RIWARA.id – Aktivis, seniman, dan budayawan di Kota Surakarta berkumpul menggelar gerakan konsolidasi kultural demi memicu perubahan radikal atas situasi peradaban Indonesia saat ini. Pertemuan lintas generasi dalam Sarasehan Budaya dan Kebangsaan tersebut menyoroti matinya gerakan pasca-Reformasi yang gagal menyentuh akar persoalan bangsa.
Acara yang mengusung tema “Napak Tilas Jejak Sejarah Kebangkitan Nasional dari Solo: Membentuk Lapis Sosial Baru Penggerak Perubahan Besar dan Mendasar Indonesia” ini berlangsung di Rumah Banjarsari, Surakarta, Jumat (10/7/2026) siang. Tiga elemen utama, yakni Pergerakan Abhipraya Mandala Nusantara, Komunitas Aktivis Lintas Generasi, dan Rumah Banjarsari bertindak sebagai inisiator forum tersebut.
Kegelisahan kolektif yang mendalam terhadap kondisi sosial-politik nasional menjadi pemantik utama berkumpulnya para penggerak arus bawah ini. Mereka menilai peradaban Indonesia saat ini telah mencapai tahap pembusukan akut yang mustahil disembuhkan hanya dengan pendekatan bertahap, normatif, atau sekadar kompromi politik praktis.
Oleh karena itu, forum menegaskan urgensi lahirnya lapis sosial baru sebagai antitesis total terhadap konstruksi sosial lama yang korup. Gerakan ini dirancang untuk membawa kesadaran, ideologi, serta paradigma segar yang benar-benar bersih dari beban sejarah masa lalu demi menata ulang Indonesia.
Budayawan Solo sekaligus pembicara utama, Ki Jlitheng Suparman, membedah situasi ini lewat kacamata visioner Raden Ngabehi Ronggowarsita. Merujuk pada karya sastra legendaris seperti Serat Kalatidha, Sabda Tama, dan Jaka Lodhang, ia memaparkan teori siklus zaman yang melingkupi kalasuba, kalatidha, hingga kalabendu.
Ki Jlitheng menegaskan bahwa kondisi karut-marut saat ini merupakan fase "patahan sejarah". Fase krusial ini tidak hanya menandai kehancuran peradaban lama yang rapuh, melainkan juga membuka celah lebar dan peluang emas bagi penataan ulang tata kehidupan baru yang lebih adil.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar peradaban baru yang akan dibangun kelak memiliki fondasi spiritual dan intelektual yang kukuh. Fondasi tersebut penting agar sejarah kelam tidak berulang, sekaligus menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk segera mengubah kegelisahan verbal menjadi aksi nyata yang berdampak.
Pada sesi berikutnya, aktivis senior Solo, Prijo Wasono, menguliti anatomi gerakan rakyat serta strategi taktis untuk mengonsolidasikan kembali kekuatan nasional. Ia mengingatkan audiens tentang peran historis Solo yang selalu menjadi pusat episentrum pergerakan sejak zaman Kerajaan Surakarta hingga menjelang kemerdekaan.
Prijo melemparkan kritik tajam terhadap arah gerakan pasca-Reformasi 1998 yang dinilai telah kehilangan taji dan terjebak dalam lingkaran formalitas. Menurutnya, reformasi terbukti gagal menyentuh problematik mendasar di akar rumput, sehingga ruang kekuasaan negara, ekonomi, dan kebudayaan justru dicengkeram erat oleh sistem kapitalisme dan oligarki.
Guna mendobrak kebuntuan tersebut, Prijo menyerukan pembentukan kekuatan masyarakat sipil baru yang memiliki karakter jauh lebih radikal, visioner, dan progresif dibanding corak gerakan sipil yang ada hari ini. Lapis sosial baru ini wajib mandiri dan melepaskan diri dari segala sandera politik masa lalu jika serius ingin merombak struktur kekuasaan.
Diskusi yang dipandu oleh Zen dari Rumah Banjarsari ini berlangsung dinamis dan menjadi ruang dialektika yang sangat heterogen. Berbagai pemikiran tajam berkelebat di antara para aktivis, seniman, serta budayawan yang hadir memenuhi ruang pertemuan hingga sore hari.
Sang moderator menegaskan kembali status historis Kota Solo yang pernah membidangkan nasionalisme radikal hingga melahirkan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Di tengah turbulensi zaman yang kian tidak menentu, panggilan sejarah tersebut kini kembali menggema untuk mengulang kejayaan gerakan perbincangan politik dari Solo.
Sebagai langkah konkret, forum menyepakati bahwa sarasehan budaya ini akan diubah menjadi agenda diskusi rutin yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Konsolidasi pikiran ini diharapkan mampu menghimpun dan mengkristalkan kekuatan sosial baru yang revolusioner, meneladani api perjuangan para tokoh bangsa terdahulu seperti Ronggowarsita, Paku Buwono X, hingga Soekarno.
Aktivis dan budayawan Solo gelar konsolidasi di Rumah Banjarsari, serukan pembentukan lapis sosial baru demi rombak total oligarki.