SOLO, Riwara.id — Tradisi perebutan gunungan dalam Hajad Dalem Grebeg Besar Iduladha 2026 Karaton Surakarta Hadiningrat kembali menyita perhatian ribuan masyarakat, Kamis (28/5/2026). Namun di balik ramainya tradisi ngalap berkah tersebut, tersimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, kesuburan, kemakmuran, dan rasa syukur dalam budaya Jawa.
Dalam prosesi sakral yang dipimpin langsung oleh Pakubuwono XIV Hangabehi itu, Karaton Surakarta menghadirkan dua gunungan utama yakni Gunungan Jaler dan Gunungan Estri.
Kirab gunungan dimulai dari pelataran kawasan dalam Karaton Surakarta setelah para prajurit dan abdi dalem menerima dawuh dalem Sinuhun dari Bangsal Maligi Karaton Surakarta.
Prosesi kemudian bergerak melewati Sitihinggil Lor, Pagelaran, Alun-alun Utara, hingga menuju Masjid Gede Surakarta yang kini lebih dikenal sebagai Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta.
Sepanjang perjalanan kirab, ribuan masyarakat tampak memadati sisi jalan demi menyaksikan langsung tradisi budaya yang telah berlangsung turun-temurun sejak masa Pakubuwono XII.
Gunungan Jaler memiliki bentuk meruncing dan berisi aneka hasil bumi seperti cabai, kacang panjang, terong, dan berbagai sayuran lain.
Dalam filosofi Jawa, gunungan tersebut melambangkan:
- Kesuburan
- Kekuatan
- Kemakmuran
- Sumber kehidupan masyarakat
Sementara Gunungan Estri berbentuk lebih membulat atau tumpul dengan isi utama rengginan dan berbagai olahan ketan matang yang melambangkan kelembutan, kesejahteraan keluarga, serta kelimpahan rezeki.
Pengageng Sasana Wilapa Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng menjelaskan bahwa kedua gunungan tersebut dibungkus kain guloklopo merah putih yang menjadi simbol laki-laki dan perempuan dalam filosofi Jawa.
“Kalau perempuan bagian merahnya di bawah, sedangkan laki-laki merahnya di atas,” ujarnya.
Menurut Gusti Moeng, isi gunungan bukan sekadar makanan tradisional atau hasil bumi, tetapi simbol rasa syukur masyarakat Jawa atas anugerah kehidupan dari Tuhan Yang Maha Esa.
“Dalam tradisi Jawa, setiap makan selalu disertai rasa syukur kepada Sang Pencipta. Yang paling penting itu makanan, karena menjadi sumber kehidupan,” katanya.
Salah satu bagian paling menarik dalam Gunungan Estri adalah rengginan yang hingga kini masih dibuat secara tradisional dan turun-temurun oleh abdi dalem Karaton Surakarta.
Tak semua orang mampu membuat rengginan khas gunungan karena membutuhkan teknik khusus dalam mengolah beras ketan agar menghasilkan tekstur yang tepat, tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras.
Proses pembuatannya dimulai dari memasak ketan menggunakan dandang, pencetakan, penjemuran selama empat hingga lima hari, penggorengan, hingga proses peroncean sebelum akhirnya disusun menjadi bentuk gunungan.
Bagian penjemuran menjadi tahap paling penting karena sangat bergantung pada panas matahari. Jika cuaca kurang terik, proses pengeringan dapat berlangsung lebih lama.
Usai didoakan di Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta, kedua gunungan langsung diperebutkan masyarakat dalam tradisi ngalap berkah yang dipercaya membawa keselamatan dan keberuntungan.
Dalam hitungan menit, isi gunungan habis dibawa masyarakat yang datang dari berbagai daerah demi mendapatkan bagian dari simbol keberkahan tersebut.
Tradisi Grebeg Besar tidak hanya menjadi atraksi budaya tahunan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa filosofi Jawa tentang rasa syukur, gotong royong, keseimbangan hidup, dan hubungan manusia dengan alam masih terus hidup di tengah perkembangan zaman modern.*
|
Gunungan Jaler dan Estri di Grebeg Besar Karaton Surakarta memiliki filosofi mendalam tentang kesuburan, rezeki, dan rasa syukur masyarakat Jawa.