SOLO, Riwara.id — Di balik meriahnya perebutan gunungan dalam Hajad Dalem Grebeg Besar Iduladha 2026 Karaton Surakarta Hadiningrat, tersimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, kesuburan, kemakmuran, dan hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta.
Tradisi budaya sakral yang dipimpin langsung oleh Pakubuwono XIV Hangabehi itu kembali menghadirkan dua gunungan utama yakni Gunungan Jaler dan Gunungan Estri yang menjadi simbol keseimbangan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Prosesi Grebeg Besar dimulai dari pelataran kawasan dalam Karaton Surakarta setelah para abdi dalem dan prajurit menerima dawuh dalem Sinuhun Pakubuwono XIV dari Bangsal Maligi Karaton Surakarta.
Kirab kemudian bergerak melewati Sitihinggil Lor, Pagelaran, Alun-alun Utara, hingga menuju Masjid Gede Surakarta yang kini lebih dikenal sebagai Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta.
Gunungan Jaler memiliki bentuk meruncing dan berisi berbagai hasil bumi seperti cabai, kacang panjang, terong, serta aneka sayuran lain yang melambangkan kesuburan, kekuatan, dan sumber kehidupan masyarakat.
Sementara Gunungan Estri berbentuk lebih membulat atau tumpul dengan isi utama rengginan dan berbagai olahan ketan matang yang melambangkan kelembutan, kesejahteraan, serta kemakmuran keluarga.
Dalam tradisi Karaton Surakarta, kedua gunungan tersebut dibungkus kain guloklopo merah putih yang memiliki filosofi simbol laki-laki dan perempuan.
“Kalau perempuan bagian merahnya di bawah, sedangkan laki-laki merahnya di atas,” ujar GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng.
Menurut Gusti Moeng, isi gunungan bukan sekadar hasil bumi atau makanan tradisional, melainkan simbol rasa syukur masyarakat Jawa atas anugerah rezeki dan kehidupan dari Tuhan Yang Maha Esa.
“Dalam tradisi Jawa, setiap makan selalu disertai rasa syukur kepada Sang Pencipta. Yang paling penting itu makanan, karena menjadi sumber kehidupan,” ujarnya.
Salah satu bagian paling menarik dalam Gunungan Estri adalah rengginan yang hingga kini masih dibuat secara tradisional dan turun-temurun oleh abdi dalem Karaton Surakarta.
Tak semua orang mampu membuat rengginan khas gunungan karena membutuhkan teknik khusus dalam mengolah beras ketan agar menghasilkan tekstur yang tepat, tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras.
Proses pembuatannya dimulai dari memasak ketan menggunakan dandang, pencetakan, penjemuran selama empat hingga lima hari, penggorengan, hingga proses peroncean sebelum akhirnya disusun menjadi bentuk gunungan.
Bagian penjemuran menjadi tahap paling penting karena sangat bergantung pada panas matahari. Jika cuaca kurang terik, proses pengeringan bisa berlangsung lebih lama.
Usai didoakan di Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta, Gunungan Jaler dan Gunungan Estri langsung diperebutkan masyarakat dalam tradisi ngalap berkah yang dipercaya membawa keselamatan dan keberuntungan.
Dalam hitungan menit, seluruh isi gunungan habis dibawa masyarakat yang datang dari berbagai daerah untuk mendapatkan bagian dari simbol keberkahan tersebut.
Tradisi Grebeg Besar sendiri telah berlangsung turun-temurun sejak masa Pakubuwono XII dan hingga kini tetap menjadi simbol hidupnya budaya Jawa di tengah perkembangan zaman modern.
Melalui Gunungan Jaler dan Estri, Karaton Surakarta Hadiningrat tidak hanya menjaga tradisi budaya, tetapi juga merawat filosofi Jawa tentang keseimbangan hidup, rasa syukur, gotong royong, dan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.*
Gunungan Jaler dan Estri di Grebeg Besar Karaton Surakarta memiliki filosofi mendalam tentang kesuburan, kemakmuran, dan nilai spiritual Jawa.