JAKARTA, RIWARA.ID– Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih bertahan di jajaran empat besar survei elektabilitas calon presiden (capres). Di tengah berbagai kritik dan kontroversi politik yang mengiringi perjalanan kariernya, nama Gibran tetap diperhitungkan dalam peta persaingan menuju Pilpres 2029 mendatang.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, menilai tingginya popularitas menjadi salah satu faktor yang membuat Gibran tetap berada di jajaran atas survei capres.
Tingkat pengenalan masyarakat terhadap putra Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah tokoh politik lainnya.
Menurut Adi, popularitas Gibran telah menembus angka 90 persen. Sementara itu, tingkat pengenalan publik terhadap sejumlah figur nasional lain masih berada di kisaran 70–80 persen.
“Kita tahu popularitas Mas Wapres ini kan juga cukup signifikan, kan, di atas 90 persen. Dibandingkan dengan yang lain masih 80–70 persen, itu kan nggak merata sebaran pengetahuan publiknya,” ujar Adi di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Popularitas Gibran Jadi Modal dalam Survei Capres
Adi menjelaskan, tingkat pengenalan masyarakat terhadap seorang tokoh politik menjadi salah satu faktor penting dalam survei elektabilitas. Hal ini terutama terlihat ketika responden diminta menyebutkan nama calon presiden secara spontan atau melalui simulasi top of mind.
Tokoh yang lebih dikenal luas oleh masyarakat cenderung lebih mudah muncul dalam jawaban responden. Sebaliknya, figur yang belum memiliki tingkat popularitas merata berpotensi tidak banyak disebut, meskipun memiliki basis pendukung tertentu.
Faktor tersebut, menurut Adi, ikut menjelaskan mengapa nama Gibran masih bertahan di kelompok teratas survei capres. Kondisi ini terjadi meskipun Wakil Presiden tersebut terus menghadapi kritik dan polemik politik.
Adi juga menyoroti intensitas kritik yang diarahkan kepada Gibran. Menurutnya, situasi tersebut bukan hal baru karena sorotan terhadap putra Jokowi itu sudah muncul sejak proses pencalonan pada Pilpres 2024.
“Ya, kalau serangan memang kelihatan fokus ke Gibran itu bukan perkara aneh, ya. Karena memang sejak pencalonan di 2024, serangan itu kan bertubi-tubi,” katanya.
Elektabilitas Gibran Belum Sebanding dengan Popularitas
Meski tingkat pengenalan publik terhadap Gibran tergolong tinggi, Adi mengingatkan bahwa popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan elektabilitas.
Dengan kata lain, dikenal oleh sebagian besar masyarakat belum tentu membuat seorang tokoh otomatis mendapatkan dukungan suara yang sama besarnya.
Menurut Adi, posisi Gibran dalam survei menunjukkan masih adanya tantangan untuk mengubah popularitas menjadi pilihan politik masyarakat.
“Jadi wajar kalau kemudian Wapres itu masuk lima besar. Cuma kalau dilihat dari popularitasnya yang tinggi, lima besar, ya artinya apa? Bahwa yang tahu terhadap Wapres itu ya ternyata tidak dominan yang milih, kira-kira begitu,” ujar Adi.
Selain tingkat popularitas, preferensi pemilih juga dapat dipengaruhi oleh berbagai isu dan sentimen politik. Adi menyinggung kontroversi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai salah satu isu yang berpotensi memengaruhi penilaian masyarakat terhadap Gibran.
Karena itu, posisi Gibran dalam survei tidak cukup dibaca hanya dari seberapa banyak masyarakat mengenalnya. Besarnya dukungan nyata dari pemilih tetap menjadi faktor penting dalam mengukur peluang seorang tokoh untuk bersaing dalam pemilihan presiden.
Gibran Tempati Posisi Keempat dalam Dua Survei Capres
Posisi Gibran di empat besar terlihat dalam hasil survei sejumlah lembaga yang dirilis pada Oktober 2026.
Survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis pada Minggu, 18 Oktober 2026, menempatkan Gibran di urutan keempat dengan elektabilitas sebesar 6,9 persen. Angka tersebut diperoleh melalui simulasi pertanyaan terbuka atau top of mind.
Hasil yang relatif serupa muncul dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama calon presiden, Gibran memperoleh elektabilitas sebesar 8,4 persen dan menempati posisi keempat. Ia berada di bawah Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto.
Survei SMRC tersebut dilaksanakan pada 1–10 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 responden.
Hasil dari kedua survei itu menunjukkan bahwa Gibran masih menjadi salah satu figur yang diperhitungkan dalam bursa capres. Namun, tingkat elektabilitasnya juga memperlihatkan bahwa popularitas yang tinggi belum sepenuhnya berubah menjadi dukungan pemilih.
Dengan demikian, tantangan Gibran ke depan bukan sekadar mempertahankan tingkat pengenalan publik, melainkan juga membangun kepercayaan dan memperluas dukungan politik di tengah dinamika serta kontroversi yang masih mengiringinya. ***
Popularitas Gibran Rakabuming Raka masih bertahan di empat besar survei capres Oktober 2026. Pengamat menilai tingkat pengenalan publik di atas 90 persen menjadi faktor utama.