Ramai Isu KRI Gajah Mada, Ini Persiapan TNI AL dan Alasan India Ketar-ketir

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:11 WIB
Kapal induk Giuseppe Garibaldi milik Italia berlayar di laut lepas. Indonesia berencana mengakuisisi kapal ini sebagai bagian dari penguatan kemampuan pertahanan maritim nasional.
Kapal induk Giuseppe Garibaldi milik Italia berlayar di laut lepas. Indonesia berencana mengakuisisi kapal ini sebagai bagian dari penguatan kemampuan pertahanan maritim nasional. (Foto: Ilustrasi di buat menggunakan teknologi buatan AI)

 

RIWARA.id – Militer Indonesia tengah menjadi sorotan dunia, khususnya di kawasan regional, menyusul rencana akuisisi eks kapal induk asal Italia, ITS Giuseppe Garibaldi.

Langkah besar Kemhan RI untuk memperkuat armada laut ini tak pelak memicu spekulasi liar, terutama mengenai identitas yang akan disematkan pada kapal raksasa tersebut di masa depan.

Salah satu rumor yang paling santer beredar adalah penggunaan nama KRI Gajah Mada untuk kapal induk pertama tanah air ini. Isu ini terus menggelinding di kalangan pengamat pertahanan dan masyarakat luas, meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal).

Akar Isu Nama KRI Gajah Mada

Spekulasi nama Gajah Mada muncul bukan tanpa alasan. Hal ini sejalan dengan tradisi TNI AL yang kerap menggunakan nama tokoh bersejarah nasional untuk menamai kapal perang berukuran besar. Gajah Mada, Mahapatih Majapahit, dinilai memiliki makna simbolis yang sangat kuat bagi Indonesia.

Tokoh tersebut identik dengan Sumpah Palapa dan visi pemersatu Nusantara, yang sangat relevan dengan peran kapal induk sebagai instrumen penjaga kedaulatan wilayah laut yang luas. Kehadiran kapal ini diharapkan menjadi simbol baru modernisasi kekuatan maritim negara.

Meskipun spekulasi mengenai KRI Gajah Mada terus ramai dibahas di kalangan publik, Mabesal menegaskan bahwa penamaan unsur KRI baru tersebut belum final. Proses ini masih dalam tahap pembahasan serta pengkajian mendalam di lingkup internal TNI AL.

Persiapan Matang TNI AL Menuju Kekuatan Udara Sea-Based

Di luar perdebatan mengenai nama, TNI AL dilaporkan telah memulai persiapan teknis yang serius untuk menyambut kedatangan alutsista strategis ini. Aspek operasional, terutama terkait integrasi kekuatan udara di laut, menjadi fokus utama Puspenerbal saat ini.

Langkah konkret terlihat dari pembangunan media simulasi geladak helikopter yang fleksibel oleh Skuadron Udara 100 Wing Udara 2.

Fasilitas ini didesain khusus untuk mengasah ketepatan pendaratan di area sempit, baik bagi penerbang helikopter maupun operator pesawat tanpa awak (UAV/drone).

Tantangan Operasional di Atas Dek Kapal

Kadispenal, Laksma TNI Tunggul, mengakui bahwa operasional drone di atas kapal perang memiliki tingkat kesulitan jauh lebih tinggi dibandingkan di daratan. 

Keterbatasan ruang ancang-ancang dan guncangan dek akibat turbulensi udara laut menjadi tantangan teknis yang nyata bagi para operator.

“Simulasi ini dibuat untuk familiarization kepada para penerbang helikopter dan penerbang UAV TNI AL,” ujar Tunggul, mempertegas perlunya adaptasi personel terhadap karakteristik pendaratan di laut guna menjamin keselamatan misi.

Lompatan Doktrin: Dari Land-Based ke Sea-Based

Transformasi ini sekaligus menandai pergeseran doktrin TNI AL dari operasional berbasis darat (land-based) menuju kekuatan udara yang terintegrasi penuh di laut (sea-based). 

