kata Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari, saat ditemui tim Riwara.id di sela-sela acara.

Menurut GKR Koes Moertiyah Wandansari yang akrab disapa Gusti Moeng ini, acara Ruwatan bertujuan menghilangkan Sukerto atau membuang sial dan sifat yang tidak baik di dalam diri pribadi.

"Dalam ruwatan ini, saya ikut bertugas untuk memandikan peserta. Setiap orang saya tanya namanya dan saya doakan agar Sukerto hilang dan apa yang diharapkan bisa tercapai," ungkapnya.

Ruwatan Bumi

Gusti Moeng menyebut jika acara Ruwatan di Karaton Surakarta Hadiningrat tidak hanya berlaku untuk pribadi masing-masing orang.

Karaton Surakarta juga melakukan Ruwatan untuk Bumi, seperti pemberian sesaji di Alas Krendowahono, Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu dalam rangka Memayu Hayuning Bawono.

"Karaton Surakarta sebagai pusat pemerintahan pada waktu dulu, sangat bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam. Maka, diadakan Ruwatan Bumi. Lalu, untuk ruwatan pribadi ya menghilangkan Sukerto," jelas Gusti Moeng.

Ia juga menceritakan jika Sinuwun PB XII pernah mengadakan ruwatan untuk anak-anaknya. Saat itu, PB XII berdoa agar semua sifat yang tidak baik dalam dirinya bisa hilang dan untuk mengetahui batinnya apakah benar-benar tulus untuk menjaga Karaton Surakarta. Apabila tidak tulus, maka akan tersingkirkan dari Karaton.

Prosesi Ruwatan

Acara Ruwatan di Karaton Surakarta Hadiningrat, Kamis Malam 25 Juni 2026
Acara Ruwatan di Karaton Surakarta Hadiningrat, Kamis Malam 25 Juni 2026 (Foto: Dok. RIWARA)

Salah satu peserta Ruwatan, Raden Tumenggung Atmojo Haryodipuro yang merupakan abdi dalem Karaton Surakarta mengungkapkan jika ia mengikuti acara tersebut untuk memohon doa yang terbaik, serta dapat melestarikan budaya Jawa.

"Saya selaku Gen Z, ingin ikut nguri-uri budaya Jawa. Ruwatan ini perlu dilestarikan agar bisa berlanjut hingga akhir jaman. Saya juga ingin memperkenalkan kepada teman-teman generasi saya, bahwa budaya Jawa ini masih relevan di masa kini," ujarnya.

Ia pun menjelaskan secara singkat terkait prosesi Ruwatan. Mulai dari mengenakan pakaian putih seperti ikhram dan duduk mengikuti pementasan wayang kulit.

Lalu, ada pembacaan Rajah Kalacakra sebagai penolak bala dan rajah-rajah lainnya. Setelah itu, peserta maju satu persatu untuk dipotong sedikit rambutnya sebagai bentuk tolak bala dan meminta doa yang terbaik.

Setelahnya, ada acara jamasan dan peserta Ruwatan kembali duduk untuk menunggu selesainya acara pementasan wayang kulit.

Dalam Ruwatan kali ini, lakon Murwa Kala dipentaskan oleh dalang wanita Nyi Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Rumiyati Anjangmas Puspodiningrum.

Ia adalah dalang wanita senior dari Kartasura, Sukoharjo yang juga sebagai abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat, serta tokoh pelestari budaya dalam pementasan wayang kulit.

Hingga artikel ini diturunkan, acara Ruwatan di Karaton Surakarta Hadiningrat masih berlangsung.

Karaton Surakarta Hadiningrat menggelar Ruwatan di Sasana Sumewa, Kamis malam 25 Juni 2026. Ada 100 orang peserta yang mengikuti acara ini.

Foto Editor
Ayu Abriyani -

Jurnalis dari Kota Solo yang fokus pada isu pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.

 Stories