Membidik Bung Karno: Catatan Kelam 7 Percobaan Pembunuhan Sang Proklamator

Minggu, 26 April 2026 | 15:40 WIB
Ilustrasi percobaan pembunuhan Presiden Soekarno dibuat dengan bantuan AI
Ilustrasi percobaan pembunuhan Presiden Soekarno dibuat dengan bantuan AI (Foto: Ari Kristyono)

RIWARA.id – Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, bukan hanya seorang orator ulung dan proklamator, tetapi juga pemimpin yang paling banyak menjadi sasaran percobaan pembunuhan dalam sejarah Indonesia.

Setidaknya tujuh kali nyawa Bung Karno terancam dalam berbagai insiden, mulai dari pelemparan granat hingga serangan udara yang spektakuler.

Dalam buku "Maulwi Saelan: Penjaga Terakhir Soekarno", Maulwi Saelan—mantan Komandan Resimen Tjakrabirawa—mengungkapkan betapa sulitnya mengamankan Sang Presiden di tengah gejolak politik dan keamanan pada era 1950-an hingga 1960-an.

Ketegangan ideologi dan pemberontakan bersenjata saat itu membuat nyawa orang nomor satu di Indonesia tersebut menjadi taruhan setiap hari.

Berikut adalah kronologi tujuh upaya pembunuhan yang membidik Bung Karno:

1. Tragedi Granat Cikini (30 November 1957) Ini merupakan insiden paling mematikan. Saat Soekarno menghadiri perayaan ulang tahun ke-15 Perguruan Cikini, sekolah tempat anak-anaknya menuntut ilmu, sekelompok anggota DI/TII melemparkan granat. Soekarno selamat, namun serangan itu menewaskan lebih dari 10 orang dan melukai puluhan lainnya.

2. Percobaan Granat di Makassar (Januari 1957) Sebelum peristiwa Cikini, ancaman muncul saat kunjungan kerja ke Makassar. Pelaku mencoba melempar granat ke arah iring-iringan Presiden. Serangan meleset dan tidak ada korban jiwa, namun insiden ini menjadi peringatan keras bagi protokol keamanan.

3. Serangan Udara MiG-17 Daniel Maukar (9 Maret 1960) Insiden ini paling dramatis. Letnan Udara II AURI, Daniel Maukar, membajak pesawat tempur MiG-17 miliknya. Ia menukik tajam ke arah Istana Merdeka dan menembakkan kanon 23mm. Bung Karno selamat karena tidak berada di ruang yang ditargetkan. Maukar kemudian ditangkap dan diadili.

4. Serangan Mortir di Istana Bogor (1960) Tak lama setelah serangan udara Maukar, kelompok radikal mencoba membombardir Istana Bogor dengan mortir. Serangan ini gagal mencapai target utama, namun menunjukkan bahwa kediaman Presiden bukan lagi tempat yang sepenuhnya steril dari ancaman.

5. Granat di Makassar (1962) Kunjungan ke Makassar kembali menjadi titik rawan. Seorang pelaku melempar granat ke arah mobil yang ditumpangi Bung Karno. Granat meledak di luar jangkauan kendaraan, namun peristiwa ini menegaskan pola ancaman yang terus berulang.

6. Sniper di Lapangan Istana (14 Mei 1962) Saat memimpin Salat Idul Adha di halaman Istana Merdeka, seorang penembak jitu mencoba menembak Soekarno dari jarak dekat. Tembakan meleset karena sniper tersebut terburu-buru, dan peluru justru mengenai K.H. Idham Chalid yang berada tepat di belakang Bung Karno.

7. Granat di Jalan Rajawali (Desember 1964) Upaya terakhir yang tercatat terjadi saat iring-iringan Presiden melintas di Jalan Rajawali, Jakarta. Granat dilemparkan ke arah kendaraan. Lagi-lagi, serangan gagal mengenai target.

Refleksi Keamanan VVIP Sejarawan dari BRIN, Asvi Warman Adam, dalam berbagai kajiannya menyebutkan bahwa rentetan upaya pembunuhan ini mencerminkan betapa rapuhnya situasi politik saat itu. 

Menurutnya, serangan-serangan tersebut bukan sekadar kriminalitas, melainkan upaya kelompok ekstrem untuk memenggal kepala negara demi mengubah haluan politik nasional.

Pengalaman traumatis dari ketujuh insiden inilah yang menjadi cikal bakal transformasi sistem pengamanan Presiden di Indonesia. Jika pada masa Bung Karno pengamanan seringkali bersifat reaktif.

Kini Paspampres menerapkan prosedur sterilisasi dan deteksi dini yang jauh lebih ketat, belajar dari sejarah bahwa keselamatan seorang kepala negara adalah fondasi stabilitas nasional. (*)

Dari Granat Cikini hingga serangan MiG-17, simak kronologi 7 upaya pembunuhan terhadap Presiden Soekarno yang mencatat sejarah keamanan Indonesia.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories