Tidak Semua Orang Bisa Membuat Rengginan Gunungan Grebeg Besar Karaton Surakarta

Rabu, 27 Mei 2026 | 23:35 WIB
Warga memperebutkan Gunungan Estri berisi rengginan dalam prosesi sakral Grebeg Besar Iduladha 2026 di Karaton Surakarta Hadiningrat yang diselenggarakan Pakubuwono XIV Hangabehi sebagai simbol berkah kelimpahan dan pelestarian budaya Jawa
Warga memperebutkan Gunungan Estri berisi rengginan dalam prosesi sakral Grebeg Besar Iduladha 2026 di Karaton Surakarta Hadiningrat yang diselenggarakan Pakubuwono XIV Hangabehi sebagai simbol berkah kelimpahan dan pelestarian budaya Jawa (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

SURAKARTA, RIWARA.id – Di balik megahnya prosesi Grebeg Besar Iduladha 2026 Karaton Surakarta Hadiningrat, terdapat tradisi kuliner sakral yang masih dijaga hingga kini, yakni pembuatan rengginan untuk Gunungan Estri.

Tidak semua orang mampu membuat rengginan khas Karaton tersebut karena proses pembuatannya dilakukan secara turun-temurun oleh abdi dalem yang memiliki keahlian khusus.

Dalam tradisi Grebeg Besar yang diselenggarakan oleh Pakubuwono XIV Hangabehi, Gunungan Estri menjadi simbol kelimpahan pangan dan kesejahteraan.

Gunungan tersebut berbentuk tumpul dan dipenuhi rengginan berbahan dasar beras ketan yang disusun rapi hingga membentuk gunungan besar.

Pembuatan rengginan ternyata membutuhkan proses panjang dan ketelitian tinggi. Tahap awal dimulai dari memasak beras ketan menggunakan dandang tradisional hingga mencapai tingkat kematangan tertentu.

Setelah itu, ketan dicetak satu per satu sebelum memasuki proses penjemuran yang menjadi tahap paling menentukan kualitas rengginan.

Penjemuran biasanya membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima hari tergantung kondisi cuaca dan panas matahari.

Jika matahari tidak cukup terik, proses pengeringan bisa berlangsung lebih lama agar tekstur rengginan tetap sempurna saat digoreng.

Usai dijemur, rengginan kemudian digoreng hingga renyah sebelum dironce dan disusun menjadi bagian dari Gunungan Estri.

Tidak mudah menghasilkan rengginan khas Karaton Surakarta karena diperlukan rasa dan teknik khusus agar teksturnya tidak terlalu lembek namun juga tidak terlalu keras.

Keahlian tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian tradisi Grebeg Besar Karaton Surakarta Hadiningrat.

Dalam prosesi Grebeg Besar, Gunungan Estri bersama Gunungan Jaler akan dikirab menuju Masjid Agung Surakarta sebelum diperebutkan masyarakat yang percaya isi gunungan membawa berkah dan kemakmuran.

GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng sebelumnya menjelaskan bahwa Grebeg Besar merupakan tradisi sakral Karaton dalam memperingati Hari Raya Iduladha yang telah berlangsung turun-temurun.

Tradisi tersebut bukan hanya menjadi ritua l budaya, tetapi juga ruang pelestarian kuliner tradisional Jawa yang terus hidup di tengah perkembangan zaman modern.*

 

Pembuatan rengginan untuk Gunungan Estri Grebeg Besar Karaton Surakarta ternyata tidak bisa dilakukan sembarangan dan diwariskan turun-temurun.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories