SURAKARTA, RIWARA.id – Tidak semua tradisi keraton dapat dilaksanakan kapan saja. Ada ritual tertentu yang hanya dilakukan dalam momentum khusus dan melalui tahapan yang penuh kehati-hatian. Salah satunya adalah ritual Miwaha Sekar Wijaya Kusuma yang kembali digelar di Cilacap pada Minggu Kliwon (3/5/2026).
Di balik prosesi yang tampak sakral itu, ternyata terdapat rangkaian laku spiritual panjang yang membuat ritual tersebut tidak dilakukan secara sembarangan.
Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, akhirnya menjelaskan makna di balik tradisi yang telah diwariskan sejak era raja-raja Surakarta tersebut.
Bukan Sekadar Ritual Budaya
Menurut Gusti Moeng, pengambilan Kembang Wijayakusuma bukan hanya prosesi adat, tetapi bagian dari laku spiritual yang memiliki tahapan dan tata cara tertentu.
Dalam tradisi keraton, ritual ini dijalankan dengan penuh penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur. Karena itu, setiap proses dilakukan secara hati-hati dan tidak dapat dipisahkan dari persiapan batin para peserta.
“Ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ada laku spiritual yang dijalankan sejak awal,” ujarnya kepada Riwara.id, kamis (7/5/2026).
Jejak Tradisi Sejak Masa Raja-Raja
Gusti Moeng menjelaskan bahwa ritual tersebut telah dikenal sejak masa Pakubuwono X hingga Pakubuwono XI.
Pada masa lalu, perjalanan menuju lokasi pengambilan bunga bahkan dapat memakan waktu hingga dua bulan. Rombongan utusan keraton berangkat dari Surakarta dengan melibatkan unsur Kepatihan, Sentana Dalem, hingga para pangeran.
Dalam penuturan yang berkembang di lingkungan keraton, para peserta menjalani laku prihatin selama perjalanan sebagai bagian dari persiapan spiritual.
Singgah dan Tirakat Sebelum ke Cilacap
Perjalanan tidak dilakukan secara langsung menuju pesisir selatan. Rombongan terlebih dah ulu singgah di beberapa wilayah seperti Magelang dan Gumelem di Banjarnegara.
Di lokasi tersebut, para peserta melakukan doa dan semedi sebelum melanjutkan perjalanan ke Cilacap.
“Setiap titik perjalanan memiliki makna tersendiri dalam tradisi,” kata Gusti Moeng.
Menunggu “Tanda” Sebelum Menuju Pulau
Setibanya di Cilacap, rombongan tidak serta-merta menuju Pulau Majeti, lokasi yang dikenal sebagai tempat pengambilan Kembang Wijayakusuma.
Dalam tradisi keraton, terdapat proses menunggu yang diyakini sebagai bagian dari tahapan ritual. Menurut Gusti Moeng, penyeberangan dilakukan setelah muncul “tanda-tanda” tertentu yang dalam perspektif budaya dipahami sebagai keselarasan antara manusia dan alam.
Pemaknaan tersebut berada dalam ranah tradisi dan spiritualitas budaya Jawa yang diwariskan turun-temurun di lingkungan keraton.
Medan Berat dan Risiko Perjalanan
Selain aspek spiritual, perjalanan menuju Pulau Majeti juga dikenal memiliki tantangan alam yang tidak ringan.
Pulau tersebut berada di kawasan pesisir selatan dengan ombak besar dan akses terbatas. Dalam praktik masa lalu, jalur menuju titik pengambilan bunga hanya menggunakan tangga bambu sederhana yang dipasang di area karang.
Kondisi tersebut membuat ritual membutuhkan kesiapan fisik dan kehati-hatian tinggi.
Dalam berbagai cerita tradisi yang berkembang di lingkungan keraton, perjalanan menuju pulau juga kerap dikaitkan dengan berbagai risiko akibat kondisi alam.
Simbol Kepemimpinan dalam Tradisi Jawa
Dalam perspektif budaya Karato n Surakarta Hadiningrat, Kembang Wijayakusuma memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan kepemimpinan, keselamatan, dan keberkahan.
Karena itu, ritual pengambilannya dipandang bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi bagian dari warisan nilai yang dijaga secara turun-temurun.
Namun demikian, pemaknaan tersebut berada dalam konteks budaya dan adat keraton.
Tradisi yang Tetap Dijaga
Pelaksanaan kembali ritual Wijayakusuma pada tahun 2026 dipandang sebagai bagian dari pelestarian budaya di era Paku Buwana XIV Hangabehi.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi tersebut tetap dijaga sebagai bagian dari identitas budaya Jawa yang memiliki akar sejarah panjang.
Bagi sebagian masyarakat, prosesi ini mungkin tampak sebagai ritual budaya biasa. Namun di lingkungan keraton, ia dipahami sebagai simbol kesinambungan nilai dan penghormatan terhadap warisan leluhur.*
Gusti Moeng mengungkap alasan ritual Wijayakusuma Keraton Surakarta tidak dilakukan sembarangan. Tradisi sakral di era PB XIV Hangabehi ini sarat laku spiritual dan sejarah panjang.