RIWARA.id – Pengelola jalur pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho dan Cemoro Kandang di Kabupaten Karanganyar resmi menerapkan serangkaian aturan baru yang lebih ketat bagi para pendaki. Regulasi anyar ini menyasar secara spesifik pada aktivitas wisata rombongan (open trip) serta metode pendakian kilat tanpa menginap alias tektok.
Langkah pengetatan prosedur operasi standar (SOP) tersebut diambil sebagai respons cepat pasca-terjadinya rentetan insiden darurat dan polemik aktivitas pendaki di kawasan puncak Lawu beberapa waktu lalu. Pihak pengelola bergerak membenahi sistem manajemen lapangan demi menjamin keselamatan jiwa para petualang.
Kepala Bidang Operasional PUD Aneka Usaha Karanganyar, Titin Riyadi Ningsih, menegaskan bahwa salah satu poin krusial dalam aturan baru ini adalah kewajiban pelibatan pemandu lokal (guide). Kebijakan ini mengikat secara hukum bagi setiap agen penyedia layanan open trip yang membawa rombongan dalam skala besar.
Bila rombongan wisata kelolaan agensi tersebut membawa lebih dari tujuh orang peserta, mereka diwajibkan untuk menyewa jasa pemandu lokal. Kehadiran pemandu yang memahami karakteristik medan dinilai mampu meminimalkan risiko tersesat atau kecelakaan fatal di atas gunung.
"Kalau open trip lebih dari tujuh orang harus memakai guide lokal. Itu untuk mengantisipasi risiko dan menjaga keselamatan pendaki," kata Titin di Karanganyar.
Pihak PUD Aneka Usaha membebaskan penyelenggara untuk menunjuk pendamping perjalanan mereka sendiri. Kendati demikian, pengelola sangat menyarankan agar agensi memprioritaskan pemberdayaan warga lokal di sekitar lereng Lawu, baik untuk difungsikan sebagai pemandu maupun tenaga angkut (porter).
Selain penataan ekosistem wisata massal, pengelola juga memperketat izin bagi pelaku pendakian tektok atau naik-turun dalam waktu satu hari. Aktivitas yang menguras stamina ini sebenarnya sudah kembali dibuka sejak 10 Mei lalu, namun kini mekanismenya tidak lagi bisa dilakukan secara mendadak.
Para pelaku pendakian kilat kini diwajibkan untuk melakukan registrasi resmi di pos pendakian minimal satu hari sebelum keberangkatan (H-1). Syarat kuantitas personel juga diubah, di mana pendakian satu hari ini minimal harus dilakoni oleh dua orang berjalan bersama.
SOP ketat ini diberlakukan karena aktivitas fisik naik-turun gunung tanpa jeda istirahat bermalam membutuhkan kesiapan fisik dua kali lipat lebih besar. Pengelola membutuhkan waktu jeda H-1 untuk menyaring dan memastikan kondisi kesehatan para pendaki dalam status benar-benar bugar.
Manajemen lapangan juga memberlakukan batasan waktu pergerakan yang sangat rigid bagi tim tektok. Dari titik koordinat mana pun mereka berada di sepanjang jalur pendakian, para pendaki diwajibkan untuk memutar arah turun maksimal pada pukul 13.00 WIB guna menghindari kemalaman di vegetasi rapat.
Sesuai target kalkulasi waktu pengelola, seluruh pendaki tanpa tenda tersebut harus sudah melapor kembali di pos basecamp utama maksimal pada pukul 20.00 WIB. Untuk memperkuat sistem pengawasan, setiap pendaki kilat kini diwajibkan memasang dan mengaktifkan aplikasi pelacak posisi, Strava, di ponsel mereka.
"Kami mewajibkan install aplikasi Strava untuk melihat posisi mereka sampai mana. Itu terlapor di tempat kami," ujar Titin menambahkan fungsi kontrol digital tersebut.
Sebagai informasi, volume kunjungan via jalur Candi Cetho saat ini mencatatkan angka sekitar 2.700 orang pendaki, dengan porsi wisatawan mancanegara berada di kisaran 5 persen. Tarif tiket masuk dipastikan tidak mengalami kenaikan, yakni tetap flat sebesar Rp25.000 per orang untuk turis domestik maupun asing.
Pihak pengelola juga memanfaatkan momentum sosialisasi ini untuk meluruskan fungsi kawasan Taman Saraswati yang berada di jalur Lawu Jawa Tengah. Kompleks situs tersebut ditegaskan sebagai tempat suci peribadatan umat Hindu dan lokasi sendang ritual bersih diri, sehingga para pendaki umum dilarang keras melakukan aktivitas rekreasional yang dapat mengganggu kesakralan area tersebut. (*)
Aturan Baru Pendakian Gunung Lawu via Jawa Tengah: Wajib pasang Strava untuk tektok & pendamping lokal bagi rombongan open trip.