RIWARA.id - Anggota Komisi II DPR RI, Ahmad Irawan, mengingatkan pejabat publik agar selalu memperhatikan ucapan yang dikeluarkan di hadapan publik.
Dilansir dari DPR.go.id, apalagi kondisi sekarang ini, sejumlah wilayah Indonesia sedang banyak terjadi masalah dan bencana seperti kebakaran hutan, banjir badang, gempa bumi sampai kelangkaan BBM.
Irawan ingin pejabat publik bisa menunjukkan empati dan sensitivitas saat berkomunikasi di hadapan publik dan masyarakat.
Pernyataan ini disampaikan setelah viralnya perkataan Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran yang menuai sorotan serta kecaman netizen di media sosial.
"Memang adanya karhutla memberikan dampak negatif ke masyarakat, ke perekonomian, dan sebagainya. Harusnya komunikasi pejabat publik memiliki empati. Bisa memahami dan merasakan emosi dan perasaan orang lain, apalagi bagi yang terdampak langsung dengan karhutla," ujarnya.
Irawan mengatakan peristiwa karhutla sudah memberikan dampak negatif kepada masyarakat, baik dari segi kehidupan sosial, kesehatan sampai ekonomi lokal.
Karena setiap pernyataan yang keluar dari pejabat publik, terutama kepala daerah harus bisa mempertimbangkan kondisi psikologis warga yang sedang berjuang melawan asap kebakaran.
Beberapa masyarakat bahkan sudah mengeluh terkena penyakit ISPA dan mata yang perih.
Atas dasar itu, Irawan menegaskan alih-alih melontarkan candaan yang sensitif, seorang pejabat publik harus bisa memberikan ketenangan dan membangun optimisme masyarakat.
"Sebaiknya kepala daerah kita membangun optimisme kepada masyarakat kebakarannya akan padam," katanya.
Ucapan Gubernur Kalteng yang membuat publik marah harus bisa menjadi pelajaran berharga bagi seluruh kepala daerah di Indonesia dalam menjaga etika komunikasi di tengah bencana.
Viral di Media Sosial
Sebelumnya, beredar video di media sosial terkait ucapan Gubernur Kalimantan Selatan, Agustiar Sabran yang membahas penanganan karhutla yang menjadi viral.
Dalam rekaman tersebut, Agustiar menjelaskan terkait pemicu karhutla yang 97% berasal dari ulah manusia.
Tapi, dirinya juga menyisipkan perkataan plesetan pribahasa "bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi" yang dinilai mencederai empati masyarakat terdampak.
Netizen, tokoh masyarakat dan pengamat komunikasi langsung mengecam perkataan tersebut yang dinilai tidak peka terhadap situasi krisis yang sedang dialami oleh masyarakat.
Di tengah ancaman gangguan pernapasan (ISPA) dan ekonomi yang terhenti, pejabat publik harus bisa peka dan tidak mengeluarkan kata-kata yang menyakiti atau membuat masyarakat marah.
Pejabat terkait harus menghadirkan solusi nyata dibandingkan mengeluarkan kalimat yang tidak perlu.
Semoga Bermanfaat.***
Sebelumnya, beredar video di media sosial terkait ucapan Gubernur Kalimantan Selatan, Agustiar Sabran yang membahas penanganan karhutla yang menjadi viral.