RIWARA.id – “Abah itu tidak pernah beristirahat dalam menyimak dan memikirkan bangsa ini, saya sering menerima arahan, berdiskusi bahkan berdebat sengit dengan beliau,” tutur Ryamirzad Ryacudu, menantu almarhum Jenderal Try Sutrisno yang pernah menjabat KASAD dan Menteri Pertahanan RI.
Obrolan itu terjadi tahun 2010 ketika Ryamirzad, saat itu baru saja pensiun dari TNI dan sedang berada di Solo untuk menjadi pembicara dalam sebuah diskusi bertema kebangsaan.
Abah, demi kian Ryamirzad memanggil mertuanya, mengatakan di usia tua Try Sutrisno selalu mengikuti perkembangan situasi nasional bahkan global. Dan masih berusaha berkontribusi semampunya.
Salah satu fakta yang belum lama terjadi, April tahun lalu Try bersama ratusan purnawirawan TNI lainnya membuat pernyataan sikap sebanyak 8 butir kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, di antaranya saran untuk memakzulkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Try, sebagaimana diwawancari Tempo.co di kediamannya di Jakarta, menyebut dia menyerap aspirasi bukan hanya dari kalangan purnawirawan tetapi juga masyarakat sipil.
“Anda lihat isinya. Itu semua masalah pokok semua. Itu semua masalah berat. Kalau saudara orang Indonesia baca itu, kalau ini enggak diberesin, rusak negara,” kata Try Sutrisno.
Jenderal Bertangan Dingin
Media menyebut Try Sutrisno sebagai pimpinan TNI pertama yang tidak menyandang bintang gerilya, menunjukkan lahirnya generasi baru.
Meski bukan seorang prajurit tempur, lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) ini terbukti mampu menghadapi beberapa badai besar yang dihadapi ABRI (sebutan untuk TNI yang masih bersama Polri).
Try membuktikan diri mampu menghadapi dan menyelesaikan dengan baik tragedi Tanjung Priok di tahun 1984, ketika dia menjabat Pangdam Jaya.
Saat itu, Soeharto biasanya mencopot pimpinan militer dan Polri yang wilayahnya mengalami gejolak. Namun Try lolos bahkan kariernya terus menanjak mulai dari Wakasad, Kasad hingga menjadi Panglima ABRI pada tahun 1988-1993.
Saat itu, kembali terjadi peristiwa besar yang dampaknya internasional, yakni Tragedi Santa Cruz di Timor Leste yang saat itu masih bernama Timor Timur, provinsi ke-2 7 Republik Indonesia.
Tidak tampak reaksi berlebihan dari Try Sutrisno atas insiden yang mencoreng nama ABRI hingga ke forum internasional itu. Tak lama setelahnya, saat kunjungan kerja di Karanganyar, dia menjawab pertanyaan wartawan dengan tetap tersenyum dan sikap optimistis.
“Kita hadapi, kita selesaikan bersama-sama. ABRI akan terus melakukan yang terbaik untuk rakyat, untuk bangsa dan negara,” ujarnya.
Sejarah mencatat, Try pada tahun 1993 terpilih menjadi Wakil Presiden, dan menjalankan tugasnya dengan baik meski beredar rumor dia bukanlah Wapres yang diinginkan oleh Soeharto.
Try bahkan selalu memberikan dukungan moril ketika Soeharto jatuh pada 1998 dan ditinggalkan oleh lingkaran orang-orang terdekatnya.
Sebaliknya, dia legawa menjauhi ambisi untuk b erkuasa ketika muncul suara-suara dukungan untuk tetap menjadi Wapres pada periode 1998, bahkan setelah Orde Baru tumbang juga ada suara mendukung dia untuk menjadi Presiden.
Hari ini, Jenderal bertangan dingin itu telah berpulang dalam kedamaian. (*)
Ari Kristyono


Catatan wartawan tentang sosok almarhum Try Sutrisno, Wapres ke-6 dan mantan Panglima ABRI yang bertangan dingin namun selalu berkontribusi