Merasa Diserang Hoaks, Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Zero Tolerance untuk Kekerasan Seksual

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:41 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar
Menteri Agama Nasaruddin Umar (Foto: kemenag.go.id)

 

RIWARA.id – Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan klarifikasi tegas terkait maraknya konten disinformasi dan hoaks di media sosial yang sengaja diframing untuk menyerang pribadinya.

Menag menegaskan bahwa dirinya tidak memberikan toleransi sedikit pun terhadap segala bentuk tindak kekerasan dan pelecehan, baik secara fisik, verbal, maupun seksual yang mencederai martabat kemanusiaan.

Informasi hoaks itu menyangkut kejadian kekerasan seksual oleh pimpinan Ponpes Ndolo Kusuma Pati, Kiai Ashari terhadap puluhan santriwatinya.

Dalam informasi yang beredar melalui medsos, muncul kutipan yang disebut sebagai pernyataan Menag bahwa kekerasan seksual (di pesantren) bukanlah dosa, tapi masalah nafsu dan itu tidak salah. Unggahan lain bahkan menyebut Menag menyatakan tidak ada pidana untuk masalah itu.

"Itu semua hoaks. Sikap saya terkait tindak kekerasan seksual itu jelas dan tegas. Tidak ada toleransi untuk tindak kekerasan seksual," ujar Menag di Jakarta, Rabu (6/5/2026). 

Ia menekankan bahwa perbuatan yang bertentangan dengan moralitas harus menjadi musuh bersama, bukan hanya dalam kapasitasnya sebagai pejabat negara, melainkan juga sebagai sesama manusia.

Menag juga menyoroti pentingnya lembaga pendidikan agama menjadi ruang aman dan bermartabat bagi seluruh peserta didik. Menurutnya, institusi pendidikan harus menjadi contoh masyarakat ideal yang melindungi anak-anak saat menimba ilmu. 

Untuk itu, Kementerian Agama telah memperkuat regulasi serta mekanisme pembinaan guna mengawasi kegiatan di satuan pendidikan keagamaan.

Sebagai langkah konkret, Kemenag telah membentuk satuan pembinaan Pondok Pesantren yang melibatkan kolaborasi antar-pimpinan pondok. Satuan ini bertugas melakukan pengawasan ketat serta mencegah segala bentuk penyimpangan yang berpotensi terjadi di lingkungan pesantren.

Fokus ini diambil untuk memastikan tidak ada celah bagi pelaku kekerasan di institusi pendidikan agama.

Di akhir pernyataannya, Menag mengajak masyarakat untuk cerdas dalam bermedia sosial dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi palsu. Ia meminta publik untuk melakukan penyaringan informasi sebelum membagikannya demi menjaga kedamaian. "Mari menjadi pemutus rantai hoaks dengan saring sebelum sharing," tandasnya.

 

Menteri Agama Nasaruddin Umar bantah hoaks media sosial dan tegaskan tidak ada toleransi bagi pelaku kekerasan seksual di lembaga pendidikan.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories