RIWARA.id — Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai sela-sela Tingalan Jumenengan Dalem ke-4 Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng (SIJ) KGPAA Mangkunegara X di Pura Mangkunegaran, Selasa (27/1/2026).
Momen tersebut menjadi sorotan ketika PB XIV Hangabehi tampak akrab berbincang dengan Mangkunegara X (Gusti Bhre) dan GKBRAA Paku Alam.
Berdasarkan pantauan di lokasi, ketiganya terlihat berbincang santai di tengah prosesi adat yang khidmat.
Keakraban tersebut mencerminkan hubungan kekeluargaan yang erat antarpemimpin tradisi Jawa, sekaligus menegaskan semangat persatuan lintas keraton.
Baca juga: PB XIV Hangabehi Tampil Berwibawa di Tingalan Jumenengan Mangkunegara X
Saat ditemui riwara.id, PB XIV Hangabehi, Raja Karaton Surakarta, mengungkapkan isi perbincangannya dengan Mangkunegara X. Dalam percakapan tersebut, Gusti Bhre menyampaikan kesamaan hobi yang mencairkan suasana.
“Gusti Bhre mengatakan kepada saya, ‘hobi kita sama’—nongkrong, wedangan, sambi l tertawa,” ungkap PB XIV Hangabehi.
Selain itu, PB XIV Hangabehi juga mengungkapkan pembicaraannya dengan GKBRAA Paku Alam.
Dalam kesempatan tersebut, GKBRAA Paku Alam menyampaikan bahwa Kanjeng Gusti Mangkunegara X kerap berkunjung ke Kadipaten Pakualaman untuk berdiskusi dan meminta nasihat, terutama terkait pelestarian nilai-nilai budaya.
PB XIV Hangabehi menegaskan pentingnya memperkuat sinergi antarkeraton sebagai satu keluarga besar.
“Saya sampaikan agar ke depan kita saling mendukung antara Karaton Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman dalam semangat Catur Sagotra,” ujarnya.
Catur Sagotra merupakan istilah yang merujuk pada empat penerus Dinasti Mataram Islam—Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman—sebagai satu keluarga besar (gotra) yang terhubung melalui sejarah dan leluhur yang sama.
Konsep ini menjadi wadah silaturahmi untuk mempererat persaudaraan serta melestarikan warisan budaya Mataram Islam.
Dalam praktiknya, semangat Catur Sagotra diwujudkan melalui berbagai kegiatan kebudayaan, termasuk pagelaran seni adiluhung seperti Tari Bedhaya, karawitan, dan tradisi istana lainnya yang menjadi simbol kesinambungan nilai Mataram Islam hingga kini.
PB XIV Hangabehi juga mengungkapkan kedekatan personalnya dengan putra GKBRAA Paku Alam X, yang terjalin karena kesamaan minat.
“Saya sangat dekat dengan putra GKBRAA Paku Alam X karena sama-sama penghobi dan pecinta pusaka keris,” ungkapnya secara eksklusif.
Momen keakraban ini memperlihatkan bahwa Tingalan Jumenengan Dalem Mangkunegara X tidak hanya menjadi peristiwa se remonial, tetapi juga ruang dialog budaya dan penguatan persaudaraan antarpenerus Dinasti Mataram Islam.
Di tengah tantangan zaman, pesan persatuan Catur Sagotra yang disampaikan PB XIV Hangabehi menjadi penegasan bahwa harmoni, silaturahmi, dan pelestarian budaya merupakan fondasi utama keberlanjutan peradaban Jawa.
PB XIV Hangabehi ungkap keakraban dengan Mangkunegara X dan Paku Alam di Jumenengan, bahas persatuan Catur Sagotra.