Konsep ini dikenal sebagai Air Wing Mobile, yang memungkinkan unit sayap udara diproyeksikan langsung dari atas KRI.

Strategi Air Wing Mobile bertujuan membangun kultur operasi penerbangan laut modern yang tidak lagi bergantung pada pangkalan darat, sehingga kekuatan udara Indonesia mampu dikerahkan secara dinamis ke mana saja sesuai kebutuhan operasi.

Fungsi Kapal Induk: Pangkalan Drone Terapung

Rencana masa depan menempatkan eks Giuseppe Garibaldi sebagai pangkalan drone terapung yang canggih. Kapal ini diproyeksikan mampu mengusung teknologi wahana udara nirawak tingkat lanjut, seperti drone tempur TB3 buatan Turki yang dirancang untuk beroperasi dari landasan pendek.

Kombinasi kapal induk dengan puluhan drone TB3, yang kabarnya telah dipesan Indonesia, akan meningkatkan kemampuan pengawasan maritim, serangan jarak jauh, hingga operasi intelijen secara signifikan.

Biaya operasional drone yang lebih murah dibanding jet tempur konvensional juga menjadi nilai plus.

Penyiapan SDM Unggul

Infrastruktur tidak akan berarti tanpa SDM mumpuni. Asops KSAL, Laksda TNI Yayan Sofiyan, menekankan kualifikasi personel sebagai kunci utama. TNI AL telah menyiapkan setidaknya 500 prajurit pilihan sebagai kru inti untuk mengawaki teknologi penerbangan yang terintegrasi ini.

Para perwira dituntut menguasai teknologi aviasi tingkat tinggi, mengingat kompleksitas pengoperasian pangkalan udara terapung. Penyiapan kru inti ini berjalan beriringan dengan pembangunan media simulasi untuk familiarisasi kultur operasi laut modern.

Dampak Geopolitik dan Reaksi India

Langkah Indonesia mengakuisisi kapal induk ini tidak luput dari perhatian negara-negara di kawasan, khususnya India. Sejumlah analis pertahanan India mulai menyuarakan kekhawatiran mengenai potensi perubahan keseimbangan kekuatan maritim di Indo-Pasifik.

India menaruh perhatian khusus pada kemungkinan penggunaan kapal induk ini sebagai platform drone tempur, yang dapat mengubah pola peperangan laut di kawasan. Kombinasi Garibaldi dan drone tempur dinilai sebagai ancaman serius bagi jangkauan operasi India.

Kekhawatiran India muncul karena Indonesia berpotensi menjadi negara ASEAN pertama yang memiliki kapal induk dengan kemampuan proyeksi kekuatan laut skala luas.

Kehadiran kapal ini dianggap dapat memperluas jangkauan operasi Angkatan Laut Indonesia ke wilayah-wilayah strategis seperti Laut Natuna Utara.

Hal ini dapat mengganggu dominasi yang selama ini dinikmati oleh Angkatan Laut negara-negara besar di kawasan Indo-Pasifik. Reaksi India menunjukkan betapa besarnya dampak geopolitik dari akuisisi alutsista strategis ini.

Penegasan Tujuan Kemhan RI

Meskipun memicu kekhawatiran regional, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa pengadaan Giuseppe Garibaldi tidak memiliki tujuan agresif. Fokus utama kapal ini adalah untuk operasi kemanusiaan, bantuan bencana, serta penguatan pertahanan maritim nasional.

Namun, banyak pengamat menilai bahwa terlepas dari tujuannya, kehadiran kapal induk tetap akan memberikan dampak geopolitik yang besar. Untuk pertama kalinya, Indonesia memiliki kemampuan proyeksi kekuatan laut yang jauh lebih luas dibanding sebelumnya. (*)

 

 

 

Simak info terbaru seputar isu nama KRI Gajah Mada untuk kapal induk pertama Indonesia, persiapan Puspenerbal, hingga reaksi India yang ketar-ketir regional.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories