CILACAP, RIWARA.id — Langkah demi langkah berjalan perlahan di bawah langit pesisir selatan Jawa. Iringan musik kirab, busana adat keraton, doa-doa yang dipanjatkan dalam suasana khidmat, hingga perjalanan menuju laut selatan membuat ritual Miwaha Sekar Wijaya Kusuma kembali menjadi perhatian publik.
Bagi sebagian masyarakat, prosesi tersebut mungkin terlihat sebagai agenda budaya biasa. Namun di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat, ritual pengambilan Kembang Wijayakusuma memiliki makna yang jauh lebih dalam—menyentuh aspek sejarah, spiritualitas, legitimasi budaya, kepemimpinan hingga jejak panjang perjalanan kerajaan Jawa.
Tradisi sakral itu kembali digelar pada Minggu (3/5/2026) di Cilacap pada era Paku Buwana XIV Hangabehi. Sebanyak 250 kerabat keraton dilibatkan dalam rangkaian prosesi yang berlangsung dari Pendopo Kabupaten Cilacap hingga kawasan pesisir selatan dan Pulo Majeti.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Cilacap, kegiatan diawali dengan doa bersama di pendopo kabupaten sebelum rombongan melaksanakan kirab budaya menuju Pantai Teluk Penyu.
Dari kawasan pantai tersebut, prosesi kemudian berlanjut menuju lokasi inti ritual pengambilan Sekar Wijayakusuma.
Tradisi yang Tidak Digelar Setiap Tahun
Dalam tradisi keraton Jawa, ritual Miwaha Sekar Wijaya Kusuma bukan agenda rutin tahunan. Prosesi ini dikenal sebagai salah satu ritual adat yang hanya dilaksanakan dalam momentum tertentu.
Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, menjelaskan bahwa ritual tersebut merupakan bagian dari warisan leluhur yang diwariskan turun-temurun sejak masa raja-raja Surakarta terdahulu.
“Ini bukan sekadar perjalanan budaya biasa. Ada laku spiritual yang dijalankan dan dijaga sejak dahulu,” ujarnya kepada Riwara.id.
Dalam penuturan tradisi keraton, prosesi serupa pernah dilakukan pada masa Pakubuwono X hingga Pakubuwono XI. Namun ritual tersebut disebut tidak dilaksanakan pada masa Sinuhun Pakubuwono XII dan Sinuhun Pakubuwono XIII.
Karena itu, pelaksanaan kembali ritual di era PB XIV Hangabehi dipandang sebagai momentum budaya yang langka.
Perjalanan Panjang Sarat Tirakat
Di balik prosesi yang berlangsung beberapa hari di Cilacap, terdapat tahapan panjang yang menurut tradisi harus dijalani sebelum pengambilan Wijayakusuma dilakukan.
Dalam manuskrip yang tersimpan di lingkungan keraton, utusan dalem terlebih dahulu diwajibkan nyekar ke makam Pasareyan Ki Ageng Giring di Gumelem, Banjarnegara.
Kanjeng Pangeran Bambang S Adiningrat yang menerima amanah khusus dalam prosesi tersebut menjelaskan bahwa dirinya terlebih dahulu mendatangi rumah juru kunci untuk menyerahkan panjurum dan menyampaikan maksud kedatangan sebelum wilujengan dilaksanakan.
“Dalam manuskrip serat disebutkan bahwa sebelum prosesi Miwaha dilakukan, utusan keraton harus nyekar terlebih dahulu ke makam Ki Ageng Giring,” ujarnya kepada Riwara.id, Jumat (8/5/2026).
Setelah prosesi wilujengan selesai, rombongan kemudian bergerak menuju Cilacap untuk mengikuti rangkaian ritual berikutnya.
Kirab Budaya Menyita Perhatian Warga
Puncak perhatian masyarakat terjadi ketika kirab budaya bergerak dari Pendopo Kabupaten menuju Pantai Teluk Penyu.
Ribuan warga tampak memadati sisi jalan untuk menyaksikan rombongan kerabat keraton yang mengenakan busana adat lengkap.
KP Bambang mendapat amanah sebagai manggala kirab bersama Korsik Tali Jagad dan Bergada Suropraja.
Kirab menempuh jarak sekitar tiga setengah hingga empat kilometer dengan iringan musik korsik khas keraton.
“Dalam kirab itu kami mencoba mengolaborasikan unsur musik tradisional dan modern agar lebih dekat dengan masyarakat,” katanya.
Dalam prosesi tersebut, sejumlah bergada juga membawa pedel atau senjata api sebagaimana tercatat dalam dokumentasi lama keraton.
Bahkan, menurut KP Bambang, KPH Eddy Wirabhumi turut menggunakan pistol era VOC dan melakukan tembakan salvo sebagai bagian dari prosesi budaya.
Menuju Masigit Sela dan Pulo Majeti
Setelah kirab budaya selesai, rangkaian ritual dilanjutkan menuju lokasi-lokasi yang dianggap sakral dalam tradisi keraton.
Salah satunya adalah Masigit Sela, lokasi yang ditempuh menggunakan perahu selama lebih dari dua jam sebelum dilanjutkan berjalan kaki menuju gua.
KP Bambang memimpin sekitar 60 orang menggunakan dua perahu besar dan satu perahu kecil menuju lokasi tersebut.
Di Masigit Sela, rombongan melaksanakan wilujengan sekaligus pemasangan prasasti baru. Sebelumnya di lokasi itu hanya terdapat prasasti peninggalan era Pakubuwono X sekitar tahun 1930-an.
Sementara itu, prosesi inti pengambilan Sekar Wijayakusuma dilakukan di Pulo Majeti.
Pulau kecil di pesisir selatan Cilacap itu dikenal memiliki medan berat dengan ombak tinggi dan karang tajam.
“Perjalanan menuju Pulo Majeti harus menghadapi ombak lebih dari dua meter,” kata KP Bambang.
Makna Wijayakusuma dalam Tradisi Jawa
Dalam tradisi budaya Jawa, Kembang Wijayakusuma dipandang bukan sekadar bunga biasa.
Pegiat sejarah dan budaya Surakarta, R. Surojo, menjelaskan bahwa Wijayakusuma dalam lingkungan keraton dipahami sebagai simbol wahyu keprabon atau legitimasi kepemimpinan seorang raja.
“Seorang pemimpin harus melewati berbagai rintangan dan perjalanan berat sebagai simbol perjuangan memperoleh tanggung jawab besar,” ujarnya.
Menurutnya, pengambilan bunga Wijayakusuma menjadi perlambang bahwa kepemimpinan tidak diperoleh secara mudah.
Karena itu, ritual tersebut dipahami bukan sekadar seremoni adat, tetapi simbol perjalanan spiritual dan moral seorang pemimpin.
Namun demikian, pemaknaan tersebut berada dalam konteks budaya dan spiritualitas tradisional Jawa.
Jejak Sejarah Nusakambangan dan Donan
Selain memiliki dimensi budaya, ritual Wijayakusuma juga berkaitan dengan sejarah panjang kawasan selatan Jawa.
Menurut R. Surojo, wilayah Nusakambangan dan Donan sejak masa kerajaan Jawa dikenal sebagai kawasan strategis.
Dalam penelusuran sejarah, wilayah cikal bakal Cilacap pernah berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit, Adipati Pasir Luhur, hingga Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Setelah runtuhnya Pajajaran pada 1579 akibat serangan Kesultanan Banten dan Cirebon, sebagian wilayah kemudian berada dalam pengaruh Kerajaan Pajang dan selanjutnya Kesultanan Mataram.
Pada masa kolonial Belanda, kawasan Cilacap dan Donan juga berkembang menjadi wilayah penting dalam jalur perdagangan dan pertahanan.
Pembentukan Onder Afdeling Cilacap pada 1839 hingga peningkatan status menjadi Kabupaten Cilacap pada 1856 menunjukkan pentingnya kawasan tersebut dalam administrasi Hindia Belanda.
Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi
Pelaksanaan kembali ritual Miwaha Sekar Wijaya Kusuma menunjukkan bahwa tradisi keraton masih memiliki ruang di tengah kehidupan modern.
Kehadiran ratusan kerabat keraton, unsur pemerintah daerah, hingga masyarakat yang memadati jalur kirab menjadi gambaran bahwa tradisi budaya Jawa tetap menarik perhatian publik.
Di tengah dinamika internal keraton dan perubahan zaman, ritual tersebut menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya hidup dalam manuskrip sejarah, tetapi juga terus dijalankan dalam praktik nyata.
Bagi sebagian masyarakat, prosesi itu mungkin hanya tampak sebagai kirab budaya biasa.
Namun di balik perjalanan menuju Pulo Majeti dan Masigit Sela, tersimpan pesan panjang tentang sejarah, spiritualitas, kepemimpinan, dan identitas budaya Jawa yang terus dijaga hingga hari ini.*
Sebanyak 250 kerabat Keraton Surakarta mengikuti ritual sakral Miwaha Sekar Wijayakusuma di Pulo Majeti, Cilacap, pada era PB XIV Hangabehi. Tradisi langka yang sarat makna spiritual, budaya, dan sejarah Jawa ini kembali menjadi sorotan publik.