SURAKARTA, RIWARA.id – Pakubuwono XIV Hangabehi menegaskan bahwa tradisi Grebeg Besar bukan sekadar seremoni budaya tahunan, melainkan simbol rasa syukur, persatuan, dan hubungan erat antara Karaton Surakarta dengan masyarakat.
Dalam dawuh dalem yang disampaikan menjelang pelaksanaan Grebeg Besar Dal 1959, Sinuhun mengajak seluruh sentana dalem, abdi dalem, dan masyarakat untuk menjaga warisan budaya adiluhung peninggalan leluhur Mataram Islam.
Menurut Sinuhun, Grebeg Besar memiliki makna spiritual yang mendalam karena menjadi bentuk syiar, sedekah Karaton kepada rakyat, sekaligus wujud rasa syukur atas limpahan berkah Tuhan Yang Maha Esa.
“Grebeg Besar bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga simbol spiritualitas, kebersamaan, dan sedekah Karaton kepada masyarakat,” demikian dawuh dalem Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi, Senin, 25 Mei 2026.
Pelaksanaan Grebeg Besar Dal 1959 sendiri akan berlangsung pada Kamis Kliwon, 28 Mei 2026 pukul 09.00 WIB di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat.
Tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun sejak masa Pakubuwono XII. Sejak saat itu, Grebeg Besar dilaksanakan pada Bakda kedua atau hari kedua setelah Iduladha menurut penetapan pemerintah agar sentana dalem dan abdi dalem tetap dapat merayakan Iduladha hari pertama bersama keluarga masing-masing.
Dalam prosesi nanti, Karaton Surakarta akan mengeluarkan sepasang gunungan yakni Gunungan Jaler dan Gunungan Estri yang dikirab menuju Masjid Agung Surakarta dengan iringan prajurit Karaton serta abdi dalem.
Gunungan Jaler berisi hasil bumi sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran, sementara Gunungan Estri berisi makanan matang sebagai simbol kelimpahan rezeki.
Selain kirab budaya, Karaton Surakarta juga akan melaksanakan ritual jamasan pusaka serta penyembelihan dua ekor sapi kurban yang nantinya dibagikan kepada abdi dalem dan masyarakat membutuhkan.
Pada hari yang sama, masyarakat juga dapat mengikuti layanan cek kesehatan gratis yang digelar Dinas Kesehatan Kota Surakarta di Pagelaran Karaton Surakarta mulai pukul 08.30 WIB.
Karaton Surakarta mengajak masyarakat hadir untuk menyaksikan langsung perjalanan sejarah dan budaya yang masih lestari hingga saat ini.*
Pakubuwono XIV Hangabehi menyebut Grebeg Besar Karaton Surakarta sebagai simbol syukur, persatuan, dan sedekah budaya kepada masyarakat.